
Karena tak ingin membahas tentang kejadian siang tadi, Ferdian meminta untuk menghentikan pembicaraan nya kepada istrinya. Karena yang saat ini mereka butuhkan adalah beristirahat.
Pagi harinya.
Erina pagi-pagi sekali sudah bangun, karena suhu tubuh suaminya sudah lebih baik Ia membuatkan sarapan pagi untuk Ferdian.
Benar yang Ferdian katakan, dirinya sakit. Yang dia butuhkan hanyalah istrinya, berada di sampingnya. Baginya itu sudah cukup untuk pengganti obat untuknya.
Ada ya kaya gitu? Kamu mah sakit bucin Fer," ( kata Othor, hihihi)
Erina masuk ke kamarnya, lalu membuka gorden, agar cahaya matahari dapat masuk ke dalam kamarnya.
Ferdian pun membuka matanya, bibirnya berbentuk senyuman, saat dirinya melihat bidadari di hadapannya.
Erina menyentuh kening Ferdian.
"Masih sedikit panas. Kita kerumah sakit ya! Jujur aku khawatir sama kamu."
Ferdian memegangi tangan istrinya, lalu di arahkan ke pipinya. Sesekali ia kecupnya, membuat Erina tersenyum melihat sikap suaminya.
"Gak usah sayang, aku hanya kelelahan aja kok. Kan sudah ada kamu, jadi aku gak butuh obat." Goda Ferdian, dengan menyentuh pipi istrinya.
"Gak bisa gitu dong Mas. Ya sudah kalau kamu gak mau berobat, aku juga gak mau minum vitamin dan susu hamilnya!" ucap Erina merajuk dengan bibir cemberutnya.
"Hey sayang, jangan marah dong!" Ferdian menggenggam tangan Erina dengan erat. Dirinya tidak ingin istrinya kembali merajuk.
"Mangkanya kamu mau ya, berobat? Jujur aku khawatir dengan kondisi kamu. Aku juga merasa bersalah, sudah marah sama kamu," ucap Erina dengan rasa bersalahnya.
Ferdian mengubah posisinya menjadi duduk menghadap Erina.
"Ya ampun sayang. Kamu jangan merasa bersalah, di sini Qia sudah memanfaatkan keadaan. Jika itu di posisi aku, yang melihat kamu seperti itu. Aku juga pasti akan sangat marah." Jelas Ferdian menyentuh kedua pipi Erina
Terlihat mata Erina sudah mengembun, membuat Ferdian menghapus air matanya dengan lembut.
__ADS_1
Cup!
Cup!
Ferdian mengecup bibir istrinya, dua kali.
"Jangan menangis ya! Aku tidak bisa melihat kamu menangis. Aku akan mengikuti apa yang kamu katakan. Kamu ingin aku berobat kan?" Erina mengangguk.
"Yasudah aku akan turuti," ucap Ferdi dengan senyum nya.
Ferdian mengambil alat gawai nya, lalu menghubungi seseorang.
"Hallo, Tommy. Sekarang elo ke rumah gue ya!"
"....
"Iya, kurang sehat,"
"....
Setelah itu Ferdian mematikan panggilan teleponnya, dan tersenyum menatap wajah istrinya. Erina mengerutkan keningnya menatap suami dengan tanda tanya.
"Kenapa si sayang, hemm? Entar pak dokter datang kesini,"
"Memang dia siapa?" tanya Erina.
"Dia teman ku saat ku masih tinggal dengan ayah dulu. Aku baru tau tiga tahun lalu, kalau dia sekarang menjadi Dokter. Di rumah sakit elit, tak jauh dari restauran milik ayah Hamzah," jelas Ferdian.
"Ow ayah Hamzah punya banyak usaha ya? Termasuk restauran?"
"Bukan hanya itu. Ayah selain punya pabrik coklat, dia juga masih punya restauran, terus usaha minuman jaman sekarang, sama beliau juga menanamkan saham di perusahaan cukup terkenal di Jakarta. Ada beberapa perusahaan lainnya,"
"Wow ... suami ayah Hamzah orang hebat ya ternyata," ucap Erina dengan bangga.
__ADS_1
"Kalau ayahku hebat, suami kamu memangnya tidak hebat?" ucap Ferdian dengan mencebikkan bibirnya.
Erina tersenyum melihat suaminya.
"Pastinya suamiku lebih hebat." Ucap Erina sambil mengambil sarapan untuk suaminya. "Sekarang dimakan ya sarapannya!"
Ferdian tersenyum dengan Erina yang merayunya seperti anak kecil.
"Beneran kala suami kamu hebat?" tanya Ferdian, lalu memakan sarapan dari tangan istrinya.
"Iya hebat untukku dan anak ku," jawab Erina dengan tersenyum.
"Buktinya apa? Kalau aku ini hebat. Aku butuh bukti!"
"Lah ko begitu." Ferdian mengangguk, dan Erina nampak berpikir.
"Yasudah kamu tutup mata dulu!" suruh Erina.
Ferdian pun menuruti perintah Erina, ia pun segera menutup matanya, dengan hati yang tergelitik karena sikap istrinya yang nampak malu.
Ferdi tau kalau istrinya ingin melakukan apa kepadanya.
Erina tersenyum menatap suaminya yang kemeja mata.
Cup!
Cup!
Ferdian merasa sesuatu menyentuh bibirnya, namun bukan sesuatu yang dia inginkan. Melainkan ada rasa gurih saat di rasakan.
Saat matanya terbuka, alangkah terkejutnya, kalau istrinya memegang ayam goreng bagian pa*anya dengan bibir yang tersenyum menatap wajah suaminya.
"Sayang. Jadi bukan kamu yang mencium ku. Melainkan ayam goreng itu yang kamu letakkan di sini?" tanya Ferdian sambil menunjuk bibirnya.
__ADS_1
Erina mengangguk dan terkekeh, Ferdian membelalakkan matanya. Dengan raut wajah frustasi, Ferdi menutup wajahnya dengan telapak tangan. Bayangan nya tak sesuai ekspektasi.
Bersambung...