
Selepas shalat, Ferdian masih mengamati wajah Erina yang masih terlihat bersedih akan kehilangan ayahnya.
Ferdian mendekati Erina, dan menghapus air matanya. Terlihat bibir wanita di hadapannya bergetar, dan bulir kristal pun lolos kembali dari pelupuk mata indah istrinya.
"Aku berniat Minggu besok mau kesini, setelah Kinan libur. Aku rindu dengan ayah, namun nyatanya beliau sudah pergi lebih dulu," gumamnya membuat Ferdian merasa tak tega, selalu melihat istrinya terus menangis.
"Aku mengerti. Tetapi jika kamu seperti ini, kasian ayah kamu di sana ada, melihat putrinya kesayangannya slalu menangis." jelas Ferdian, membuat Erina bersandar dalam pelukan suaminya.
Erina sudah kembali tenang, setelah mendengar suara Zio menangis. Begitulah putra kecilnya, setiap terbangun harus ada sosok ibunya yang menemani di sampingnya.
"Bubu !" suara tangisnya membuat Erina menghampiri Zio, lalu di susul dengan Ferdian di belakangnya.
"Eeh jagoan Bubu dan Yayah sudah bangun ya?" Ferdian menyapa Zio yang menangis.
Mendengar Ferdian menyebutkan panggilan untuk Zio, Erina tersenyum.
"Jangan senyum-senyum seperti itu!" sindir Ferdian untuk Erina di sampingnya.
Membuat Erina berusaha menahan senyumnya. Melihat sosok Ferdian di samping ibunya, Zio pun berhenti menangis. Justru dirinya menta untuk di angkat oleh pria di sebelah bubunya.
Kini tiga hari sudah pak Bagas meninggalkan keluarga yang sangat mencintainya. Erina Zio dan Ferdian masih tinggal di apartemen.
__ADS_1
Namun ketika siang hari dirinya pergi menuju rumah orang tuanya. Kebetulan ketika Erina sampai, dirinya seperti melihat ada tamu yang ia kenal.
Benar saja, Erina tersenyum saat melihat tamunya itu adalah Zainal dan Tiara yang datang.
"Ya ampun, kalian kapan sampai?" tanya Erina yang menghampiri, lalu berpelukan kepada Tiara, dan bersalaman dengan Zainal.
"Kami baru saja sampai. Rin kami turut berdukacita atas kepergian ayah kamu. Maaf kami baru kesini! Soalnya kemarin aku dan Mas Zainal ke Surabaya, ikut acara keluarga," ucap Tiara merasa tak enak hati.
"Iya Rin, kami terkejut saat Damar memberi kabar tentang pak Bagas. Saat itu kami sedang di jalan, di sana pun kami tak menikmati acaranya. Memikirkan kamu dan Zio." Jelas Zainal.
Erina tersenyum menanggapinya.
"Gak papa, aku mengerti. Maafkan ayahku ya! Kalau selama ini beliau mempunyai salah dengan kalian." Dirinya berusaha kuat, setiap kali mengatakan pak Bagas.
Tiara pun memeluknya, agar Erina bisa meluapkan kesedihannya.
"Hiks ... hiks ... aku sebenarnya merasa sudah kehilangan pria yang selalu melindungi diriku selama ini. Aku rasa aku sudah tidak punya kekuatan lagi, untuk bertahan karena ayah sudah tiada. Sekarang sumber kekuatanku hanya putra ku."
"Kamu yang sabar ya! Aku yakin kamu wanita yang kuat. Kamu bertahan untuk Zio, jadi kamu harus semangat untuknya." Tiara menguatkan Erina
"Kamu tidak sendiri Rin. Kamu masih ada ibu dan adik-adikmu, Zio dan kami. Anggap kami seperti keluarga, meskipun kita tidak lagi menjadi saudara ipar," timpal Zainal dengan menepuk pundak Erina.
__ADS_1
"Iya Kak, kalian juga keluarga ku. Kalian selalu baik kepadaku, selama di sana," Ucap Erina berusaha tersenyum. Zainal dan Tiara pun ikut tersenyum.
"Bubu ...."
Dari jauh terdengar suara anak kecil, yang memanggilnya. Saat di lihat ternyata itu Zio, sedang dalam gendongan seorang pria.
Tiara dan Zainal nampak kebingungan.
"Siapa pria yang bersama dengan Zio Rin?" pria yang pernah menjadi kakak iparnya.
Erina tersenyum, saat melihat Ferdian menghampirinya dengan senyuman manisnya.
"Kak Zainal, Kak Tiara. Kenalkan ini Ferdian, pria ini adalah suami ku, ayah sambung Zio." ucap Erina memperkenalkan laki-laki di sebelahnya dengan. " Zio sangat dekat sekali dengannya, dan kami menikah kemarin sebelum ayah menutup mata untuk selamanya."
Erina menjelaskan, Zainal dan Tiara pun tersenyum saat mendengarnya. Mereka ikut bahagia karena sekarang ada sosok pria baik yang bisa melindungi adik mereka.
Mereka pun saling berjabat tangan, dan berkenalan.
"Kami titip Erina kepadamu. Jangan sakiti hatinya, atau membuatnya terluka! Karena meskipun pak Bagas sudah tiada, masih ada kami yang akan melindunginya." Ucap Zainal dengan menatap Ferdian, dengan berkata sungguh-sungguh.
"Kalian tenang saja! Saya sangat mencintai Erina dan Zio, jadi saya akan memegang perkataan saya ini, untuk menjaga dan menyayangi mereka berdua!" ucap Ferdian dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Kini Ferdian, ikut bergabung dengan Erina, Tiara dan Zainal yang sedang mengobrol. Sesekali mantan kakak iparnya, melihat Zio yang selalu menempel kepada pria yang kini berstatus menjadi ayah sabung keponakannya itu.
Bersambung....