Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Pulang ke rumah


__ADS_3

Benar saja 30 menit kemudian, terdengar suara seseorang driver, mengantarkan makanan untuk dirinya.


Erina pun tersenyum, saat melihat dua boks berisi makanan, dan juga minuman.


Sedangkan seorang pria kini sedang tersenyum menyusuri jalan menuju rumahnya. Hatinya saat ini hati di penuhi bunga-bunga, serta warna pelangi.


Terdengar suara notifikasi pesan masuk, Ferdian pun melihat isi pesan nya, lalu tersenyum.


Terimakasih atas makanannya, sudah sampai nih.


Ferdian yang membaca isi pesan itu lantas tersenyum, lalu dirinya membalasnya dengan pesan voice..


"Sama-sama sayangku. Jangan lupa nanti di makan ya. I love you,"


Tring.


Bunyi pesan masuk di handphonenya Erina, ia pun membaca pesan dari Ferdian. Bibirnya terpancar senyuman, saat mendengar pesan suara dari pria di sebrang sana.


Benar-benar Ferdian membuat dirinya tersenyum, setiap kali saling membalas pesan. Semenjak beberapa bulan ini, dirinya hanya merasakan kesedihan dan kekecewaan. Tapi dengan Ferdi dirinya kembali tersenyum.


Sampai hubungan mereka terus berjalan dua bulan lamanya. Kinan pun juga ikut bahagia melihat Kakak kembali membuka hatinya untuk pria lain, dirinya tidak mau kalau melihatnya terus menerus larut dalam kesedihan.


Suatu ketika di waktu sore, Erina dan Kinan sedang menemani Zio menonton TV, acara kesukaannya, Tayo. Terlihat anak itu sangat menyukai acara kartun tersebut.


Saat sedang asik memperhatikan Zio yang berjoget. Tiba-tiba terdengar suara panggilan telpon masuk, di handphone Erina. Saat di lihat, terpampang nama ibunya.


"Siapa Kak?" tanya Kinan.


"Ibu, yang menelpon. Sebentar kakak angkat telponnya," Kinan pun mengangguk.


Erina pun mengangkat panggilan telepon.

__ADS_1


"Hallo Bu, Assalamu'alaikum." Erina mengerutkan keningnya, mendengarkan suara ibunya.


"Ibu ada apa? Kenapa suara ibu terdengar seperti menangis. Coba ibu tenang dulu, terus bicaranya pelan-pelan!"


Saat di sebrang sana bicara dan mengatakan sesuatu, Erina di buat terkejut dengan kabar yang di berikan oleh ibunya.


Kinan nampak bingung melihat kakaknya menutup mulutnya sendiri, dan terlihat sedih.


"Ayah," Erina tak sanggup berkata apa-apa.


Kinan segera mengambil handphone-nya lalu dia yang bicara.


"Ibu ada apa? Kenapa kakak menangis?" tanya Kinan.


Saat mendengar apa yang di sebrang sana katakan, Kinan pun ikut menitikkan air matanya. Sedangkan Zio, nampak bingung melihat ibu dan tantenya menangis bersamaan.


Zio yang kini berusia hampir dua tahun, dirinya mengerti kalau dua wanita dewasa di depannya sedang tidak baik-baik saja.


"Bubu, Onty, apa ( ibu dan Onty kenapa)? Kok anyis uaan ( Kok nangis berduaan)?" tanya anak kecil itu.


"Kita siap-siap kesana ya Dek! Kakak mau tutup warung sebentar!" Kinan mengangguk.


Kinan membereskan baju-baju, sedangkan Erina menutup semua dagangannya.


Sedangkan Pak Fajar dan Bu Yeni yang melihat keponakannya menutup warungnya lantas mendekatinya.


"Kok di tutup Rin dagangannya?" tanya pak Fajar.


"Iya om, aku mau pulang ke rumah. Tadi ibu nelpon, ayah katanya mengalami kecelakaan. Aku dan Kinan mau kesana, ingin lihat kondisinya beliau." Ucap Erina tak kuat menahan air matanya.


"Ya Allah, terus bagaimana keadaan ayah kamu sekarang?" tanya pak Fajar, Bu Yeni menenangkan Erina.

__ADS_1


"Aku gak tau Om, bagaimana keadaan ayah. Kata ibu, belum sadarkan diri." Kata Erina sambil menghapus air matanya.


Kini Erina dan Kinan sudah selesai membereskan pakaian. Tiba-tiba terdengar suara deru mesin mobil di depan rumahnya. Saat Kinan melihat ternyata itu Ferdian yang datang dengan tergesa-gesa.


Erina terkejut mendengar suara Ferdian yang datang, karena Zio kegirangan memanggil nama oom.


"Erina," panggil Ferdian.


"Oom," justru Zio yang menjawab panggilannya.


Ferdian pun tersenyum lalu menghampiri anak laki-laki itu, lalu menggendongnya.


"Oom, Iyo au ke lumah kakek ( Om, Zio mau ke rumah kakek)," adu anak kecil tersebut.


Ferdian menjawabnya dengan tersenyum lalu memeluk bocah kecil yang sudah dekat dengannya.


Justru Ferdian fokus menatap wanita yang saat ini sedang termenung, namun berusaha untuk tersenyum.


"Ferdi, aku mau pulang. Ayahku kecelakaan, aku ..." Erina tak sanggup untuk berkata-kata.


Ferdian mengerti keadaan Erina saat ini.


"Ssssttt! Aku mengerti, mangkanya aku datang kesini. Aku ingin antar kalian kesana. Aku juga ingin menjenguk ayah kamu," ucap Ferdian berusaha menenangkan Erina.


"Bolehkan aku antar kalian kesana?" tanya Ferdian memastikan kembali.


Erina pun menganggukkan kepalanya, memperbolehkan Ferdian mengantar nya.


Kini, Erina, Zio Kinan sudah berada di dalam mobil Ferdian, dengan Joddy yang mengendarai mobilnya.


Sedangkan Zio saat ini sedang berada di pangkuan Ferdian berada di kursi samping kemudi. Hingga anak itu, tertidur pulas di pelukan pria yang kini sedang dekat dengan ibunya.

__ADS_1


Sesekali Ferdian menatap wajah Erina yang sekarang terlihat sedikit lebih tenang, begitu juga dengan Kinan yang sekarang di sebelah kakaknya.


Bersambung..


__ADS_2