
Erina setiap hari bingung dengan pertanyaan putranya yang selalu mencari Ferdian. Bahkan dirinya semakin merasa khawatir, saat Zio sangat sulit jika di suapi makan, karena yabg selalu di sebut nama Ferdi.
"Zio makan yuk Nak! Bubu sudah membuat makanan kesukaan kamu nih, SOP ayam. Ayo buka mulutnya ! Aaaaa ...!" bujuk Erina agar putranya ingin makan.
Nyatanya Zio semakin merapatkan mulutnya, Erina nampak bingung karena putranya saat ini sulit di bujuk untuk makan.
"Erina, Zio kenapa?" tanya pak Fajar,saat mendengar suara rengekan.
"Ini kek, Zio tidak mau makan," ucap Erina, namun anak itu duduk dengan menunjukkan wajah cemberutnya.
"Iyo Ndak au mamam (Zio gak mau makan) !" jawab anak itu dengan cemberut.
"Kenapa cucu Kakek tidak mau makan. Bubu sudah masak enak loh," bujuk pak Fajar.
"Enda au, Iyo au oom Fedi ( enggak mau, Zio mau om Ferdi)!" dengan bibi cemberut dan menggelengkan kepalanya.
Zio pun pergi meninggalkan ibu dan kakeknya, anak itu duduk sambil menonton TV.
Pak Fajar pun tersenyum menatap anak kecil yang sedang ngambek. Lalu menatap Erina terlihat bingung.
"Cobalah Rin, kamu hubungi Ferdian. Mungkin anak mu rindu dia?"
"Tapi Om," jawab Erina ragu-ragu.
"Tapi apa? Lagian kayanya Om tidak pernah melihat Ferdi datang. Apa kamu yang melarang dia untuk main kesini?" tebak pak Fajar, Erina hanya menundukkan wajahnya.
Erina mengangguk, pak Fajar menghembuskan nafasnya, dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu larang dia kesini? Om lihat dia itu pria baik, dan tulus sayang dengan Zio. Perasaan anak kecil lebih peka loh sama hati seseorang, dia tau mana yang berpura-pura dan sungguh-sungguh," jelas pak Fajar, Erina masih mendengarkan dan belum menjawab.
"Aku hanya tidak ingin timbul fitnah om, jika dia sering datang. Seperti ini yang aku takutkan, tidak ingin putra ku berharap lebih kepada Ferdi. Apalagi dengan setatus ku ini, aku takut," terlihat wajah Erina yang cemas.
Pak Fajar tersenyum menatap keponakannya yang kini di hadapannya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak merasakan kedatangan Ferdi kesini ada maksud lain? Om yakin kalau dia menyukai kamu, apa kamu gak merasa, perhatiannya dia ke kamu?" tanya pak Fajar kembali.
"Aku tau Om, tapi aku belum yakin. Aku juga masih takut, jika memulai hubungan kembali. Apalagi aku pernah gagal dalam rumah tangga, karena sebuah pengkhianatan yang di lakukan Damar," mata Erina mengembun saat bayang-bayang seorang pria yang dia cintai, saat mereka merasakan kebahagiaan saat bersama.
Pak Fajar merasa tak tega dengan keponakannya. "Jangan pernah takut untuk memulai hubungan kembali. Jadikan kegagalan kamu itu sebagai pelajaran, dan berdoa semoga jodoh mu nanti laki-laki baik yang bisa menjaga dan melindungi kamu dan anakmu."
Erina diam, namun dalam hati dia mengamini ucapan om nya.
Kini Erina masuk ke dalam rumahnya dan melihat putra kecilnya tertidur pulas. Sekitar pukul dua pagi, Erina terbangun mendengar suara Zio merengek.
Saat Erina menyentuh Zio alangkah terkejutnya kalau tubuh putranya terasa sangat panas.
"Astaga Zio badan kamu panas banget!" Erina dengan rasa khawatirnya.
"Bubu, Iyo atit ( Zio sakit)," gumam anak itu.
"Iya Nak, sabar ya nak!" Erina segera mengambil obat, dan air untuk kompres.
"Nak kenapa kamu selalu memanggil om Ferdi, Zio kangen ya?" anak itu mengangguk, dan itu membuat Erina merasa tak tega.
"Oom fedi," gumamnya lagi.
Erina tak tega mendengar putranya terus memanggil nama Ferdi.
'Mas Damar, bahkan di saat Zio sakit saja dia tidak memanggil nama kamu. Dia lebih memilih orang lain, yang menurutnya baik dan sayang kepadanya.'
Erina terus menemani putranya yang sedang sakit, matanya pun terjaga untuk menjaganya. Tangannya selalu memegang alat gawai, mencari nama seseorang di dalam kontak, dan mencoba menghubunginya.
Sampai menjelang pagi, ia masih tetap terjaga. Bahkan saat mata sayup anak laki-laki itu terbuka, terlihat wajahnya yang pucat. Namun bibirnya selalu memanggil nama Ferdi.
"Oom," gumam Zio lagi.
"Sayang jangan seperti ini, bubu takut Nak!" air bening dari kelopak matanya berhasil lolos.
__ADS_1
Kinan membuka pintu kamar, dan melihat Kakak sedang menggendong keponakannya.
"Kak, Zio kenapa?" tanya Kinan melihat mata Kakak terlihat lelah.
"Zio sakit Kinan, dari semalam. Dia terus memanggil Ferdian terus," jelas Erina.
"Kenapa Kakak tidak bangunin aku sih! Kita bisa membawanya ke rumah sakit," ucap Kinan sambil menyentuh kening keponakannya itu.
"Lalu Kakak sudah menghubungi Kak Ferdi, kalau Zio memanggilnya?" Erina mengangguk.
"Tetapi tidak aktif nomornya Dek," jelas Erina.
"Yasudah sekarang kita ke rumah sakit ya! Apa saja yang akan di bawa aku bantu siapkan!" ucap Kinan, membuat Erina mengangguk.
Kini Erina dan Kinan sudah membawa Zio kerumah sakit xxxx. Suhu tubuh anak itu cukup tinggi dan harus dirawat agar selamat.
Erina tak henti hentinya menangis, dan selalu berdoa untuk kondisi putranya. Karena baru pertama ini Zio sakit terus memanggil nama orang lain. Bahkan saat bersama Damar dulu, anak itu tak pernah menyebut ayahnya ketika sakit.
Kinan sediri menemani sang Kakak, yang terlihat sedih. Saat itu juga handphone Erina berbunyi, saat ia lihat terdapat nama Ferdian di layar depan.
Erina menekan layar berwarna hijau, lalu di angkat olehnya.
"Hallo, Assalamu'alaikum," ucap Erina.
"Iya Ferdi, aku semalam menghubungi kamu. Maaf jadi mengganggu istirahat kamu," ucapnya merasa tak enak.
"Zio selalu memanggil kamu, dia sakit. Sekarang aku dan Kinan berada berada di hospital xxxx. Ferdi apa kamu bisa datang?"
"Terimakasih, maaf sudah merepotkan kamu!"
Panggilan pun terputus, dan Kinan menatap wajah Kakaknya seakan menanyakan jawaban. Erina pun mengangguk, ia pun tersenyum lega.
Bersambung...
__ADS_1