Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Mendiami istrinya


__ADS_3

Setelah mengatakan itu, Asqia langsung meninggalkan ibunya dengan rasa kesalnya. Sedangkan Bu Hesti yang masih berdiri sambil memandang putrinya pergi, hanya menggelengkan kepalanya saja.


'Semoga Qia tidak membuat ulah.'


Bu Hesti dan anak-anaknya berpamitan kepada keluarga Ferdian untuk pulang. Terlihat wajah Asqia dengan bibir cemberut, karena dirinya tak ingin kembali kerumahnya.


"Ka Ferdian kita pamit ya. Ow iya boleh kan, kalau suatu saat aku main kesini?" tanya Asqia secara gamblang.


Noval dan Bu Hesti menatap Asqia dengan tatapan menyelidik.


"Ya, kapanpun kalian main, pintu akan selalu terbuka untuk kalian."Jawab Ferdian dengan senyuman, dan itu membuat Qia tersenyum kegirangan.


"Terimakasih Kak," Ferdian mengangguk.


Entah kenapa perasaan Erina merasa tidak enak dengan ucapan Asqia, dan senyumannya itu. Namun dirinya segera menepisnya.


Kini Bu Hesti dan Noval dan Qia sudah meninggalkan rumah Ferdian. Kini Ferdi membawa istrinya masuk kedalam untuk beristirahat.


Dua Minggu kemudian kondisi Erina sudah semakin membaik. Membuat Ferdian merasa lega melihat kondisi istrinya membaik.


Saat malam hari, Ferdian dan Erina berada di dalam kamar. Sekarang sudah menjadi rutinitas sehari-hari sebelum tidur mereka saling membuka obrolan, agar mereka bisa saling berbagi cerita keseharian mereka.


"Eeuuummm ... Mas, aku ingin mengatakan sesuatu?" Ferdian menatap wajah istrinya yang terlihat serius."Boleh tidak aku menemui Damar di tahanan?"


Seketika senyuman Ferdian pun memudar mendengar istrinya menyebutkan nama mantan suaminya.


Kamu mau menemuinya? Aku enggak salah dengar, dengan apa yang dia sudah lakukan ke kamu?"Tanya Ferdian dengan nada bicara yang tak enak di dengar oleh Erina.

__ADS_1


"Aku tidak izinkan kamu sampai menjenguknya. Cukup kejadian kemarin saja, kamu sakit dan terluka. Apa kamu tidak ingat itu, apalagi kamu baru sehat ..." Ferdian menghentikan bicaranya.


"Mas aku hanya ingin menjenguk dia saja, boleh kan ? Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sama dia,"


"Menjenguk dia, dengan apa yang dia sudah lakukan ke kamu?" tanya Ferdian dengan tatapan serius.


Erina diam dengan jawaban yang di katakan Ferdian. "Aku nggak akan mengijinkan kamu keana. Aku terus teringat dengan kejadian yang sudah dia lakukan ke kamu. Bahkan dia tega membunuh kamu, yang tak lain wanita yang sudah pernah bersamanya, ibu dari putranya." Jelas Ferdian, sambil menatap langit yang gelas.


"Tapi jika kamu kekeh dan memaksa ingin kesan, terserah itu hak kamu!" Jawab Ferdian dengan nada dingin, membuat Erina tertegun mendengarnya.


Setelah mengatakan itu Ferdian langsung ke luar balkon, meninggalkan Erina yang masih berada di kamarnya.


Ferdian berdiri menatap langit yang terlihat gelap. Sebenarnya tubuhnya saat ini merasa lelah,dan ingin segera beristirahat dan bermanja dengan istrinya. Namun nyatanya Erina malah membahas Damar di hadapan, dan itu membuat moodnya menjadi tidak baik.


Erina pun menghampiri suaminya, entah kenapa dirinya merasa bersalah karena terlihat Ferdian menghindar dan terlihat tak suka.


"Mas kamu marah sama aku? Sampai-sampai kamu ke sini, meninggalkan aku?" tanya Erina sambil memeluk Ferdian dari belakang.


Ferdian menatap Erina sebentar, lalu membuang nafasnya. Dirinya sedang tidak ingin membahas topik tentang Damar.


"Sudah malam, kita masuk dan istirahat! kamu baru saja pulih, aku sedang tidak ingin membahasnya sekarang. Kamu ngerti kan?" Erina hanya diam dan menganggukkan kepalanya.


"Sekarang kita masuk ya, sudah malam dan dingin karena habis hujan. Aku juga sudah lelah, aku ingin tidur." Setelah mengatakan itu, Ferdian masuk kedalam.


Erina pun ikut masuk ke kamar menyusul suaminya, yang di mana Ferdian sudah berbaring di atas tempat tidur


Erina tidak berani membahas tentang Damar kembali kepada Ferdian. Karena merasa lelah, akhirnya Erina pun ikut membaringkan dirinya di samping suaminya

__ADS_1


Hingga keesokan paginya.


Entah kenapa Erina merasa dirinya sangat lemas sekali, dan tidak bersemangat. Tidak seperti biasanya dirinya sudah siap untuk memasak dan sebagainya. Tapi justru berbeda dengan hari ini, yang masih menggunakan selimut padahal waktu sudah pukul sembilan pagi.


Ferdian yang baru pulang berolah raga, bersama putranya. Mencari Istrinya yang tidak terlihat.


"Bos, bubu kemana ya ko tidak terlihat?" tanya Ferdian kepada Zio yabg berada di gendongannya.


"Iyo endak au Yah ( Zio tidak tau Yah)," jawab anak itu.


"Sekarang kamu mandi dengan mba Tati ya! Yayah juga ingin bersih-bersih." Zio pun mengangguk.


"Zio mau tidak, kalau siang nanti kita jalan-jalan dengan bubu?"


"Mau ya!" jawab Zio dengan semangat.


"Mangkanya Zio mandi ya! Yayah ke kamar bilang bubu,"


Zio pun mengangguk dan terlihat senang. Ferdian pun tersenyum, melihat putranya terlihat bahagia.


Zio pun di bawa pergi masuk ke kamarnya oleh Mbak Tati yang tak lain pengasuhnya.


Ferdian masuk ke kamarnya, lalu melihat Erina yang masih terbaring di tempat tidurnya. dirinya merasa tak tega karena semalam sudah mendiami istrinya.


Ferdian pun langsung menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya, sambil tersenyum menatap wajah cantiknya. wanita yang kini berada di hadapannya dan sudah menjadi miliknya.


'Entah kenapa aku merasa bersalah sudah mendiami kamu semalam. Jujur aku gak suka jika kamu membahas dia di tengah-tengah obrolan kita. Apalagi kamu berniat ingin menjenguk dia di Sel, aku rasanya kesal. Aku kembali teringat dengan apa yang sudah dia lakukan ke kamu.'

__ADS_1


Erina yang tersadar jika ada suaminya di hadapannya, langsung membuka matanya. Dirinya langsung tersenyum laki-laki yang memiliki senyuman hangat kepadanya.


Bersambung ...


__ADS_2