Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Kesedihan dan ketakutan Erina


__ADS_3

Di halaman rumah Erina terlihat keluarga pak Fajar datang unyuk melayat. Ferdian menghampiri langsung mencium tangan mereka, bentuk rasa hormatnya.


"Ferdian, Erina di mana?" tanya pak Fajar.


"Erin di dalam om, silahkan masuk aja om. Zio melihat ibunya menangis, di ikut sedih," jelas Ferdian membuat pak Fajar mengangguk karena mengerti.


Pak Fajar dan keluarga akhirnya masuk kedalam menghampiri Erina.


"Erin," panggil pak Fajar, yang melihat Erina sedang menatap jenazah ayahnya.


Erina pun menoleh, melihat om dan bibinya datang. Matanya pun kembali mengembun, tak dapat lagi ia pendam rasa sedih karena kehilangan.


"Om, hiks ... hiks ... hiks!" Erina menangis di pelukan pak Fajar.


Erina menangis karena kehilangan cinta pertamanya. Laki-laki yang melindunginya segenap hatinya. Pak Fajar dapat merasakan kesedihan keponakannya itu, ia pun turut menitikkan air matanya.


Bu Yeni, Indri dan suaminya pun hanya ikut merasakan kesedihan yang di rasakan Erina saat ini.


"Kamu yang sabar ya Nak. Om yakin kamu kuat menerima kepergian ayah kamu Rin!" Kata pak Fajar menenangkan keponakannya itu.


"Ingat masih ada Om dan Bibi, yang selalu ada untuk kamu!" Pak Fajar menguatkan Erina, begitu juga dengan Bu Yeni yang juga memeluk keponakan kesayangannya itu .


Erina mengangguk, mendengar setiap yang di katakan om, bibi dan sepupunya, untuk menguatkan dirinya.


Saat ini, Zio sedang di gendong dengan pak Fajar. Tepat saat itu juga datang seorang pria yang keluar dari dalam mobil, menggunakan Koko hitam, dan kopiah. Dengan di belakangnya terlihat dia orang wanita, cantik dan paruh baya, datang melayat.


Ferdian yang saat itu sedang membantu warga sedang menyiapkan pemandian untuk jenazah pak Bagas. Dirinya memperhatikan seseorang yang baru datang dan sepertinya dia mengenal orang itu.


"Damar," ucap nya, dan memastikan lagi dengan menajamkan pandangan matanya untuk melihat pria tersebut.


Lalu Ferdian terus menatap kemana Damar melangkahkan kakinya, dan melihat kalau orang itu menghampiri Zio, yang kini berada dalam gendongan pak Fajar.


Damar membawa Zio masuk kedalam menghampiri Erina, yang di mana dia sedang menatap ayahnya yang terbujur kaku.


"Bubu !" terdengar suara Zio memanggil ibunya dengan berteriak dan menangis.


Erina pun terkejut, dan matanya membulat saat melihat tiga orang yang datang. Satu orang pria itu menggendong Zio, yang sedang menangis karena menolak untuk di gendong.

__ADS_1


"Mas Damar," gumamnya, dan pria itu menatap Erina dengan tatapan rindunya.


"Bubu!" teriak Zio, dengan wajahnya yang sudah memerah.


Erina segera mengambil Zio dari tangan Damar. "Berikan dia kepadaku, aku mohon!"


Karena merasa tak enak, dan banyak pelayat memperhatikan mereka. Damar pun akhirnya melepaskan Zio, dan di berikan kepada Erina. Sebenarnya dirinya masih sangat merindukan putranya, yang tak pernah bertemu selama berpisah dengan wanita yang dia cintainya.


"Rin, kami turut berdukacita atas meninggalnya ayah kamu. Semoga amal ibadahnya di terima di sisi Nya. Kamu juga harus sabar dan ikhlas, dengan kepergian beliau!" ucap Damar, dengan menyentuh tangan Erina.


Erina melepaskan tangannya dari genggaman mantan suaminya itu. Dengan wajah menunduk, dan memeluk erat-erat putranya. "Aamiin ... terimakasih kalian sudah datang melayat ke sini,"


Damar pun mengangguk, mengerti posisinya sekarang bagaimana.


"Bubu. Iyo mau sama Oom!" pinta bocah kecil yang berusia hampir dua tahun.


"Ayo kita cari!" ucap Erina dengan nada lembutnya.


Damar sangat merindukan suara lembut dari wanita yang pernah mengisi hari-harinya dulu sebagai seorang istri.


"Maaf, Damar aku harus mencari seseorang." Kata Erina, dengan pandangan masih enggan menatap pria di hadapannya.


Damar melihat wajah pak Bagas yang terpejam, terlihat tertidur dengan pulas.


Maafkan Damar Yah. Kalau selama ini punya salah dengan ayah, dan sudah membuat hati ayah kecewa dan terluka.


Damar hanya berbicara dalam hati, dan menatap wajah pak Bagas, dengan mata yang memerah dan basah. Di mana dirinya pernah mengecewakan beliau karena telah menyakiti hati putri kesayangannya.


Sedangkan Bu Nurma dan Melody mereka pun meninggalkan ruangan itu dan menunggu di teras.


Sedangkan Erina kini sedang mencari Ferdian. Dari kejauhan, dirinya melihat pria yang dirinya cari.


Saat hendak melangkah tangan Erina tiba-tiba ada yang menahannya. Saat dilihat ternyata itu Damar.


"Rin, biarkan aku menggendong anakku dulu. Aku sangat merindukan dia, aku mohon Rin!" dengan wajah memohon.


"Saat aku tau kabar duka ini, aku langsung kesini. Tujuanku ingin melihat putraku, dan ... kamu,"

__ADS_1


"Lepasin Damar, aku mohon. Aku sedang berduka, jangan membuat aku tambah sedih!" pinta Erina. "Di sana ada istri dan mama kamu, aku tidak ingin ada keributan nantinya."


"Lepasin Bubu Iyo. Angan bitin bubu nanis (Jangan bikin ibu nangis)!" teriak Zio, yang ikut menangis.


"Sayang, ini Papa Zio." Damar menjelaskan ke anaknya kalau dia itu ayahnya. Anak itu menggeleng kepalanya dengan cepat dan suara tangisnya begitu keras.


"Zio sayang, apa kamu gak kangen Papa. Sini yuk sama Papa!" Rayu Damar, membuat anak itu menangis, karena tidak ingin di gendong.


"Enda! Iyo ndak au Papa, Iyo mau om!" jawab anak itu dengan kencang.


Tiba-tiba ada suara seseorang yang terdengar sangat marah.


"Lepaskan Erina dan Zio!"


"Oom," suara Zio, memanggil seseorang di hadapannya itu.


Saat Damar menoleh, alangkah terkejutnya kalau itu orang yang dirinya kenal. "Ferdian,"


Benar apa yang di katakan Damar, orang itu adalah Ferdian. Laki-laki yang pernah menjadi Kakak kelasnya, dan juga yang pernah memiliki rasa kepada Erina.


Ferdian berjalan menghampiri Erina, dengan menatap Damar dengan tatapan membunuh. "Jangan membuat keributan di tempat yang sedang berduka, hargailah sedikit tuan rumah!"


Ferdian menatap Erina terlihat sangat ketakutan, dengan memegang Zio begitu erat. Lalu Ferdi memberikan senyuman kepada anak kecil yang saat ini sudah berpindah kepadanya.


"Oom, Iyo tatut." Zio memeluk Ferdian begitu erat, Erina pun juga sama, menyentuh lengannya sangat erat.


Damar melihat secara langsung, perubahan sikap Zio dan Erina, saat melihat Ferdian di dekatnya.


Terlihat Damar mengepalkan tangannya, rasa panas nya menjalar ke seluruh tubuhnya.


"Kak Damar!" panggil seseorang yang tak lain Noval. "Aku mohon, jangan membuat keributan disini. Kami sedang berduka, jangan menambah kesedihan kami di sini!" kata Noval dengan penuh penekanan, dan membuat mantan kakak iparnya itu diam.


Namun tatapan matanya tak lepas menatap Erina dan Zio yang begitu dekat dengan Ferdian.


Tidak lamanya terdengar suara Melody dan Bu Nurma memanggil namanya, Damar pun segera menghampiri mereka. Sebelum keributan bertambah, dan membuat kegaduhan di tempat itu.


Ferdian menatap wajah wanita yang dia cintai dengan lekat-lekat, dan menelungkupkan kedua tangannya. "Are you okay?" Erina pun mengangguk.

__ADS_1


Ferdian pun membawa Erina kedalam pelukannya, begitu juga Zio yang memeluknya dengan erat. Terlihat bertapa ketakutan mereka saat Damar memaksanya.


Bersambung...


__ADS_2