
Erina yang tersadar jika ada suaminya di hadapannya, langsung membuka matanya. Dirinya langsung tersenyum kepada laki-laki yang memiliki senyuman hangat kepadanya.
"Selamat pagi sayang," sapa Ferdian dengan senyuman manis.
"Pagi Mas," jawab Erina dengan matanya yang masih berat untuk dibuka, dan itu membuat Ferdian merasa gemas.
"Kamu masih ngantuk?" Erina menggelengkan kepalanya, "Lalu kamu kenapa beluk bangun?"
"Aku lagi males turun dari tempat tidur Mas, kepalaku rasanya muter-muter kalau bangun dari sini," jelas Erina, yang melingkari tangannya di pinggang suaminya, dan itu membuat Ferdian terkekeh melihat tingkah istrinya.
"Kamu kenapa? Kalau sakit kita ke dokter yuk!" bujuk Ferdian, Erina menggelengkan kepalanya.
"Aku gak sakit, kenapa harus ke dokter segala. Aku cuma ingin deket-deket sama kamu. Sini dong Mas!" rengek Erina, Ferdi merasa sikap istrinya sangat aneh hari ini.
Ferdian pun akhirnya diam membiarkan istrinya yang bersikap manja kepadanya. Sambil membelai lembut rambutnya yang sedang tak menggunakan hijab.
"Sayang, aku minta maaf ya! Semalam aku mendiami kamu, dan tertidur lebih dulu. Tapi jujur, semalam aku merasa tubuh ku sangat lelah. Aku juga sedang tidak ingin membahas Damar juga." Ucap Ferdian merasa bersalah kepada istrinya.
"Aku mengerti Mas, justru aku yang merasa bersalah sudah membahas dia di saat waktu yang kurang pas." Erina dengan senyum kecutnya.
"Gak papa, sudah jangan di bahas. Aku ingin kamu selalu bahagia, tanpa mengingat kesedihan saat kamu bersama dia dulu." Jelas Ferdian dan Erina mengangguk.
"Oh iya kamu mau ikut gak? Aku niatnya mau ngajak jagoan dan kamu jalan-jalan,"
"Kemana Mas?"
"Kemana aja. Mungkin ke Mall, atau ke taman kota," jawab Ferdian membuat Erina sepertinya tertarik, dengan ajakan suaminya itu.
"Yasudah aku ikut, aku mandi dulu ya," kata Erina yang sudah bangun dan duduk.
"Ikut," jawab Ferdi, Erina menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Kemana?" tanya Erina, sedangkan Ferdian tersenyum nakal lalu menaikan kedua alisnya. Membuat Erina tersenyum melihat tingkah lucu suaminya.
Tanpa banyak tanya, Ferdian pun menggendong Erina ala bridal style. Lalu melangkah menuju dalam tandas, dan mereka melakukan rutinitas yang Othor sendiri tak tau. wkwkwkw ...
__ADS_1
Kini keduanya sudah keluar dari dalam tandas dengan wajah yang terlihat segar, dan rambut basah. Erina sendiri juga sudah tak terlihat lemas seperti tadi saat bangun tidur.
Saat Erina sedang berias diri, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Ferdian pun membuka pintu kamar, dan terlihat Zio sedang tersenyum serta penampilan sudah rapih.
"Yayah, Iyo sudah tuwen. Ayo alan-alan ( Ayah Zio sudah keren. Ayo jalan-jalan)!" kata anak itu dengan senyuman manisnya.
"Waah ... iya anak ayah sudah keren. Ayo masuk bubu sedang siap-siap." jawab Ferdian, yang menggendong putranya, dan menutup pintu kamarnya kembali.
"Bubu, jagoan ayah sudah keren nih." Ucap Ferdian dengan menggendong Zio.
"Waah ... iya anak bubu sudah ganteng itu, kaya ayahnya. Sebentar ya sayang,"
Ferdian dan Zio saling menatap dan tersenyum, lalu menjawab. " Iya Bubu sayang,"
Membuat Erina tersenyum melihat suami dan putranya, dari pantulan kaca.
Kini Erina sudah terlihat rapih menggunakan pasmina berwarna salem. Terlihat wanita di hadapannya Ferdian dan Zio nampak cantik berseri.
"Bubu cantik ya?" tanya Ferdian ke putra kecilnya.
"Terimakasih dua pria tampan bubu." Timpal Erina yang memberikan kecupan di pipi Zio dan suaminya.
"Sekarang Bubu sudah siap. Yuk kita berangkat sekarang!" ajak Erina yang menggandeng lengan suaminya, dengan senyuman manisnya.
Ferdian menatapnya dengan rasa senang. Sebenernya dirinya merasa aneh, karena sikap manja istrinya saat pagi tadi. Tapi dirinya suka dengan kemanjaan Erina hari ini, kepadanya.
"Yasudah yuk kita berangkat!" ajak Ferdian.
"Kamu terlihat menggemaskan dan sangat cantik 10 kali lipat loh." Bisik Ferdian di telinga istrinya, membuat Erina tersenyum malu.
"Masa sih. Terimakasih loh Mas,"
Terimakasih aja nih, hadiahnya gak?" sindir Ferdian, membuat Erina akhirnya mengecup pipi suaminya.
Zio yang melihatnya langsung protes.
__ADS_1
"Bubu, ko Yayah aja yang di sayang. Iyo endak!" kata anak itu dengan bibir cemberut, membuat Erina dan Ferdian terkekeh.
Erina pun tersenyum, lalu mencium pipi putra kecilnya." Udah kan."
Zio merasa senang dan tersenyum.
Kini mereka bertiga sudah masuk kedalam mobil. Ferdian membawa anak dan istrinya jalan-jalan.
Ferdian membawa anak istrinya ke Mall yang besar. Menemani putranya ke suatu wahana permainan, yang menjadi tempat favoritnya.
"Yayah Iyo mau main itu." Tunjuk Zio ke sebuah permainan.
"Oke kita ke sana." Jawab Ferdian dengan semangat berjalan menuju ketempat permainan yang Zio tunjuk.
Ferdian dan Erina menemani Zio menikmati semua pemainnya, anak itu terlihat bahagia. Dengan tertawa jenaka yang membuat mereka sebagai orang tua ikut merasakan kesenangan putranya.
"Hahahah sepertinya anak Yayah sudah lelah?" Ferdian tertawa melihat putranya gelendotan kepadanya.
"Iyo haus Yah, mau minum,"
"Oke kalau begitu kita beli minum ya!" ajak Ferdian.
"Kamu saja sama Zio Mas, yang membeli minumannya. Aku lelah banget rasanya," jawab Erina yang duduk di sebuah kursi yang tersedia di Mall tersebut.
"Kamu gak papa kan sayang? Kamu sejak tadi pagi kayanya sedang kurang sehat. Bagaimana habis ini kita ke dokter ya? Heemm ..." Sambil menyentuh kening istrinya.
"Aku gak papa Mas, tidak perlu ke dokter segala." Erina dengan tersenyum. "Sekarang kamu beli minum ya! Untukku dan Zio," dengan wajah memohon.
"Yasudah aku belikan minum dulu." Ferdian pun berdiri. " Zio mau ikut Yayah, atau ikut bubu?"
"Iyo ikut bubu aja, Yah!" jawab anak itu, sudah menyentuh tangan ibunya.
"Anak pintar! Yasudah kalau begitu Yayah beli minuman dulu ya, untuk kalian. Kamu jagain bubu ya ganteng," Zio dan Erina mengangguk.
Ferdian pun tersenyum lalu meninggalkan anak dan istrinya, untuk membeli minuman. Sedangkan Erina dan Zio duduk di kursi.
__ADS_1
Bersambung ....