Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Ikut bersama kamu


__ADS_3

Dari kejauhan Noval yang baru pulang dari pemakaman, melihat di rumahnya sedang memanas, segera langsung menghampiri.


"Ada apa ini rame-rame Kak?" tanya Noval, yang melihat wajah orang di sana, terlihat sedang emosi.


Noval melihat Damar yang masih berada di rumahnya sedang menunjukkan wajah marah menatap Ferdian.


"Kak Damar, bukannya kamu sudah pulang. Lalu kenapa sekarang di sini?" tanya Noval dengan tatapan garang.


"Dia ingin membawa Zio dek," adu Erina membuat rahangnya mengeras, dan menatap Damar dengan tatapan tajam.


"Dengar ya Kak! Jika memang kamu punya hati, dan menghargai kami yang sedang berduka. Sebaiknya Kakak pulang, dan jangan membuat masalah di sini!" ucap Noval dengan tegas, mirip seperti ayahnya.


Damar sendiri, melihat wajah Noval terlihat marah. Dirinya tidak ingin membuat keadaan semakin memburuk.


"Aku hanya rindu dengan putraku. Apa aku tidak boleh menemuinya?" tanya balik Damar.


"Jika kamu ingin menemuinya, aku tak akan melarang. Tapi jika kamu ingin mengambilnya dengan paksa, aku jelas tidak terima!" jawab Erina, dengan mata yang sudah mengembun. "Di mana perasaanmu? Aku saat ini sedang berduka, begitu juga Zio. Tetapi kamu malah membuat kesedihan ku semakin bertambah!"


Erina terlihat emosi dan meluapkan uneg-unegnya yang selama ia pendam.


"Sekarang aku minta kamu pergi dari rumah ini!" kata Erina dengan mengusir Damar.


Karena rumah Erina sudah ramai dengan para pelayat. Karena dirinya tidak ingin membuat masalah, Damar pun akhirnya meninggalkan tempat itu.


Suasana rumah sudah mulai sepi, dan hanya terdengar suara jangkrik yang saling bersautan.


Kini waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Ferdian kini sedang duduk bersama Erina memperhatikan Zio yang sedang tertidur.


Jujur saja, selama dekat dan menjalin hubungan bersama Erina. Ferdian jarang untuk duduk berdua seperti ini, pasti selalu di tengah-tengah mereka ada Zio yang menemaninya.

__ADS_1


Apalagi sekarang setatus mereka sudah menjadi pasangan suami-istri, terlihat gugup pada mereka berdua, di dalam satu ruangan yang sama. Meskipun ada Zio yang sedang tertidur, namun rasa canggung masih melekat, terutama pada Erina.


"Rin," panggil Ferdian dengan lembut.


"Iya Ferdi ada apa," jawab Erina, namun terlihat dirinya menjadi salah tingkah.


"Aku ingin ngajak kamu dan Zio, untuk menginap di apartemen. Apa kamu mau?" tanya Ferdian, membuat Erina menatapnya, untuk meminta penjelasan.


"Maaf! Tetapi jika kamu mau di sini, tidak papa, aku akan bersama Joddy yang akan menginap di sana,"


Erina nampak berpikir dengan ajakan pria yang kini sudah menjadi suaminya. Sebenarnya di hati Ferdian ingin sekali wanita di hadapannya ikut dengannya, tetapi dia tidak bisa memaksanya.


"Aku sekarang sudah menjadi istri kamu, aku pasti ikut bersama kamu." Ferdian terkejut dengan jawaban dari Erina yang ingin ikut bersamanya.


Ferdian sangat bahagia mendengarnya, lalu tersenyum menganggukkan kepalanya. Erina pun keluar kamar, menemui keluarganya untuk mengatakan ingin tinggal bersama suaminya.


Sedangkan Ferdian tersenyum menatap wajah Zio yang tertidur dengan sangat pulas. "Ayah akan jaga kamu dan ibumu Nak,"


"Bagaimana?" tanya Ferdian.


"Sebenarnya mereka tidak ingin aku pergi, tapi karena aku sudah mempunyai kamu. Mereka tidak bisa melarangnya," jelas Erina membuat Ferdian tersenyum. "Apakah besok kita kesini lah, sampai acara ayah selesai?"


"Pasti dong, kamu jangan khawatir! Kita akan tetap di sini sampai selesai," jawab Ferdian membuat Erina tersenyum.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu," Ferdian mengangguk.


Kini Erina sambil menggendong Zio, keluar kamar dengan Ferdian yang membawa tas milik anak dan istrinya. Kini mereka menemui keluarganya untuk berpamitan.


Setelah berpamitan, mereka keluar menuju mobil yang sudah menunggu di halaman. Ferdian mengajak Erina dan Zio untuk duduk di kursi belakang bersamanya, dengan Joddy yang mengendarai mobilnya.

__ADS_1


Zio berada dalam pelukan ibunya, sedangkan Ferdian tak henti-hentinya menggenggam tangan Erina.


Ferdian tersenyum saat merasakan tangan wanita di sebelahnya terasa dingin. Karena merasa mengantuk, Erina pun memejamkan matanya, tanpa sadar kepalanya bersandar di pundak Ferdi.


Ferdian pun tersenyum, lalu menyentuh pipi Erina yang saat ini sedang memejamkan matanya. Sedangkan Joddy ikut tersenyum melihat bos nya yang saat ini terlihat bahagia.


Tentang Joddy.


Joddy adalah keponakan dari pak Hamzah, yaitu ayah sambungnya Ferdian. Yang memang tinggal bersama keluarga Bu Nabilla.


Joddy sendiri berusia dua puluh enam tahun. Dia sebenarnya adalah Asisten pribadi Ferdian sekaligus supir pribadi yang menemani hari-harinya.


Selain Joddy ada juga Alan yang di percaya Ferdi untuk mengurus usahanya. Ferdian sudah mempercayakan mereka semua kepada mereka, dan mereka pun juga bisa menjaga kepercayaan yang di berikan oleh atasannya.





Kini mereka sudah sampai di apartemen, Joddy mengantarkan Ferdian dan keluarga menuju kamarnya.


Saat sampai di sebuah kamar yang cukup luas, dengan kasur yang lumayan besar. Membuat Erina kembali mengingat dirinya tinggal di rumah yang besar saat masih bersama Damar.


"Yuk masuk!" ajak Ferdian menggandeng tangan Erina.


Erina mengikuti langkahnya, yang menuju tempat tidur yang besar.


"Letakkan Zio di sini! Pasti kamu keberadaan?" kata Ferdian membuat Erina meletakkan Zio di atas tempat tidur, anak itu terlihat sangat pulas.

__ADS_1


Erina duduk di pinggir tempat tidur, dengan Ferdian yang membawa kursi lain, dan duduk di hadapannya, dengan wajah yang masih menatap wanita di depannya.


Bersambung....


__ADS_2