
Sedangkan Asqia masih tersenyum menyeringai melihat mobil Ferdian yang sudah semakin menjauh darinya. Entahlah dia memikirkan apa, hanya dia yang tau.
"Lihat saja nanti!" Qia dengan senyuman menyeringai, menatap kepergian mobil Ferdian.
Kini Ferdian sudah selesai mengecek barang-barang di bagian gudang dan melihat hasil laporan.
Selesai dari gudang, Frozen food. Ferdian mengecek usaha milik pak Hamzah yang di bagian pabrik pembuat olahan coklat.
"Kenapa Zul, ko bisa coklat itu bisa di balik kan hampir semua. Kendalanya ada di mana?" tanya Ferdian melihat setumpuk box yang terisi banyak coklat.
"Kami juga tidak tau pak." Jawab seorang pengawas di bagian pengiriman, bernama Zul.
"Kalian sudah cek belum?" tanya Ferdi dengan wajah dingin. "Coba yang di kardus kecil itu, buka! Saya ingin lihat kenapa barang itu di kembalikan!" sambil menunjuk box berukuran kecil.
Dua orang karyawan membuka box yang Ferdian perintah kan. Seluruh karyawan terlihat tegang, melihat Ferdi bicara.
Saat di buka, Ferdian melihat barang-barang tersebut sebagian ada yang patah, dan kemasannya yang kurang rapih.
Selesai melihat barang-barang yang di kembalikan, Ferdian mengumpulkan para karyawan untuk meeting. Untuk membahas masalah yang harus di perhatikan.
Kini Ferdian duduk di hadapan para karyawan, terlihat para karyawan terlihat sangat tegang.
"Yuk kita mulai! Di sini kita lihat ya, barang-barang yang di Sepertinya tumpukan ini terlalu tinggi, membuat isinya ada yang patah. Saya minta ini di kurangi tumpukan nya, jangan seperti ini! Usahakan lebih rapih lagi tata barang nya!" ucapan Ferdian di angguki oleh karyawan.
"Bagian kemasan di finishing, itu harus lebih di perhatikan lagi. Kerapihan kemasan juga harus di lihat, yang seperti ini jangan di kirim, sudah pasti akan di kembalikan karena tidak rapih. Bagi karyawan baru, harus di ajarin dengan sabar. Agar bisa di lihat kalau hasil mereka sudah baik."
"Siap pak," jawab para karyawan.
"Di sini yang kita butuhkan kerja sama dari setiap divisi. Jangan sendiri-sendiri, kalian harus tetap kompak."
"Kalian ingat beberapa bulan lalu, membuat kita terkejut, bahwa pengiriman barang dari luar pulau Jawa di batalkan, hingga kita merugi sangat besar. Saya sangat ingat bagaimana kerja keras kalian harus bekerja lembur hampir tiap hari. Tapi ternyata, hasilnya di luar ekspektasi kita kan? Hingga kita harus menjual barang-barang kita ke event, dan ke orang sekitar dan di jual dengan keuntungan sangat tipis," jelas Ferdian, membuat semua karyawan mendengar kan dengan baik.
"Saya juga minta kalian harus kompak, karena hasilnya nanti untuk kita sama-sama. Bukan hanya untuk pemilik usaha ini saja, yang menikmati hasilnya, kalian pun juga sama. Pastinya kalian nanti akan mendapatkan bonus, jika kerja kalian sudah maksimal."
Mendengar kata bonus para karyawan sangat bersemangat, dan terlihat senang
Selesai, mengurus masalah di pabrik tersebut, Ferdian pun berpamitan kepada seluruh karyawannya. Ferdi merasa kepalanya tiba-tiba terasa pusing, tubuhnya seperti menggigil.
Sejak tadi mengecek barang-barang, Ferdian meminta Joddy untuk menemaninya untuk ke pabrik milik ayahnya.
__ADS_1
Selama di mobil pun, Ferdian hanya bersandar sambil memejamkan mata. Joddy yang melihatnya, sedikit cemas, dengan kesehatan bos nya.
"Mau ke dokter Bos?"
Ferdian menggelengkan kepalanya. "Gak, kita pulang saja. Aku hanya ingin istirahat aja Jo." Jawab Joddy memijat keningnya.
Joddy pun mengendarai mobil, menuju kerumah bos nya. Saat dalam perjalanan, Ferdian mendapatkan sebuah pesan masuk dari handphone miliknya.
My lovely. "Mas, aku tidak di rumah. Bunda meminta ku menemaninya. Maaf aku baru sempat izin ke kamu,"
Ferdian pun tersenyum saat membacanya.
"Iiihhh ... tega banget. Masa aku gak di ajak, padahal aku sedang ingin bermanja-manja dengan kamu loh," Ferdi membalas pesan istrinya.
My lovely. "Maaf ya my hubby. Aku juga kebetulan jenuh jika di rumah. Kebetulan bunda ngajak, ya aku sangat senang. Aku juga sama mbak dan Zio ko,"
"Iya gak papa.You're happy, I'm happy too, honey," bales Ferdian.
Setelah membalas pesan, Ferdian menyimpan kembali alat gawai nya.
Setelah sampai rumah, Ferdian masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Bukannya beristirahat, Ferdi justru ke ruang kerjanya. Namun sebelumnya, ia ke dapur untuk memesankan kopi, ke Bu Yeti.
"Siap Den, nanti ibu antar." Jawab Bu Yeti seraya menganggukkan kepalanya.
"Terimakasih ya Bu,"
Setelah mengatakan itu Ferdian berjalan menuju ruangan kerja. Baru saja membuka hasil laporan, terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk!" Kata Ferdian.
Saat pintu terbuka, pandangan Ferdian masih fokus dengan laptop miliknya.
"Ini kopi nya kak," mendengar bukan suara Bu Yeti, Ferdian segera mengangkat kepalanya dan melihat jika adik iparnya yang mengantarkan kopi miliknya.
Ferdian pun terkejut jika Asqia lah yang ada di hadapannya dengan penampilan nya menggunakan dress selutut, berwarna hitam. Pakaian tersebut terlihat sangat mini, membuat bagian atasnya terbuka. Pandangan tersebut membuat Ferdi merasa tidak nyaman.
"Qia kenapa kamu yang antar, kemana Bu Yeti? Saya memintanya untuk mengantar kopi saya, bukan kamu!"
"Bu Yeti sedang sibuk di dapur, mangkanya saya membantunya untuk mengantarkan kopi kamu kesini." Jawab Qia dengan sikap genit dan senyuman menggoda.
__ADS_1
"Yasudah kalau begitu, terimakasih. Sekarang kamu bisa pergi dari ruangan saya !"
"Di minum dulu kak, kopi nya. Aku sudah membawa minuman itu kesini loh, masa tidak dihargai sih," Qia berlaga kecewa, membuat Ferdian membuang nafasnya dengan kasar.
Ferdian pun meminum kopi yang di bawa oleh Asqia untuknya. Setelah di minum, cangkir itu di letakkan di atas meja.
"Karena sudah saya minum, sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya !"
"Iya deh, aku keluar." Qia dengan bibir cemberut.
Namun saat baru melangkah, Qia tiba-tiba berteriak, lalu melompat ke pangkuan Ferdian yang posisinya masih duduk di kursi kerjanya.
Qia memeluk erat Ferdian, dan membuatnya tidak bisa melepaskan tangan Asqia.
"Aaaa ... kak Ferdian!" Asqia memeluk Ferdy.
"Qia lepas, apa-apaan si seperti! Lagian gak ada papa juga!" Ferdian dengan kesal.
"Itu kak, ada cicak." Qia masih tak melepaskan tangannya.
Ferdian berusaha melepaskan tangannya Qia dari lehernya, dan akhirnya berhasil di lepas olehnya.
"Mana gak ada cicak, sekarang kamu bisa keluar dari ruangan saya! Ingat ya, saya ini suami kakak kamu, jadi jangan kurang ajar!" Kata Ferdian dengan wajah memerah terlihat marah.
"Iya kak, aku gak bermaksud kurang ajar. Aku beneran takut ada cicak tadi," Qia dengan wajah menunduk.
Tidak lamanya Joddy dan Kinan pun datang, bertapa terkejutnya mereka saat melihat Qia juga berada di ruang kerja Ferdian.
"Kak Qia, ngapain di sini?" tanya Kinan dengan tatapan menyelidik.
"Gak ngapa-ngapain ko. Aku tadi habis mengantarkan kopi untuk kak Ferdy aja.
"Kinan, kamu bawa kakak kamu dari sini. Saya tidak ingin ruang saya ada orang lain masuk sembarangan !" Ferdian dengan menahan emosinya.
"Ii_ _ iya, maafkan kak Qia ya KA Ferdi!" ucap Kinan merasa tak enak hati.
Ferdian pun mengangguk, lalu menoleh kearah lain. Sedangkan Kinan segera membawa Qia keluar dari ruangan tersebut.
Bersambung ....
__ADS_1