Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Bukti CCTV


__ADS_3

Ferdian menangis, namun langkah kakinya tak berhenti, dan terus membawa Erina menuju mobil.


Satu jam sudah Erina di tangani oleh beberapa dokter di dalam. Ferdian terus bolak-balik menunggu kondisi istrinya yang berada di dalam.


'Ya Allah, ku mohon jangan kau ambil Erina. Aku sangat mencintai dia, aku baru merasakan kebahagiaan dengan dia. Bagaimana dengan Zio saat anak itu mencari ibunya.'


Ferdian terlihat frustrasi mencemaskan keadaan istrinya. Noval yang memang menemani kakak iparnya, dirinya juga khawatir dengan kondisi Erina.


'Ka Erin, kakak yang kuat ya kak. Ingat ada Zio kak, yang masih membutuhkan kakak. Noval pun juga ikut mengkhawatirkan keadaan Erina.'


Saat Dokter dan suster keluar dari ruangan Erina, Ferdian, lalu menghampirinya, begitu juga dengan Noval.


"Dokter bagaimana keadaan istri saya?" tanya Ferdian dengan wajah berharap.


"Jika kalian telat membawanya kesini, mungkin nyawanya tidak akan bisa tertolong." Ferdian dan Noval tercengang mendengarnya. "Kalian jangan khawatir, dia selamat, karena pertolongan pertama. Lilitan bahan menutupi luka sobeknya, yang menahan darah tidak terus mengalir. jika tak di lakukan itu mungkin dia sudah tiada ." Jelas seorang dokter Perempuan.


Setelah menjelaskan, Dokter itu pun pergi meninggalkan Ferdian dan Noval, yang masih berdiri.


Ferdian merasa tenang mendengarnya. Karena memang dasi yang dia pakai, di gunakan untuk menahan agar darahnya tidak terus mengalir.


Kini Ferdian dan Noval sedang di dalam ruangan menunggu Erina sadar.


"Kenapa dia mengganggu di hari kebahagiaan kita. Bahkan membuat musibah ini menimpa kamu sayang. Untuk kali ini aku tidak tidak akan membiarkan dia lolos, akan ku jebloskan dia ke dalam penjara!" terlihat Ferdian yang sangat marah, sambil memandang istrinya yang terbaring lemah. Dirinya tak terima Erina terluka karena Damar.


Terlihat tangan Erina bergerak, Ferdian segera berdiri mendekati istrinya.


"Mas Ferdi, tolong aku!" racau Erina dengan mata yang belum terbuka.


"Sayang, ini aku suami kamu." Jawab Ferdi dengan menyentuh tangan istrinya, sambil membelai lembut kepalanya.


Terlihat kening Erina berkerut, seperti ketakutan. Ferdian menggenggam erat tangan sang istri, sambil membisikkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, ke telinganya.


Terlihat Erina sedikit tenang, saat di bisikan oleh Ferdian. Perlahan matanya terbuka, dan terlihat wajah suaminya yang sedang tersenyum saat ia lihat.


Ferdian tersenyum, lalu mengecup keningnya. "Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang."


Erina kembali mengingat kejadian itu, bibirnya bergetar, matanya pun berembun.


"Sayang, sekarang kamu sudah aman. Damar sudah di amankan. Kamu jangan khawatir, Zio juga sedang bersama keluarga kita, jadi kamu jangan takut ya!"

__ADS_1


Ferdian tau istrinya masih takut dengan kejadian yang dialami olehnya. Terutama pasti dirinya mengkhawatirkan keadaan putranya.


"Kakak," panggil Noval, dan Erina pun menoleh kearah sampingnya.


"Dek," saat melihat Noval, justru Erina menangis kedalam pelukan adiknya.


Ferdian yang melihat istrinya sampai ketakutan itu, segera keluar ruangan untuk menghubungi seseorang untuk mencari tau kejadiannya lewat CCTV.


Ferdian berjalan keluar, agar dirinya bisa berpikir jernih untuk menunggu kabarnya tentang apa yang terjadi pada istrinya.


Setelah mencari tau, alangkah terkejutnya, Ferdian melihat kiriman dari orang suruhannya. Matanya terbuka lebar, saat apa yang di lihatnya saat ini. Tentang CCTV yang menunjukkan gambar, istrinya di lecehkan oleh mantan suaminya. Tangannya pun terkepal dengan sangat kuat, lalu dirinya segera menghubungi Joddy.


"Aaaarrrggghhh ..."


DUGH!


DUGH!


Ferdian terlihat emosi, tangannya memukuli tembok yang ada di sampingnya. Meskipun tangan terlihat mengeluarkan darah, namun itu tak sebanding dengan apa yang dilihatnya. Hatinya merasa sakit, saat istrinya di sentuh dengan Damar.


Erina di lecehkan oleh mantan suaminya, bahkan dengan rakusnya dia menci*m bi*ir istrinya. Matanya memerah, dengan rahangnya mengeras, terlihat sekali dirinya sangat marah.


Tangan Ferdi masih memukuli tembok di hadapannya.


"Kak Ferdi!" teriak seseorang yang ternyata adalah Kinan. "Jangan seperti ini, jangan memperburuk keadaan!"


"Apa yang kak Ferdi lakukan, liat tangan kakak berdarah!" Ferdian masih enggan menjawab.


"Pasti kak Erina juga sedih, melihat kak Ferdian seperti ini."


"Aku sudah gagal, melindungi kakak kamu. Dari pria baj1ngan seperti Damar!" kata Ferdian dengan nada dingin.


"Maksudnya kakak apa?" Kinan tidak mengerti.


"Dia berani mel3c3hkan Erina. Lihat ini!" Ferdian memberikan bukti videonya, mata kinan tercengang melihatnya.


"Ya ampun." Kinan menutup mulutnya dengan tangannya, apa yang ia lihat di video itu.


"Lalu kondisi kak Erina bagaimana?"

__ADS_1


"Sejak tadi, dia ketakutan, dan terus menangis. Bahkan saat melihatku dia tak sanggup mengatakan apapun, begitupun juga melihat Noval!" jelas Ferdian sambil mengepal tangannya sendiri.


Kini Ferdian dan Kinan kembali menuju kamar Erina. Saat sampai lorong rumah sakit, Ferdi melihat Dokter keluar dari ruangan istrinya. Dirinya semakin mempercepat langkah kakinya.


Saat membuka pintu, terlihat Noval sedang memasangkan selimut pada Kakaknya. Ferdian menghampiri istrinya yang sedang tertidur.


"Val, tadi Dokter habis dari sini?" Noval mengangguk. "Habis ngapain? Erina baik-baik saja kan?"


Terlihat kekhawatiran di wajah Ferdian.


"Kakak tadi sempat tidur sebentar, lalu tiba-tiba berteriak dan menangis. Aku coba menenangkan namun tidak bisa. Kak Erin seperti ketakutan, dan akhirnya aku memanggil dokter. Lalu dia di beri suntikan penenang." Jelas Noval, menatap wajah Erina terlihat tak tega.


Ferdian kembali melemas mendengar istrinya sampai di berikan suntikan penenang. Berarti Erina benar-benar sangat ketakutan, dan itu membuat Ferdian merasa tak tega dengan istrinya.


Bukan hanya Noval, Kinan pun juga sama. Sejak mendengar terjadi sesuatu oleh Kakaknya, dia segera menyusulnya ke rumah sakit.


"Kakak, sebenarnya apa yang terjadi dengan ka Erina?" tanya Noval memang tidak tau kronologi kejadiannya.


Dirinya hanya tau saat melihat Ferdian menggendong kakaknya yang penuh dengan darah di baju dan wajahnya.


Ferdian memberi tau videonya kepada Noval. Terlihat wajah marah dari adik iparnya itu, terlihat wajahnya yang merah. Raut wajah emosinya mirip sekali dengan ayahnya.


Sudah 30 menit mereka menunggu Erina.


"Kak, aku pulang ya. Zio terus menangis, sedangkan aku dan kak Noval disini," ucap Kinan.


"Yasudah kalian pulang saja, dan istirahat. Aku titip Zio ya. Bilang bubunya lagi istirahat, dia pasti mengerti. Kalau nangis nanti ku telpon," kata Ferdian, yang juga mengkhawatirkan putranya. Noval dan Kinan mengangguk.


"Jangan lupa kabarin kita ya Kak, tentang kondisi kakak!" pinta Noval dan Ferdian mengangguk.


Kini Noval dan Kinan kembali pulang, dan hanya tinggal Ferdian yang menemani Erina yang terbaring lemah.


Ferdian menghubungi seseorang di sebrang sana, untuk mengurus kasus Damar. Yang sudah melecehkan istrinya, bahkan berniat ingin membunuhnya.


Jujur saja, Ferdian ingin sekali memberi pelajaran kepada Damar. Namun apalah daya, Erina lebih penting daripada melampiaskan emosinya.


'Tidak akan ku biarkan kamu mengambil Erina kembali. Ku pastikan kamu akan mendekam di penjara, dengan membawa penyesalan yang selama ini kamu buat. Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh keluarga ku atau di bawa pergi olehmu.'


Ferdian masih menunggu Erina membuka matanya. Tanpa sedih atau rasa takut, bahkan sedikitpun Ferdi tidak meninggalkan Erina sendirian.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2