Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Laki-laki seperti ayah


__ADS_3

Sedangkan Erina terlihat tak lagi marah, senyuman pun kini terlihat di bibirnya. Ferdian merasa senang, karena istrinya tak lagi merajuk kepadanya.


Ferdian mengajak Erina dan Zio ke rumah orang tuanya, Kinan pun juga datang karena Joddy pun juga menyuruhnya untuk ikut.


Karena Bunda dan ayah Hamzah mengundang mereka untuk makan malam bersama.


Bunda Nabila, pak Hamzah dan keluarga Ferdian yang lainnya terlihat sangat senang dengan datangnya Ferdi membawa anak dan istrinya.


"Erin ayo di makan, bunda dengar kamu sedang ingin makan ikan gurame dengan sambal kecap pakai limau. Nah sekarang di sini sudah bunda siapkan untuk kamu." Kata bu Nabila menunjuk semua hidangan yang tersedia di atas meja.


Erina tersenyum melihatnya. "Pasti Mas Ferdi ya? Yang memberi tau kalau aku sedang ingin makan ikan gurame," tebak Erina membuat Ferdian tersenyum menatap istrinya.


"Iya sayang, habis bunda tanya tadi pagi. Kamu sedang ingin makan apa? Ya aku bilang aja, kamu ngajak aku ingin makan ikan gurame,"


"Iya sayang, bunda ingin turut adil. Mengabulkan permintaan kamu saat hamil,"


Erina tersenyum mendengarnya, bertapa peduli ibu mertuanya. Di saat masa-masa hamil.


"Terimakasih bunda, aku sebenarnya terharu dengan perhatian yang selalu bunda berikan ke aku,"


"Sama-sama Nak. Bunda juga senang dapat merasakan peran sebagai orang tua untuk menantunya. Ya sudah sekarang kita makan yuk! Takut lauknya dingin dan lebih nikmat di makan selagi hangat."


Erina pun mengangguk, dan kini mereka menikmati makan siang bersama. Bu Nabila tersenyum melihat menantunya sangat menikmati makanan yang sudah di sediakan.


"Makan yang banyak ya Rin! Bunda senang melihat kamu makannya begitu lahap."


"Iya bunda," jawab Erina.


"Kinan, juga jangan malu-malu. Joddy itu sudah bunda anggap seperti anak bunda. Sekarang kamu makan yang banyak ya!"

__ADS_1


"Iya bunda, pasti Kinan makan ko. Masakan bunda T O P B G T." kata Kinan mengacungkan jempolnya.


Bunda dan yang lainnya terkekeh mendengar Kinan bicara.


Setelah selesai makan, para keluarga pun duduk di ruang keluarga. Bunda Nabila dan pak Hamzah membicarakan tentang hubungan Kinan dan Joddy.


Karena kedua orang tuanya sudah tiada, jadi hanya pak Hamzah dan Bunda Nabila keluarga yang Joddy punya.


"Bagaimana Nak, bunda dan keluarga akan datang ke rumah orang tua kamu Minggu depan,"


"Iya Bunda nanti ku kabari ibu di sana, kalau kalian akan datang ke rumah," jawab Kinan, seketika hatinya menjadi melow.


Entah kenapa dirinya merasa ada yang kurang, saat dirinya mengatakan seperti itu. Padahal yang ia katakan adalah prihal tentang hubungan mereka.


Ketika sore hari, Joddy mengantarkan Kinan pulang. Namun sebelum mereka mendatangi sebuah taman, yang biasa para muda-mudi datangi.


Terlihat Kinan hanya diam, setiap kali Joddy mengajaknya bicara. Paling ia hanya menjawab seperlunya saja.


"Kamu kenapa? Sejak kita membicarakan perihal hubungan kita, kamu hanya diam saja. Apa kamu tidak suka? Jika hubungan kita berjalan untuk lebih serius lagi?" tanya Joddy.


"Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Jujur aku sangat senang, karena hubungan kita bisa ke berjalan sampai ke jenjang pernikahan. Tetapi ...."


Kinan tak melanjutkan pembicaraannya, seketika bayang-bayang ayahnya terlihat di tepi kolam yang saat ini ia lihat.


Dia mengingatkan saat di mana sang ayah membicarakan tentang laki-laki yang nanti akan menikahinya.


Flashback.


Setelah Erina menikah dengan Damar. Kinan yang sedang di kamarnya, di hampiri oleh pak Bagas.

__ADS_1


"Anak ayah sedang apa, sejak tadi di kamar saja?"


"Aku bete Yah. Biasanya kak Erina selalu datang ke kamar ku, dan bercerita bersama. Tapi sekarang dia sudah tinggal di sana, dan tidak ada lagi yang mengajak ku bercerita." Kinan dengan bibir cemberut.


Pak Bagas pu. tersenyum melihat putri bungsunya itu .


"Jangan seperti itu, kakak kamu sekarang sudah bahagia bersama laki-laki pilihannya. Kelak kamu pun juga akan merasakan kebahagiaan seperti kakak kamu."


"Aku dengan bersama ayah sudah cukup bahagia, jadi untuk saat ini aku belum memikirkan hal seperti itu," Kinan dengan memeluk lengan sang ayah.


"Masa kamu selalu menempel seperti ini ke ayah. Mana ada yang mau sama kamu," goda pak Bagas ke putri bungsunya.


"Sekarang juga mana ada yang mau Yah.Kata temanku aku itu, jadi cewek terlalu jutek dan galak. Cowok- cowok pun juga akan takut dengan ku." Kinan tertawa, pak Bagas pun ikut tertawa.


"Ayah yakin, pasti ada laki-laki yang menilai kamu gadis istimewa. Karena putri ayah ini cantik, pintar dan unik. Jadi buat cowok yang benar-benar menyukai kamu, akan tertarik dengan kamu."


"Udah ah Yah. Buat ku hanya ayah laki-laki yang membuat aku jatuh cinta. Hihihi ..." Kinan terkikik.


Pak Bagas hanya menggelengkan kepalanya, melihat sikap putrinya.


"Pokoknya doa ayah selalu yang terbaik untuk anak-anak ayah. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang baik dan sayang dengan kamu." Dengan membelai lembut rambut putrinya.


"Amiin ... pokoknya laki-laki itu seperti ayah. Meskipun terlihat garang, tapi ayah itu humoris dan romantis. Begitupun pria yang akan menjadi suamiku. Hihihi ...."


Pak Bagas tersenyum melihat putri bungsunya yang selalu ceria itu. Namun dalam hatinya, beliau mengamini ucapan Kinan.


Flashback of.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2