
Ferdian sedang mengajak Zio bermain di halaman belakang melihat ikan yang berada di dalam kolam.
Sedangkan Erina dan bunda Nabila, mereka sedang duduk di kursi. Mereka berdua mengobrol tentang sesama wanita dan seorang ibu.
"Bunda mengerti Erin, perasaan kamu seperti apa? Pasti kamu punya rasa trauma dengan sebuah pernikahan dan ibu mertua 'kan?" ucap Bu Nabila menyentuh tangan Erina.
"Bukan trauma sih. Hanya saja, aku harus mempersiapkan diri, untuk menerima laki-laki untuk menjadi pasangan ku, sekaligus ayah sambung Zio. Tetapi Ferdian lebih pandai merebut hati anakku ..."
"Dari pada merebut hati ibunya." Celetuk Bu Nabila, memotong pembicaraan menantunya dengan senyuman.
Erina pun ikut tersenyum mendengar ibu mertua menggoda dirinya.
"Kamu tau Rin! Selama lima tahun ini, dia tinggal bersama kami, Bunda baru melihat dia tersenyum bahagia saat bersama kalian."
"Memangnya lima tahun lalu, Ferdian tinggal dengan siapa Bun?" tanya Erina. "Yang aku tau, Ferdi tinggal dengan bapak ibu dan neneknya,"
"Ferdian tinggal bersama bapaknya, semenjak kami berpisah. Ferdi dijauhkan dari bunda kurang lebih 20 tahun." Terlihat wajah sedih dari wajah ibu mertuanya. Lalu beliau menceritakan tentang kehidupan dirinya yang berpisah dengan putranya bertahun-tahun.
Terlihat bulir bening berhasil lolos dari pelupuk matanya, saat menceritakan tentang Ferdian. Bahkan Erina ikut turut merasakan kesedihan dari ibu mertuanya.
Ternyata nasib kehidupan rumah tangga ibu mertuanya, seperti dirinya. Bedanya beliau di jauhkan dari putranya dan hidup sebatang kara, hanya pak Hamzah laki-laki baik yang mencintai bunda.
Sedangkan dirinya lebih beruntung, di saat Damar dan dirinya berpisah. Masih ada keluarga yang support dirinya, dan tidak di jauhkan dari putranya. Bahkan sekarang ada Ferdian yang mencintainya dan Zio.
"Saat Bunda tau, ada wanita yang selalu mengganggu hatinya, dan selalu membuat dirinya gelisah.Bunda hanya berharap kalau wanita itu mencintai dirinya juga." Kata Bu Nabila menyentuh tangan Erina.
"Ternyata Ferdi mencintai kamu, yang tak lain adik kelasnya. Yang selama ini dia sukai, padahal dia sempat menghindar dari kamu. Setelah kamu sudah menjadi milik orang lain. Tetapi justru Allah mempertemukan kalian kembali, dan menyatukan kalian berdua," jelas Bunda Nabila, membuat Erina yang mendengarnya tersenyum.
Apa benar yang di katakan bunda, kalau kamu sempat menyukaiku, dan sempat menghindar, saat aku bersama Damar. Kamu laki-laki baik Mas, semoga kamu akan selalu baik dan setia kepadaku, serta sayang kepada Zio yang hanya anak sambungmu.
Erina tersenyum memandang suaminya sedang tertawa melihat tingkah Zio, yang terkena air mancur di kolam.
Ferdian pun tau kalau istrinya sedang menatapnya saat ini. Dengan jahilnya ia pun mengerlingkan mata sebelahnya, dengan menggoda Erina.
__ADS_1
Erina pun tertegun melihat Ferdian mengedipkan mata sebelah menggodanya. Dirinya pun langsung menoleh ke arah lain, pastinya Ferdi pun terkekeh melihat tingkah Istrinya.
Kini waktu sudah menunjukkan malam hari, Erina Ferdian dan Zio sudah kembali ke rumah sederhana mereka. Mereka bertiga sudah berada di dalam kamar untuk beristirahat.
Bocah kecil yang sejak tadi slalu menempel kepada Ferdian, saat ini tertidur dengan pulas di pelukan ayahnya.
Karena posisi Ferdian yang berada di tengah-tengah, Zio di pojok, dan Erina di pinggir. Kamar yang tidak terlalu luas, terlihat nyaman untuk mereka bertiga.
Sebenarnya Ferdian ingin sekali memboyong anak istrinya ke rumah pribadinya, namun dirinya mengurungkan niatnya untuk sementara ini.
"Mas, sebenarnya Zio ini anak kamu atau anakku? Kenapa dia lengket sekali sama kamu, aku terasingkan." Ucap Erina dengan cemberut, membuat Ferdian terkekeh.
"Aku juga gak tau sayang, dia nempel benget sama aku. Ooh iya, sekarang Zio sudah tertidur sangat pulas, bolehkan kalau saat ini aku yang ingin deket-deket sama kamu!" Ferdian menatap wajah Erina, dengan senyuman.
Erina tersenyum malu karena mendapatkan tatapan penuh harapan dari Ferdian. Saat ini posisi mereka berdua begitu dekat, sampai tak ada jarak bagi mereka. Bahkan mereka dapat merasakan hembusan nafasnya yang menyentuh kulit mereka.
Tatapan sendu Ferdian mengisyaratkan bahwa dirinya menginginkan sesuatu dari istrinya.
Dengan wajah menunduk Erina pun menganggukkan kepalanya. Pastinya Ferdian pun sangat bahagia mendengarnya.
"Iya Mas, maaf aku sudah melupakan kewajiban ku menjadi istri kamu."
"Tidak masalah, aku mengerti karena kamu kemarin masih berduka." Jawab Ferdian dengan menci*m bibir istrinya.
Dengan memulai permainan, Ferdian mengecup keningnya. Terasa saat ini jantungnya Erina berdegup kencang. Kecupan perlahan menuju kedua mata, hidung dan kemudian di bi*ir indah milik istrinya.
Erina pun memejamkan matanya, dan Ferdian pun tersenyum melihat mata istrinya yang terpejam.
Ferdian terus mengecup setiap inci di wajah cantik Istrinya, semakin lama, kec*pan itu menuruni ke bagian yang membuat Erina mengeluarkan suara de*ahan yang membuat Ferdi menggila saat mendengarnya.
Karena cahaya di kamar mereka sangat minim hanya lampu tidur saja yang menyala. Membuat suasana persatuan mereka semakin in*im.
Untuk pertama kalinya, Ferdian melakukan dan memimpin permainan yang sudah seminggu ia harapkan, semenjak menjadi peran suami.
__ADS_1
Sedangkan Erina hanya mengikuti permainan yang di pimpin oleh paksu. Dirinya masih malu-malu, jika harus memulainya lebih dulu. Meskipun dirinya sudah lebih berpengalaman, ketimbang Ferdian, yang baru perdana untuk permainannya saat ini.
Ferdian berharap semoga Zio tidak terbangun, saat mereka melakukan permainan perdana mereka. Karena sampai anak itu terbangun, maka kandas lah sudah angan-angan Ferdian.
Berharap akan menjadi malam yang panjang untuk mereka berdua.
Ternyata Zio mengerti apa yang di harapkan orang tuanya. Bocah itu tertidur sangat pulas, tanpa merengek drama meminta susu di malam itu.
Kini permainan pun berakhir di garis finish, Ferdian menunjukkan wajah kemenangan. Dirinya mendapatkan apa yang di inginkan, yaitu memiliki Erina seutuhnya.
Setelah selesai, mereka pun membersihkan diri. Ferdian terlihat segar malam itu. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 03.00. Tidak seperti Erina terlihat mengantuk, dan lelah. Bagaimana tidak, Ferdi meminta melakukan tiga kali pertandingan, dan itu membuat istrinya kewalahan.
Owalah mentang-mentang perdana, Ferdian minta bonus. Doyan apa getol Fer? wkwkwkw ...Othor cekikikan.
Kini Erina tertidur dalam dekapan Ferdian, yang terlihat saat ini, wajahnya masih berbinar. Padahal langit masih menunjukkan gelapnya malam, tapi wajahnya terlihat cerah, seperti matahari yang bersinar di siang hari.
Baru saja Erina hendak pulas, terdengar suara Zio yang merengek meminta susu. Ferdian melihat istrinya hendak bangun, dirinya langsung menahannya.
"Kamu tidur saja! Biar aku yang buatkan susu untuk Zio. Pasti kamu lelah, dan ngantuk kan?" Erina mengangguk.
"Iya aku ngantuk banget, memang tidak papa, jika kamu yang buatkan susu untuk Zio?" tanya Erina dengan suaranya yang berat, dan matanya pun tak dapat terbuka lebar.
"Ya gak papa dong sayang. Yasudah kamu tidur lagi ya!"
Cup !
Ferdian mengecup kening Erina, lalu berjalan meninggalkan tempat tidur untuk membuat susu untuk Zio.
Sedangkan Erina, ia kembali tertidur. Dirinya terasa sangat lelah, dan mengantuk.
Benar-benar Ferdian tipe suami idaman banget dah aah... Author jadi makin ekhem- ekhem. Eeh salah maksudnya Erina, jadi makin cinta sama dirimu Fer. Wkwkwkw ....
Bersambung....
__ADS_1