Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Cantik dan menggemaskan


__ADS_3

Kini Ferdian dan Erina sedang berada di dalam kamar, mereka sedang menikmati waktu berduaan. Hanya saat di ruangan itu Ferdi bisa memandangi rambut Istrinya yang hitam dan tergerai indah.


"Mas,"


"Heemmm ... kenapa sayang?" tanya Ferdian, sedang membelai lembut rambut indah Erina.


Erina tersenyum saat tangan sang suami, melilit rambut miliknya. Sesekali rambut indahnya itu di ciumnya karena ia sangat menyukai wanginya.


"Kamu memberikan pengawal untukku sepertinya terlalu berlebihan deh. Tidak usah pakai mereka segala Mas!"


"Berlebihan bagaimana sih sayang? Kayanya biasa aja deh. Lagian aku itu tidak ingin kejadian yang udah-udah terulang lagi. Aku khawatir, kalau masih ada orang yang akan berbuat jahat ke kamu. Karena kejahatan pasti akan terjadi di mana-mana, dan itu semua karena ada kesempatan," jawab Ferdian dengan santai.


Sedangkan Erina memajukan bibirnya mendengar suaminya bicara. Ferdian terkekeh, karena dia tau kalau istrinya terlihat kesal.


"Lagian harusnya kamu senang karena di kawal sama dua pria tampan dan keren loh. Lihat tuh adik kamu, dia seperti cacing kepanasan melihat Riko dan Jordan di sini," kata Ferdian dengan terkekeh melihat kelakuan adik iparnya, membuat Joddy cemburu.


"Yakin, kamu rela setiap hari aku memandangi terus dua orang itu?" sindir Erina.


Ferdian tersenyum mendengar istrinya bicara. "Aku tau kamu seperti apa? Aku juga percaya sama kamu."


Ferdian kini menatap wajah cantik istrinya lekat-lekat. Membuat Erina tersipu malu, mendapatkan tatapan dari suaminya seperti itu.


Ferdian mengangkat dagu istrinya, lalu.


Cup!


Dikecupnya bibir ranum milik istrinya, meskipun tanpa warna apapun di gunakannya. Namun, baginya terlihat sangat menarik, dan rasanya ingin sekali terus menyentuhnya.


"Kamu terlihat cantik. Malam ini aku kangen sama kamu, dan anak kita. Boleh 'kan aku menjenguknya?" bisik Ferdian di telinga istrinya.

__ADS_1


Erina tersenyum geli, dan sekaligus tersipu malu. "Tapi Mas, 'kan kata dokter ...."


"Aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Aku tidak bisa menahan rasa kangen ku ini, aku ingin sekali menjenguknya." Kata Ferdi dengan tatapan sendu, dan terlihat sekali kalau dirinya menginginkan sesuatu yang ia inginkan.


Dengan senyum manisnya, Erina pun menganggukkan kepalanya, dan pastinya Ferdian terlihat bahagia. Karena di izinkan untuk melakukan petualangan dan menjelajahi goa dan hutan rimba yang belum lama ini ia datangi.


Karena sudah mendapatkan izin dan dapat surat jalan dari Erina. Ferdian pun tidak menunda-nunda waktu pekerjaan yang membuatnya selalu bersemangat, untuk melakukannya, bahkan sampai lembur pun dia siap.


Sedangkan Erina hanya pasrah melakukan kewajibannya, sebagai seorang istri. Sebenarnya akhir-akhir ini dirinya ingin sekali berada di dekat suaminya.


Apalagi Ferdian, dia mengenal sosok Istrinya itu wanita yang pemalu dan sedikit pendiam. Tetapi akhir-akhir ini, Erina nampak berbeda. Dirinya ingin selalu di dekatnya, dan bermanja-manja kepadanya.


Tentunya bagi Ferdian sikapnya itu membuatnya sangat bahagia, dan merasa tidak keberatan sama sekali, dengan sikap manjanya yang tiba-tiba datang.


Sampai beberapa bulan kemudian.


Ferdian sangat menyukai bentuk tubuh istrinya saat ini, baginya terlihat sangat menggemaskan. Namun tidak dengan Erina, dirinya semakin sensitif, jika mendengar dengan bentuk tubuhnya sendiri.


"Mas, aku terlihat lucu gak sih? Dengan bentuk perutku yang terlihat membuncit." Sambil berkaca di depan cermin besar.


"Lucu, kamu sangat lucu," jawab Ferdian dengan terkekeh.


Erina justru cemberut, mendengar jawaban suaminya, yang saat ini sedang memeluknya dari belakang.


Seketika, Erina melepaskan diri dari pelukannya, lalu berjalan menjauh dari Ferdian. Pastinya Ferdi pun tercengang melihat perubahan sikap istrinya yang seperti itu.


"Loh! Kamu kenapa sayang, kok cemberut gitu?" tanya Ferdian menghampiri Erina.


"Aku sebel sama kamu!" jawabnya dengan ketus.

__ADS_1


"Loh. Aku kenapa sayang?" tanya Ferdi yang masih bingung.


"Kamu bilang aku lucu dengan perutku yang mulai membuncit. Aku jadi gak pede, aku sebel sama kamu!" Erina merajuk, dengan menatap ke arah lain, enggan melihat suaminya.


'Ya Gusti Allah, aku salah lagi. Aku lupa, saat ini istriku sedang sensitif sekali jika mendengar tentang bentuk tubuhnya sekarang.'


Ferdian mengetuk keningnya sendiri, yang lupa akan perubahan sikap istrinya.


"Bukan seperti itu. Jika aku membuat kamu kesal, aku minta maaf ya!" sambil mohon, dan menyentuh tangannya.


"Sini." Kata Ferdian menggandeng tangan istrinya, untuk ikut dengannya ke arah cermin kembali.


"Coba lihat di cermin itu!" Ferdian menunjuk ke arah cermin.


Ferdian tersenyum menatap pantulan mereka dari kaca. Namun Erina terlihat cemberut menatap tubuhnya yang terlihat semakin berisi. Apalagi bentuk pipinya yang semakin cubby.


"Maksud aku tadi, kamu itu terlihat lucu dan pastinya terlihat sangat cantik. Bukan menilai kamu buruk seperti yang kamu pikirkan. Kamu tau gak? Kamu itu semakin membuatku gila. Apalagi dengan usia kandungan kamu saat ini, kamu terlihat se*si dan menggemaskan bagiku." Di akhir kalimatnya sengaja Ferdi bisikkan di telinga istrinya.


Terlihat senyuman manis pada Erina, saat suaminya mengatakan itu.


"Kamu itu semakin cantik, lucu, dan menggemaskan bagiku. Aku semakin jatuh cinta sama kamu, kamu berhasil membuatku tergila-gila sama kamu." Goda Ferdian, dengan mengedipkan mata sebelahnya.


"Benarkah, aku terlihat cantik dan menggemaskan untuk kamu, Mas?" Ferdian mengangguk, dan Erina kembali tersenyum.


"Heemm ... kamu sangat cantik dan sangat menggemaskan bagiku." Jawab Ferdian dengan posisi masih memeluknya dari belakang, dengan senyuman manisnya.


Sedangkan Erina terlihat tak lagi marah, senyuman pun kini terlihat di bibirnya. Ferdian merasa senang, karena istrinya tak lagi merajuk kepadanya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2