
Anak itu bernyanyi sambil berlenggak-lenggok di depan keluarga, dengan rasa percaya dirinya. Membuat semua orang yang melihatnya tertawa, dengan sikap lucu Zio yang menggemaskan itu.
Kini Azriel berada di halaman, bersama Asqia. Mereka sedang berbicara empat mata, dari raut wajahnya, mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat serius.
"Zriel. Kamu salah menyukai gadis seperti aku, kamu tau aku wanita yang sudah tidak suci lagi. Aku juga mantan napi, dan aku sudah sangat jahat kepada keluarga ku sendiri. Sedangkan kamu, laki-laki baik. Kamu masih bisa mendapatkan gadis yang lebih dari aku," ucap Asqia.
"Memang apa salahnya, jika aku hanya mencintai kamu. Sebenarnya kamu gadis baik, hanya saja kamu terpengaruh dengan orang-orang di luar sana, yang sudah mencuci otak kamu untuk berbuat jahat. Meskipun masalalu kamu pernah melakukan kejahatan tapi sekarang kamu sudah berubah menjadi Qia yang baik,"
"Qia, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, tetapi tergantung dari diri kita. Jika kita mau berubah dan bertaubat, lalu berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama," ucap Azriel, dengan senyuman.
"Aku hanya tidak ingin kamu merasa malu. Apalagi dengan masa lalu ku yang sudah melakukan banyak kesalahan, bahkan dengan kakak ku sendiri." Jawab Qia dengan rasa penyesalan.
Azriel menggenggam tangan Asqia, lalu menatap lekat-lekat wanita yang saat ini berada di hadapannya.
"Bukankah, kesalahan di masa lalu itu, bisa di jadikan pelajaran untuk kita. Agar kita tidak melakukan kesalahan yang sama. Aku yakin, dengan perkataan kamu, dan ingin menjadi pribadi yang baik. Jadi untuk apa aku malu? Buktikan kalau kamu ingin berubah, untuk kamu dan keluargamu,"
Pipi Asqia sudah basah, karena air matanya yang terus mengalir. Lalu Azriel mengulurkan tangannya untuk menghapusnya.
"Tuhan aja, tidak pernah memandang setatus seseorang dari kaya atau miskin. Kita itu manusia makhluk ciptaan Nya, dan semuanya sama. Ia juga maha penerima taubat, kenapa aku tidak, yang hanya manusia biasa,"
"Aku cinta kamu Qia, aku ingin menjadikan kamu istri ku. Aku mau mendampingi kamu, dan membimbing kamu untuk menjadi bidadari ku,"
Hati Qia tersentuh dengan apa yang Azriel katakan. Selama ia mengenalnya, pria di hadapannya itu selalu memperlakukannya dengan baik. Padahal saat itu, dirinya hanya wanita yang ia tolong. Bahkan Asqia juga menceritakan tentang kehidupannya, yang sudah jahat. Namun sikap laki-laki itu tak pernah berubah, masih saja baik kepadanya.
"Asqia, ibu setuju nak. Jika kamu menerima Azriel, untuk menjadi pendamping hidup kamu sayang," ucap Bu Hesti.
__ADS_1
Azriel dan Qia terkejut mendengar suara Bu Hesti, yang di mana ia juga melihat dua kakaknya.
Karena tanpa mereka sadari, Erina Ferdian dan Bu Hesti mendengar percakapan antara Azriel dan Asqia di taman.
"Ibu, dan kakak kalian ada di sini?" tanya Qia, Erina dan Ferdian mengangguk dan tersenyum.
"Qia, kalau kakak lihat. Azriel ini sangat mencintai kamu loh! Kakak setuju jika dia menjadi suami kamu." Erina merangkul pundak adiknya.
"Setiap seseorang yang pernah mempunyai masalalu yang buruk. Lalu orang itu mencintai kita, dan menerima kisah buruk kita dengan ikhlas. Untuk apalagi, kita permasalahkan? Yang penting bagaimana caranya kita bisa menjalani hari-hari dengan sebaik mungkin, tanpa menoleh terus kebelakang, yang membuat kita semakin terpuruk," pesan Ferdian.
"Terimalah cinta Azriel. Aku juga melihatnya dia pria baik, lagian kasihan wajahnya seperti berharap banget sama kamu Qia." Kata Ferdian sambil mencebikkan bibirnya ke arah laki-laki di samping iparnya itu.
Sedangkan Azriel saat ini sangat malu, karena percakapan dengan Qia di dengar oleh keluarganya. Ia hanya bisa menundukkan wajahnya dan menjadi salah tingkah. Apalagi Ferdian, yang juga bos di tempatnya bekerja ikut meledek dirinya.
Asqia melihat raut wajah Azriel, yang memang terlihat sekali sangat berharap dengan jawabannya. Ada senyuman kecil, di bibir Qia.
"Azriel Purnomo. Aku mau menerima kamu, aku juga ingin di bimbing kamu, untuk menjadi istri yang baik," jawab Qia, dengan senyum malu-malu.
Azriel tertegun dan tak percaya, kalau Asqia menerima pinangannya untuk di jadikan istri. Dengan rasa harunya, bulir bening pun keluar dari sudut matanya. Hatinya sangat bahagia, dirinya dapat mengutarakan maksud niat baiknya, untuk Qia.
"As ...Asqia terimakasih kamu sudah menerima perasaanku dan niatku untuk meminangmu. Aku gak bisa berkata apa-apa." Ucap Azriel, dengan menghapus air matanya.
"Aku juga mengucapkan terimakasih kepada Ibu, mba Erina, dan pak Ferdian. Sudah merestui aku, dengan Asqia." Azriel mencium tangan Bu Hesti dengan rasa hormatnya, sebagai calon ibu mertua.
Azriel juga bersalaman dengan Erina dan juga Ferdian. Bukan hanya itu, ia juga terang-terangan menggenggam tangan Asqia, dan di kecupnya. Membuat keluarga tercengang melihatnya.
__ADS_1
Hingga satu bulan kemudian Di mana, Azriel dan Asqia pun menikah. Mereka menggelar pernikahan yang sangat sederhana. Karena itu adalah permintaan Qia, yang tak ingin pernikahannya terlalu mewah.
Terlihat raut kebahagiaan pada Azriel dan Asqia, setelah mereka sudah sah menjadi pasangan suami-istri. QIA pun juga langsung di bawa oleh suaminya, ke kontrakannya. Meskipun hanya kontrakan kecil, mereka berharap kelak ia akan mempunya rumah dengan hasil sendiri.
Bu Hesti merasa bahagia karena semua putri-putrinya sudah di bawa oleh masing-masing pasangannya. Sekarang tinggal dirinya dan putranya, dan kelak Noval pun juga akan memiliki pasangan.
"Ibu jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan ibu sendirian. Aku tidak akan kemana-mana, akan selalu menemani ibu." Ucap Noval, saat memeluk ibunya.
"Kelak, kamu juga akan meninggalkan ibu nak, dengan istri pilihan kamu." Jawab Bu Hesti menyentuh tangan putranya.
"Bukan pilihan aku aja, tapi juga pilihan ibu juga,"
"Maksudnya apa Noval? Ibu belum paham, maksud dari perkataan kamu,"
"Ibu pernah ingin menjodohkan aku dengan seseorang kan? Ibu juga bilang, gadis itu baik dan sopan dengan ibu," Noval kembali mengingatkan ibunya kembali.
Bu Hesti mengingat kembali, apa yang di katakan putranya tersebut.
"Apa yang kamu maksud itu Hasna, anak pak Fadil. Teman SMP kamu itu bukan?" tebak Bu Hesti, dan diangguki oleh Noval.
"Benarkah Nak? Kamu sudah memiliki hubungan dengan Hasna?" tanya Bu Hesti memastikan kembali.
"Iya ibu, Hasna anaknya pak Fadil. Masa aku bohong dengan ibuku tersayang," jawab Noval dengan menyentuh wajah ibunya.
"Sebenarnya aku sudah memiliki hubungan dengannya, sudah empat bulan ini. Namun belum bilang sama ibu, aku ingin memberi kejutan untuk ibu. Mangkanya kemarin aku mengobrol dengan dia kan, saat dia datang. Aku juga sudah bilang ke Hasna, ingin meminangnya, tapi setelah Kinan melahirkan. Ia pun juga tak keberatan, karena dia sangat pengertian Bu,"
__ADS_1
Bu Hesti tersenyum mendengar cerita putra kesayangannya. beliau sangat terharu, bertapa perhatian dan pedulinya, sang putra kepada dirinya. Sampai wanita yang di inginkan olehnya untuk menjadi menantunya, putranya pun mau mendekatkan dari dengan gadis itu.
Bersambung ...