
Seminggu kemudian, kondisi Zio sudah semakin membaik. Erina pun juga sudah tak melarang jika Ferdian ingin menemui putranya.
Hingga suatu hari, Zio merengek ingin jalan-jalan. Akhirnya Ferdian pun menyanggupi permintaan anak itu, untuk melihat macam-macam bentuk binatang.
"Oom, tuh apa?" tanya Zio, saat melihat bintang dengan belalai panjang.
"Itu gajah, Zio suka melihat gajah?" tanya balik Ferdian, dan Zio mengangguk.
Zio pastinya sangat senang, karena bisa jalan-jalan bersama Ferdian dan ibunya. Meskipun, posisi anak itu di gendong oleh Ferdi, sedangkan Erina berada di belakangnya.
"Bubu, enum ( ibu minum)!" pinta Zio, Erina pun langsung memberikan botol ke putranya.
"Kamu haus gak Fer?" tanya Erina.
"Lumayan haus, kenapa kamu capek juga.? Kalau iya kita istirahat dulu aja!" jawabnya dengan lembut, mengkhawatirkan Erina.
Erina mengangguk. "Ya sudah kita istirahat saja. Aku lihat kamu lelah karena menggendong Zio," Ferdian pun tersenyum mendengarnya lalu menganggukkan kepalanya.
Erina dan Ferdian mencari tempat untuk bisa istirahat. Akhirnya mereka mendapatkan tempat yang di mana tersedia tempat untuk duduk, ada penjual kopi, dan tempatnya pun juga adem di bawah pohon.
"Ferdian, Zio tertidur." Erina melihat putranya memejamkan matanya saat di gendong oleh Ferdi.
__ADS_1
"Biarkan saja Rin, kasian kalau di bangunin. Kita di sini ya? Sebentar kamu pegang Zio sebentar!" Erina pun mengangguk, dan kini putranya sudah berada padanya.
Abhi meletakkan sebuah jaket, lalu di lipat. Agar bisa dijadikan bantal untuk Zio. Kini Ferdian mengambil anak kecil itu dari tangan ibunya, lalu di letakkan di atas tempat yang sudah di alasi olehnya.
Lagi-lagi Erina di buat kagum dengan sikap Ferdian yang terlihat luwes seperti seorang ayah.
Kini Erina dan Ferdian sudah duduk di atas alas yang sudah di sewanya. Ferdi pun memesan minuman dan makanan untuk mereka berdua.
Ferdi menatap wajah Erina, yang nampak terlihat cantik, apalagi dengan senyuman manisnya. Dirinya begitu betah memperhatikan gadis yang berada di hadapannya itu.
"Erina," panggil Ferdian.
Tangan Ferdian bergerak untuk menyentuh tangan gadis di hadapannya, dan membuat nya tercengang.
"Ferdian,"
"Maaf, jika aku lancang! Tetapi aku ingin mengatakan ini ke kamu, sejak lama." Ucap Ferdian,dan Erina menatap wajah laki-laki di hadapannya saat ini.
"Rin, kami tau kita sudah saling kenal sejak lama. Kamu pun tau aku pernah mengatakan isi hatiku saat dulu. Hanya saja, laki-laki itu lebih dulu mengambil kamu kembali," di sana Erina masih mendengar apa yang di katakan Ferdian.
"Bahkan sampai sekarang ini, nama kamu masih tersimpan di sini," ucap Ferdi dengan menunjuk ke arah dadanya. "Erina, aku masih memendam hatiku untuk kamu.
__ADS_1
Erina terkejut mendengarnya, jika laki-laki di hadapannya masih menyukainya.
"Ferdian,"
"Uuusssttt ... kamu diam! Biar aku yang bicara!" kata Ferdian meletakkan jarinya di bibirnya agar Erina diam.
"Rin, mungkin aku mengatakan ini jauh dari kata romantis. Tetapi aku ingin mengatakan jujur ke kamu. Aku sudah tidak bisa lagi memendam perasaan ku ini. Erina, aku sayang kamu dan Zio, aku ingin memiliki kamu dan anakmu seutuhnya. Aku ingin menjadi bagian dari kehidupan kalian berdua." Ucapan Ferdian mengutarakan isi hatinya, dan membuat gadis dihadapannya mengeluarkan bulir bening.
"Tapi Ferdian, aku ini ..." Erina tak melanjutkan perkataannya, karena Ferdian menyelaknya.
"Kamu ini apa? Single parent, mempunyai anak satu. Lalu salahnya di mana? Toh aku juga gak memandang setatus kamu. Rin aku suka kamu, apapun posisi kamu. Aku mengatakan ini, bukan karena sesaat, aku tulus Erina." Terlihat raut wajah serius pada Ferdian, membuat dirinya tak bisa berkata-kata.
"Aku mau bertemu kamu dan Zio setiap hari, tanpa di halangi waktu dan keadaan. Aku juga tidak bisa jauh dari kalian berdua, dan aku ingin menjadi suami mu sekaligus ayah untuk putra kamu Rin!" terlihat kejujuran dari sorot mata Ferdian.
Erina terharu mendengar permintaan Ferdian. Entah kenapa hatinya terenyuh dengan apa yang di katakan laki-laki di hadapannya.
"Ferdian apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan? Fer, kamu tau aku ini siapa, dan aku juga mempunyai seorang putra. Aku hanya tidak ingin, nantinya kamu menyesal dengan keadaan aku yang berstatus single parent. Aku hanya tidak ingin kamu dikucilkan dengan adanya aku. Karena kamu masih bisa mendapatkan seseorang wanita yang lebih dari aku!" jelas Erina, dan laki-laki itu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang mengucilkan ku, dan aku juga hanya ingin kamu yang menjadi milik aku!"Ferdian mengatakan penuh dengan keyakinan, sambil menatap Erina.
Bersambung....
__ADS_1