
Tiga hari kemudian, saat Erina sedang duduk bersama Kinan, menemani baby Zio sedang bermain di teras. Tiba-tiba ada seorang mengendarai menggunakan hoddie dan memakai helm full face, berhenti di halaman rumah mereka.
Erina dan Kinan saling melihat satu sama lain.
"Siapa Kak?" tanya Kinan, Erina menaikkan kedua bahunya.
Saat mesin motornya di matikan, helm pun dibukanya, dan terlihat seorang laki-laki tersenyum menatap Kinan dan Erina.
"Ferdian," gumam Erina.
"Assalamu'alaikum," ucap Ferdi, dengan tersenyum ramah.
"Waalaikumsallam," jawab Erina dan Kinan.
"Oom," panggilan Zio membuat Ferdi tersenyum.
Kini Ferdian menghampiri Zio, lalu tersenyum menatap anak itu.
"Hallo anak tampan! Lagi main apa nih, seru banget kayanya?" sapa Ferdi.
"Iyo ain obot oom( Zio main robot om). uwen enda( keren gak) ?" tanya Zio dan Ferdi tidak mengerti apa yang di katakan anak itu. Dirinya mengerti saat anak itu memberikan mainannya dan ibu jarinya.
Ferdian tersenyum lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Robot Zio keren," anak itu mengangguk dan tersenyum.
Lalu Ferdian menggendong Zio.
"Oom punya makanan,kamu suka tidak?"
"Iyo tuta mamam oom ( Zio suka makan om)," jawab anak itu dengan cerewetnya.
"Zio memang pinter." ucap Ferdi mengacungkan jempolnya, anak itu tersenyum.
Ferdi mengambil dua kantong plastik, sambil menggendong Zio. Bingkisan itu di berikan ke Erina, dengan tangan sebelahnya masih menggendong anak itu.
"Apa sih nih Ferdi? Kenapa harus bawaan segala?" tanya Erina, melihat isi kantong tersebut.
"Enggak apa-apa, santai aja. Pas di rumah aku ke ingat dengan Zio. Yasudah aku belikan makanan untuknya sekalian untuk kamu dan adikmu," ucap Ferdi, membuat Kinan mencebikkan bibirnya.
"Buat Zio atau ibunya nih. Kalau di cium baunya si untuk bubunya," sindir Kinan membuat Ferdian menjadi salah tingkah dan tersenyum malu.
__ADS_1
Kinan mendapatkan pelototan dari sang kakak, membuatnya terkekeh.
"Terimakasih ya Ferdi," ucap Erina.
"Sama-sama." Ucap Ferdi dengan tersenyum. "Sorry baru sempat jenguk, kemarin aku kerja."
"Tidak apa-apa, lagian aku mengerti ko." Ferdian mengangguk.
"Kinan tolong bawa makanan ini lalu di letakkan di piring, bawa kesini! Agar ka Ferdi ikut mencicipi makanan nya." pinta Erina ke adiknya.
"Iya Kak," jawab Kinan.
Kinan masuk kedalam, sedangkan Ferdi duduk samping Erina, sambil melihat Zio yang sedang asyik bermain.
"Bagaimana kondisi kamu sekarang Rin?" tanya Ferdi. "Sorry baru sempat jenguk kamu," seraya tersenyum.
Erina pun ikut tersenyum, dan Ferdi sangat suka melihat senyuman manis dari gadis di sebelahnya.
"Tidak apa-apa Ferdi, aku juga sudah sehat kok. Jadi kamu santai aja." Ferdian pun mengangguk.
"Kamu sudah lama tinggal di sini Rin?" tanya Ferdi di sela obrolannya.
"Aku baru dua bulan disini," jawab Dira . "Setelah Damar dan gadis itu menikah."
Sampai waktu terus berlalu, hubungan Erina dan Ferdi terlihat semakin sering bertemu. Apalagi Zio yang selalu menyebutkan nama Ferdian.
Seperti hari ini, Ferdian sedang mengunjungi rumah Erina, dan terlihat Zio terlihat lengket dengan Ferdian. Bahkan anak itu sampai tertidur di pundak pria itu.
"Maaf ya Ferdi, Zio sampai tertidur seperti ini." Erina merasa tak enak hati.
"Enggak apa Rin santai aja," jawab Ferdi dengan Zio yang masih berada di gendongannya.
Erina pun tersenyum, melihat sikap Ferdian yang terlihat peduli dengan putranya. Hatinya merasa tersentuh setiap kali, pria itu dekat dengan Zio.
Kini , Ferdian meletakkan Zio di tempat tidurnya. Terlihat sekali anak kecil itu tertidur dengan sangat pulas, membuat Ferdi betah menatap bocah yang terlihat semakin menggemaskan.
Sebenarnya Erina merasa tak enak dengan keberadaan Ferdi yang selalu datang ke rumahnya. Dirinya tidak ingin di nilai buruk dengan para tetangga, dan membuat om dan bibinya malu.
Tapi di satu sisi lain, jika Ferdian tak datang, Zio terus mencari namanya. Erina menjadi gundah.
Kini Erina sedang duduk di kursi. "Ferdian," panggilnya.
__ADS_1
"Hemm ... kenapa Rin?" tanya Ferdian saat dirinya sedang bersiap-siap, untuk pulang.
"Kamu selalu kesini, dekat dengan Zio. Apa tidak ada yang mencari kamu?Aku tidak ingin nanti ada yang kecewa dengan kamu," Erina merasa tak enak hati.
Ferdian justru tersenyum menatap Erina.
"Kamu tenang aja, tidak ada ko yang kecewa atau mencari aku di luar sana,"
"Tapi Ferdian, aku merasa tidak enak jika kamu sering datang kesini.Maaf, kamu pasti mengerti 'kan maksud aku apa? Terutama setatus ku ini, aku tidak ingin ada fitnah tentang fitnah." Erina dengan menundukkan wajahnya.
Ferdian membuang nafasnya, sebenarnya dirinya mengerti maksud dari ucapan Erina. Tapi jujur, tidak bertemu Zio dan Erina terasa berat baginya.
"Aku mengerti Rin maksud kamu, aku juga tidak ingin kamu terganggu dengan kedatangan ku kesini,"
"Bukan itu maksudku Ferdi! Kamu sama sekali tidak membuatku terganggu. Justru aku yang takut nantinya membuatmu terganggu, nanti ada omongan tak enak tentang kamu!" Erina merasa tak enak, takut menyinggung perasaannya.
"Santai aja Rin," jawab Ferdian dengan tersenyum. "Kalau begitu aku pamit pulang ya?" pamit Ferdi.
Erina pun mengangguk. Ferdian lalu mengendarai motornya lalu meninggalkan rumah seorang gadis yang ia sukai
Setelah kepulangan Ferdian, Erina merasa tak enak hati, sudah mengatakan itu kepadanya.
Hampir tiga Minggu lamanya, Ferdian tidak hadir, bahkan Zio selalu memanggil namanya. Erina bingung harus menjawab apa, karena rasa ingin tau putranya, sangat besar.
"Bubu, oom Fedi ana ( ibu om Ferdi mana)?" tanya Zio.
"Oom nya kerja sayang, tidak bisa main kesini," jawab Erina dengan lembut menjelaskannya.
"Iyo, au ain, yus awan-awan oom agiy ( Zio mau main terus jalan-jalan om lagi)," cerita putranya begitu semangat menceritakan tentang Ferdi, pria yang bukan siapa-siapa baginya.
Erina merasa tak tega, melihat putra kecilnya selalu merengek menangisi Ferdian. Kinan yang baru mulai kerja, di sebuah toko Frozen food, tempat milik Ferdian.
Melihat keponakannya yang merengek selalu menyebutkan nama Ferdi, membuatnya menjadi tak tega.
"Kak, Zio kenapa?" tanya Kinan.
"Dia mencari Kak Ferdian, Kakak bingung harus bagaimana," ucap Erina.
"Ya sudah Telpon Kak Ferdian aja suruh datang kesini!" usul Kinan.
"Kakak tidak enak Kinan. Nanti membuat Zio tak bisa jauh dari kak Ferdian," jelas Erina.
__ADS_1
Kinan tak bisa berkata apa-apa lagi kepada Kakaknya, karena semua keputusan ada di tangannya.
Bersambung...