Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Istri dan anak-anakku sehat


__ADS_3

Ferdian tak tega mendengar istrinya menangis seperti itu, hatinya pun ikut merasakan sakit.


Dengan menahan rasa kesalnya, Ferdian mengepalkan kedua tangannya.


"Kenapa, mereka masih saja membenciku. Apa salahku kepada mereka, dan Bu Nurma ..." Erina tak sanggup mengatakan lagi.


"Sayang, lihat aku !" kata Ferdian Erina pun menatap wajah suaminya.


"Kamu jangan khawatir, mereka sudah berada di dalam jeruji besi. Bu Nurma sempat mengelak, kalau dia bukan bagian yang ikut berniat mencelakai kamu. Melody juga sempat melarikan diri, namun sudah tertangkap. Sekarang tinggal adik kamu yang belum ditemukan, dia dalam pencarian buronan,"


"Kenapa mereka jahat kepadaku. Apa yang mereka inginkan?" racau Erina.


"Mereka hanya iri, dengan kebahagiaan kamu saat ini. Aku takkan membiarkan mereka berkeliaran dengan tenang. Mereka harus membayar, karena sudah membuat kamu dan anakku hampir kehilangan nyawa!" wajah Ferdian terlihat sangat marah.


Erina terus menangis sedangkan Ferdian terus menenangkan istrinya, sampai tenang. Bahkan Ferdi menemani sampai sang istri tertidur.


Keesokan harinya.


Di kediaman rumah Ferdian seluruh keluarga menikmati sarapan. Bu Hesti, Noval dan Ferdian melihat sikap Erina nampak murung.


"Rin, ko dari tadi makanan di diamkan. Kenapa masakan ibu tidak enak ya?"


Erina menggelengkan kepalanya, dan tersenyum kecil. "Masakan ibu selalu enak. Hanya saja aku lagi tak bersemangat,"


"Kamu lagi sakit Nak?" tanya Bu Hesti, dan Erina menggelengkan kepalanya.


"Maaf semuanya, aku sudah selesai makan, dan aku mau ke kamar dulu." Erina berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan, yang di mana para keluarga memperhatikan kepergiannya.


"Erina kenapa Fer?" tanya Bu Hesti.


"Dia tau siapa orang yang jahat kepadanya, dia tau salah satunya Qia. Mangkanya sejak dia mengetahui, dia jadi murung seperti itu,"

__ADS_1


"Sebenarnya ini yang aku takuti, kalau Erina tau. Dia akan terus kepikiran, dan akan mengganggu kesehatannya,"


Bu Hesti merasa tak enak hati, di hadapan menantunya. Karena kelakuan Asqia, Erina terlihat murung.


"Ibu minta maaf, mewakili anak ibu Fer. Ibu malu, dengan kelakuan Qia, yang ternyata ikut mencelakai Kakaknya sendiri," Bu Hesti menitikkan air matanya.


"Bu, kenapa harus minta maaf sih. Ini bukan ibu yang salah. Aku tau, ibu tak tega kalau Qia menjadi buronan saat ini. Tetapi dia harus bertanggung jawab atas kesalahannya," jelas Ferdian.


"Yang di katakan ka Ferdian benar Bu. Asqia harus bertanggung jawab. Jika ibu merasa tak tega terus, maka dia akan selalu saja bertindak sesukanya, tanpa memikirkan keluarga!" timpal Noval, yang ikut geram karena ibunya selalu saja membela kakaknya.


"Maaf Bu! Bukan maksudku marah dengan ibu. Aku hanya tidak ingin, jika Qia di kasihani, dengan kelakuannya yang tidak baik. Aku takut, dia akan terus berulah. Jika ayah masih ada, aku yakin ayah juga akan marah,"


Bu Hesti tak menjawab, ucapan anak laki-lakinya. Karena sikap tegas suaminya ada pada Noval, membuat dirinya hanya bisa pasrah dengan perkataan putranya.


"Bu, maaf sebelumnya. Tapi apa yang di katakan Noval ada benarnya. Jika ibu terus menerus membela Qia, maka dia tidak akan sadar, kalau kesalahan yang dia perbuat, ada tanggung jawab yang harus dia terima," jelas Ferdian.


"Kalau begitu aku mohon maaf, aku ingin kembali ke kamar. Aku ingin melihat kondisi Erina." Bu Hesti dan Noval mengangguk.


Ferdian pun menghampiri istrinya, yang saat ini sedang melamun saat memberikan Asi. Sedangkan baby Yuna sudah tertidur pulas.


"Sayang." Panggilan Ferdian menyentuh pundak istrinya.


"Eemm ... iya Mas, ada apa?" Erina tersadar dari lamunannya.


"Kamu melamun ya? Tuh Yuna sudah tertidur,"


"Ya ampun, aku gak tau." Erina membetulkan posisi tidur Yuna.


"Kamu melamun, mikirin apa?" Ferdian duduk di samping istrinya.


Erina diam sejenak, lalu menatap Ferdiansyah. "Mas aku ingin menemui mereka, apa boleh?"

__ADS_1


Ferdian menatap wajah istrinya, dengan tatapan menyelidik. "Kamu yakin?"


"Iya Mas, aku ingin menemui mereka. Aku ingin tanya kenapa mereka segitu membenciku, sampai sekarang."


"Kalau aku tidak mengizinkan kamu ke sana bagaimana. Aku tidak ingin kamu menemui mereka!" ucapan Ferdian dengan tegas.


"Alasannya kenapa Mas?"


"Kalau aku bilang gak, ya enggak, titik!" nada bicara Ferdian mulai tak enak di dengar.


"Tapi Mas, aku hanya ...."


Erina tak berani melanjutkan perkataannya, karena tatapan suaminya sudah sangat mengerikan.


"Erin, kalau aku tidak mengizinkan kamu. Berarti aku ada alasan untuk kebaikan kamu, mengerti!"


Erina menundukkan kepalanya, tak berani menatap wajah suaminya. Ferdian pun nampak tak tega melihat istrinya diam, dengan menunduk.


"Maafkan aku ya sayang. Aku hanya tidak ingin, nantinya hati kamu sakit dengan perkataan mereka. Dengarkan aku, kamu baru saja pulang dari rumah sakit. Kondisi kamu juga belum pulih 100%. Kamu pasti mengerti maksud aku kan, aku sayang sama kamu." Ucap Ferdian seraya menyentuh kedua pipi Erina.


Erina menatap wajah suaminya lekat-lekat, merasa tersentuh dengan perkataan, dan perhatian suaminya. Bertapa beruntungnya, dirinya memiliki suami seperti Ferdian.


"Iya Mas, aku mengerti. Maafkan aku, yang suka keras kepala,"


Ferdian tersenyum lalu mengecup kening Erina. "Tidak papa, terkadang setiap orang pasti memiliki keras kepala. Sekarang aku minta, kamu harus jaga kesehatan! Jangan memikirkan, yang membuat kamu kepikiran, dan dampaknya menggangu kesehatan kamu dan Yuna. Aku juga tidak ingin, Zio sedih, melihat bubu nya sakit."


"Kalau masalah, Bu Nurma, Melody, dan Asqia. Biarkan itu, aku dan Joddy yang urus. Yang terpenting, istri dan anak-anakku sehat!"


"Iya Mas,"


Ferdian tersenyum, lalu membawa istrinya kedalam pelukannya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2