Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Erina di perbolehkan pulang


__ADS_3

Ferdian masih menunggu Erina membuka matanya, tanpa sedih ataupun rasa takut. Sedikitpun Ferdi tak meninggalkan istrinya.


Ferdian terus menatap wajah cantik Erina yang sedang tertidur sangat pulas. Sambil menggenggam erat tangan istrinya lalu di kecupnya.


"Ada aku yang akan selalu berada di samping kamu. Aku mohon kamu buka mata kamu, ingat ada Zio dan aku yang membutuhkan kamu sayang." Bisik Ferdian.


Tidak lamanya, mata Erina pun terbuka. Ferdian tersenyum menatap istrinya meskipun masih terlihat bingung, dengan sekitarnya.


"Kamu mau minum?" tanya Ferdian dengan lembut, dan Erina mengangguk.


Ferdian mengambilkan gelas berisikan air, lalu membantunya untuk minum. Tatapan istrinya masih kosong, lalu tiba-tiba air matanya mengalir kembali. Ferdi segera menghapusnya.


"Mas, a - aku minta maaf." Erina tak sanggup mengatakan sekata apapun kepada suaminya


"Uuuusssttt ... jangan mengatakan apapun. Justru aku yang meminta maaf, karena telat menyelamatkan kamu, dari dia."


"Tapi Mas, dia sudah." Erina kembali terisak karena mengingat kejadian itu.


CUP.


CUP.


CUP.


Ferdian memberikan tiga kali kecupan di bagian yang di mana Damar sudah menyentuhnya.


"Sudah ku hapus. Jadi sekarang kamu segera sehat untukku dan Zio ya!" Erina menatap wajah suaminya yang memberikan senyuman hangat kepadanya.

__ADS_1


"kamu cinta aku 'kan? Kita mulai lagi kehidupan untuk keluarga kecil kita. Untuk Damar, kamu jangan khawatir lagi,


dia sudah ku bereskan."


Ferdian menggenggam tangannya, untuk meyakinkan istrinya. Erina pun mengangguk, dan tersenyum.


Ferdian merasa lega istrinya bisa sedikit lebih tenang.


Keesokan harinya seluruh keluarga menjenguk Erina di rumah sakit. Alangkah bahagianya dirinya bisa melihat Zio kembali. Anak itupun juga tak ingin menjauh dari ibunya, karena semalaman dia tidak melihat bubunya.


"Bu, Iyo tangen Tama bubu (Bu Zio kangen sama Bubu)," ucap anak itu dengan berada di pelukan ibunya.


"Sama sayang, ibu juga kangen sama kamu Nak. Kamu gak rewel kan tinggal bersama nenek?" tanya Erina, dan Zio menggelengkan kepalanya.


"Zio anak pintar." Erina mencium putranya.


"Bubu puyang yuk! Sama Iyo, bayeng- bayeng ( Bubu pulang yuk! Sama Zio bareng- bareng).


Ferdian yang sejak tadi memperhatikan istrinya dan anak, hanya tersenyum. Lalu ia menghampiri mereka berdua.


"Iya nanti kita pulang sama-sama." Ucap Ferdian membuat Erina menatapnya.


"Apa benar Mas, aku boleh pulang?" Ferdian mengangguk.


"Kamu boleh pulang, kata dokter kondisi kamu sudah lebih baik," jelas Ferdi dengan tersenyum.


"Bubu sudah di perbolehkan boleh pulang, Zio senang gak kita kumpul di rumah lagi?" pastinya anak itu mengangguk dan tersenyum lebar.

__ADS_1


"Yeee ... bubu puyang, Iyo teneng banet ( bubu pulang, Zio senang banget)." anak itu bertepuk tangan kegirangan .


Sore harinya.


Erina sudah di perbolehkan pulang, dan kini sudah sampai di rumah. Di sana banyak keluarga datang menyambut dirinya.


Keluarga Bu Hesti dan Bu Nabila berkumpul di kediaman Ferdian. Kinan dan Noval ikut mengobrol dengan adik dari Ferdian dan juga Joddy.


Namun berbeda dengan Asqia, dirinya menatap sekeliling rumah kakaknya itu, yang terbilang cukup besar.


"Beruntungnya kak Erin menikah dengan Ferdian. Yang mempunyai rumah seperti istana," gumamnya.


Tanpa dia sadari, ibunya memperhatikan gerak-gerik putrinya. Dirinya takut kalau Qia membuat ulah di rumah Erina.


"Qia, kamu ngapain di sini, ayo kita pamit dengan Erina. Jangan sampai malam kita pulang, biar kakak kamu bisa istirahat." Kata Bu Hesti menghampiri putrinya.


"Mau pulang sekarang Bu? Enggak besok aja, kita istirahat di sini aja." Jawab Asqia menolak secara halus.


Bu Hesti menatap putrinya dengan tatapan menyelidik. "Kamu, jangan macam-macam ya Qia! Ibu ingin kamu sekarang ikut pulang, gak ada entar besok atau apa!"


Asqia terlihat kesal dengan jawaban darinya ibunya. Sebenarnya dirinya masih betah di rumah itu berlama-lama.


"Ibu bicara apa sih? Siapa juga yang mau macam-macam, aku hanya bilang gak besok aja kita pulangnya, kita istirahat dulu di sini semalaman lagi!" jawabnya dengan ketus.


Setelah mengatakan itu, Asqia langsung meninggalkan ibunya dengan rasa kesalnya. Sedangkan Bu Hesti yang masih berdiri sambil memandang putrinya pergi, hanya menggelengkan kepalanya saja.


Bersambung...

__ADS_1


Mohon maaf, update hanya sedikit. Masih sibuk suasana lebaran, mohon maklum ya semuanya πŸ™β˜ΊοΈ


...Terimakasih sudah setia membaca karya recehku ini. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian semuanya πŸ™...


__ADS_2