Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Ferdian dan pak Bagas


__ADS_3

Erina nampak tersenyum malu, saat Ferdian menatapnya terus menerus.


"Ferdian kamu kenapa menatap aku seperti itu? Apa kamu tidak bosan?" tanya Erina Ferdian pun menggelengkan kepalanya.


"Aku merasa seperti mimpi, duduk berdua sama kamu, di satu kamar." Membuat kedua pipi Erina terasa hangat, saat mendengarnya.


"Memang kenapa kamu merasa seperti mimpi? Ferdian aku bukan gadis istimewa, seperti yang kamu katakan,"


"Tetapi kamu istimewa untuk aku. Terserah tanggapan yang lain tentang kamu seperti apa, tapi buat aku kamu dan Zio itu spesial buat aku," ucapan Ferdian berhasil membuat Erina berbunga-bunga.


Ferdian berpindah duduk di samping Erina, sambil menggenggam tangan, lalu di kecupnya. Setiap perlakuan dan ucapan yang di katakan Ferdi, membuatnya terbang melayang, karena laki-laki di hadapannya selalu mengistimewakan dirinya dan juga Zio.


Ferdian meletakkan membawa tangan Erina, dan di tempelkan di pipinya, lalu di kecupnya.


"Aku cinta kamu. Bertahun-tahun aku berharap agar kamu menjadi istriku, ternyata Allah mendengar doaku." Entah kenapa ada rasa takut di benak Erina.


Ferdian pun menyentuh wajah istrinya, agar dirinya dapat melihatnya. Namun saat Erina menatapnya, terlihat matanya yang mengembun.


"Erin, kamu kenapa? Ko kamu menangis?" tanya Ferdi dengan lembut, saat melihat bulir bening itu berhasil lolos membasahi pipinya.


"Ferdian, aku harap kamu tidak hanya berbicara saja, dan hanya sekarang saja bersikap baik seperti ini. Semoga kamu terus menyayangi ku, dan Zio untuk selamanya." Ferdian menghapus air mata Erina, lalu mengecup keningnya.


"Kamu jangan takut, aku akan menyayangi kamu dan Zio untuk selamanya. Karena sekarang kalian adalah keluargaku, dan tanggung jawab ku untuk melindungi kalian. Aku mengatakan ini, bukan sekedar bicara dan bual belaka. Aku juga akan membuktikan itu semuanya, kepada kalian." Ucap Ferdian dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


Erina menganggukkan kepalanya, dan tersenyum. Ferdian membawanya kedalam pelukannya, lalu memberikan kecupan hangat di keningnya, serta membelai kepalanya yang tertutup dengan hijab.


Entah kenapa Erina merasa tenang saat mendapatkan pelukan dari Ferdian. Rasa sedih karena kehilangan ayahnya, bisa membuatnya bisa tersenyum, atas sikap manis dari laki-laki yang kini bersamanya.


Keesokan paginya.


Waktu menunjukkan pukul 05.00. Mata Erina terbuka, dan alangkah terkejutnya saat melihat seorang pria sedang menatapnya dengan tersenyum.


"Assalamu'alaikum ..." sapa Ferdian dengan senyuman hangat di waktu subuh.


"Waalaikumsallam," jawab Erina dengan rasa gugup. Karena sudah sekian lama, dirinya tidur sendiri, dan sekarang ada yang menemaninya.


"Kamu kenapa menatapku dengan seperti itu?" tanya Erina.


"Semalam kamu tertidur sangat pulas, sampai Zio menangis kamu tidak mendengarnya," jelas Ferdian, membuat Erina menatap putranya.


"Zio semalam terbangun?" tanya balik Erina.


"Heem! Dia terbangun, terus aku buatkan susu untuknya, ternyata dia tertidur kembali," jawab Ferdian membuat Erina tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih sudah mau di repotkan Zio untuk susunya!"


" Sama-sama sayang," jawabnya dengan tersenyum.

__ADS_1


Kini keduanya untuk pertama kalinya mereka melakukan shalat subuh berdua. Ada rasa getaran kebahagiaan yang saat ini mereka rasakan.


Saat Ferdian menoleh kebelakang, dirinya melihat Erina sedang menangis dalam doanya. Ferdi pun kembali menghadap ke depan, karena tak tak ingin menggangu waktu istrinya mencurahkan isi hatinya kepada sang pencipta.


Sebenarnya Ferdian sendiri ikut merasakan kesedihan, atas kepergian pak Bagas. Karena selama ini, dirinya mengenal sosok pria yang tak lain ayah Erina, yaitu sosok laki-laki yang baik kepadanya.


Flashback


Dulu ketika dirinya masih bersekolah, pak Bagas pernah menolongnya. Di saat itu beliau habis mengantar Erina sekolah, dirinya sempat di tolong olehnya.


Saat itu, Ferdian pernah di cegat oleh empat orang karena ingin menodongnya. Bahkan mereka sampai mengeluarkan senjata tajam kepadanya. Tepat di saat itu juga pak Bagas datang dan menolong dirinya dari orang jahat tersebut. Karena beliau tau kalau dirinya satu sekolah dengan putrinya, karena menggunakan seragam yang sama.


Bukan hanya itu, setelah lulus sekolah, Ferdian pernah mendapat panggilan kerja. Namun ketika hendak berangkat, tiba-tiba motornya mogok. Karena saat itu waktunya hampir terlambat, dari kejauhan datanglah pak Bagas sebagai pahlawan. Dia meminjamkan motornya kepada Ferdi untuk ketempat interview, kemudian beliau yang membawa motor miliknya ke bengkel.


Hingga beberapa hari kemudian, Ferdian mengembalikan motor yang dia gunakan dirinya ke pemiliknya. Dengan memberi kabar kalau dirinya sudah di terima kerja. Andaikan diri tidak pernah bertemu dengan pak Bagaskara saat itu, mungkin dirinya pasti akan gagal interview dan belum mendapatkan pekerjaan alias pengangguran.Dari sanalah tanpa sepengetahuan Erina, dirinya sudah mengenal pak Bagas.


Sebenarnya dahulu pak Bagas juga pernah berniat ingin mengenalkan dirinya dengan putrinya. Karena sebetulnya Ferdian memang diam-diam juga menyukai Erina, alhasil ia setuju untuk di perkenalkan dengan putrinya.


Namun beberapa hari kemudian dirinya bertemu kembali dengan pak Bagas. Beliau mengatakan kalau putrinya sudah memiliki pria yang dia cintai. Alhasil yang di dapati dirinya hanya kekecewaan yang di rasanya.


Flashback of


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2