
Saat seluruh keluarga duduk di ruang tamu. Erina masih setia di samping suaminya, tangan Ferdian pun semakin enggan melepaskan tangan istrinya.
Noval melihat keluarganya ada yang tidak ada. "Bu, kak Qia dan Kak Azriel dan bang Joddy kemana?"
"Kakak kamu kurang sehat, Azriel dan Joddy mengantar nya ke rumah sakit,"
"Sakit apa Bu kak Qia?" tanya Noval dengan rasa khawatir.
"Ibu juga tak tau Nak. Kan memang beberapa hari ini dia selalu lemas, kita do'akan dia baik-baik saja,"
Tidak lamanya terdengar suara seru mesin mobil berhenti, dan terlihat Azriel membantu Asqia berjalan. Bu Hesti segera menghampirinya.
"Bagai Zriel Qia sakit apa?" tanya Bu Hesti.
"Bu biarkan kak Qia duduk dulu!" timpal Noval, yang juga membantu kakaknya.
"Syukur Qia baik-baik aja Bu," ucap Azriel dengan menggenggam tangan istrinya.
"Lalu kata dokter Qia sakit apa? Kalau dia baik-baik aja kenapa dia pucat dan lemas?" tanya beruntun Bu Hesti yang khawatir.
"Alhamdulillah Qia baik-baik aja, semua itu karena bawaan dari bayi yang ada di dalam kandungannya." Jawab Azriel dengan menyentuh perut istrinya yang masih rata.
"Jadi Asqia kamu sedang hamil Nak?" tanya Bu Hesti, Qia mengangguk.
"Kata dokter, kandungan aku sudah berusia tiga bulan," jawab Qia.
"Alhamdulillah ." Ucap seluruh keluarga, dengan rasa bahagia.
Bu Hesti memeluk Asqia dengan rasa bahagia.
"Alhamdulillah sayang, ibu senang mendengar kabar bahagia ini Nak. Semoga kamu dan bayi di kandungan kamu sehat." Seraya mengusap perut sang putri.
"Amiin ... terima kasih Bu. Aku juga senang akhirnya aku di kasih kesempatan dengan cepat untuk hamil kembali." Jawab Qia dengan bulir air mata.
"Alhamdulillah. Rumah ini akan ramai setiap kedatangan kalian," timpal Noval .
"Pastinya, kami juga akan menunggu kabar baik dari kamu Val!" ledek Ferdian .
"Tenang kak. Bismillah semoga istriku juga di berikan titipan oleh Allah secepatnya." Kata Noval, sambil merangkul istrinya, yang tersipu malu.
"Amiiinn ..." Ucap keluarga.
__ADS_1
"Kak Hasna, kaya nya kak Noval kejar target nih, buat punya baby!" ledek Kinan, membuat semua terkekeh.
Tapi Hasna yang mendengarnya, sangat malu saat adik ipar menggoda dirinya.
Bu Hesti menatap wajah putra putrinya, yang sudah memiliki pasangan masing-masing. Ia merasa bahagia saat melihat mereka semua.
Entah kenapa bulir bening lolos begitu saja dari pelupuk matanya, saat melihat senyuman kebahagiaan anak-anaknya.
'Mas Bagas, aku sangat merindukan kamu. Sekarang anak-anak sudah bahagia dengan pasangan mereka. Apa bisa aku menyusul mu mas, aku ingin bersamamu di surganya.'
Bu Hesti tersenyum melihatnya pemandangan bahagia yang saat ini di depannya.
Hingga tiga bulan kemudian. Kabar bahagia datang dari Noval, yang di mana sang istri sedang mengandung. Bu Hesti sangat bahagia mendengar menantunya sedang mengandung.
Kabar kehamilan Hasna, terdengar oleh Ferdian. Yang di mana laki-laki itu meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.
"Yank," panggil Ferdian.
"Hemm ... kenapa Mas?" tanya Erina seraya membelai rambut suaminya.
"Asqia sedang hamil, dan Noval pun istrinya juga sama sedang mengandung. Rasanya aku ingin menambah anak lagi deh. Tambah yuk Yank!" ucap Ferdian, membuat Erina melongo mendengar.
"Kamu gak salah ngomong Mas? Mau tambah anak kok kaya nambah jajanan!" celetuk Erina dengan rasa kesalnya.
Sedangkan Erina yang mendengarnya, sudah bergidik ngeri. Apalagi membayangkan rasa sakit, setelah operasi.
"Kalau kamu mau tambah anak, kamu saja yang hamil dan melahirkan. Biar kamu merasakan nikmatnya seperti apa!" celetuk Erina, membuat Ferdian terkikik geli mendengarnya.
"Khikhikhik .... kamu ada-ada aja. Masa aku disuruh hamil, mau keluar dari mana? Dari dua biji salak!" Jawab Ferdian.
Erina tertawa mendengarnya.
"Lagian kamu, ada-ada aja. Yuna aja masih kecil banget. Rasanya jaitan pun masih terasa, kalau lagi datang nyerinya. Sekarang kamu udah nyuruh aku hamil lagi. Memang kamu tega sama aku Mas?" tanya Erina dengan cemberut.
"Ya gak tega lah. Masa istri ku kesakitan aku bahagia, yang ada aku hampir gil* tau gak!"
"Mangkanya, kamu ngertiin aku dong!"
"Iya sayang, maaf ya! Lagian kamu KB kan?" tanya Ferdian.
"Iya, tapi pertanyaannya kamu mengarah ke sana. Setidaknya, kamu akan meminta aku untuk berhenti menggunakannya!" celetuk Erina dengan bibir cemberut.
__ADS_1
"Uuuhhh ... istriku kalau sedang cemberut seperti itu bikin gemas tau gak," goda Ferdian, membuat Erina tersenyum, tak jadi marah.
Enam bulan kemudian.
Asqia saat ini tinggal bersama Bu Hesti. Yang di mana, Qia sudah mendekati waktu persalinan.
Azriel yang sudah di angkat mejadi leader untuk di bagian kebersihan, oleh Ferdian. Ia juga kini sudah mengambil cuti untuk menemani istrinya.
Karena Qia, sudah sering menunjukkan tanda-tanda akan mendekati waktu persalinan. Mangkanya Bu Hesti meminta Azriel untuk tinggal bersama mereka.
Pagi harinya, Azriel mengajak sang istri untuk jalan sehat. Setelah cukup lelah, ia meminta untuk pulang.
Saat sampai di rumah, dan beristirahat sejenak. Entah kenapa perut Qia, meras seperti ada yang bergerak dan berputar. Bahkan rasanya sangat sakit, sampai tak sanggup menahannya. Karena rasa mulasnya sudah datang lebih sering.
"Mas Azriel ..." teriak Asqia saat sang suami sedang berada di dalam kamar mandi.
Bu Hesti yang mendengar suara putrinya berteriak, segera membuka pintunya. Benar saja, saat di lihat Qia, sedang meringis menahan rasa sakitnya.
"Ya Allah Nak, kamu kenapa sayang?" Bu Hesti membantu Asqia duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Mas Azriel di mana Bu? Huuuuff ... aku sepertinya akan melahirkan. Sakit Bu ..." rintih Asqia.
"Sepertinya sedang mandi Nak suami mu." Jawab Bu Hesti menyentuh perut Qia.
Tidak lamanya Azriel datang selesai mandi menggunakan celana pendek dan kaos oblong berwarna abu-abu. Ia terkejut saat melihat sang istri sedang meringis menahan rasa sakitnya.
"Ya Allah Bu, Qia kenapa?" Azriel berjalan menghampiri istrinya.
"Katanya perutnya sakit, dan sepertinya dia akan melahirkan Zriel. Lebih baik kita bawa ke rumah sakit!" kata Bu Hesti.
Azriel mengangguk, lalu membawa istrinya kerumah sakit. Ia nampak tak tega melihat Asqia merintih kesakitan.
'Ya Allah aku tak tega melihatnya kesakitan seperti ini. Andaikan bisa di gantikan, biarkan rasa sakitnya itu, aku yang merasakan.'
"Mas, sakit!" rengek Qia.
"Ya Allah sayang, sabar ya! Sedikit lagi kita sampai." Seraya menyentuh perut istrinya.
Dengan sabar Azriel menghapus keringat yang membasahi wajah istrinya. Sambil membantunya untuk mengatur nafasnya.
Noval yang mengantar, merasa tak tega melihat kakaknya sedang meringis kesakitan. Ia jadi kepikiran istrinya, yang sekarang usia kandungannya sudah enam bulan.
__ADS_1
Bersambung ....