Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Pengakuan Erina.


__ADS_3

Kini di tempat pemakaman, jasad pak Bagas dimasukkan kedalam liang lahat. Zio yang sudah berada di gendongannya pak Fajar, sedangkan Ferdian mendampingi Erina di sampingnya.


Ferdian tidak ingin sesuatu terjadi kepadanya saat melihat tubuh ayahnya sudah di masukkan kedalam tanah, dan ditutupi dengan papan.


Damar sejak tadi memperhatikan Ferdian yang tak melepaskan Erina sedikitpun, terlihat sangat kesal, dengan pemandangannya saat ini.


Saat jenazah pak Bagas sudah tertutup sebagian dengan tanah, Erina mulai tak kuat melihatnya, dan mulai menangis.


"Ayah!" teriak Erina. "Huuuuuu ..." Membuat Ferdian ikut merasakan sakit saat mendengarnya.


Benar saja tubuhnya tiba-tiba lemas, dan Erina pun tak sadarkan diri. Ferdian pun segera membawanya kedalam mobil, lalu membawa pulang ke rumah orang tuanya. Di saat pemakaman belum selesai.


🍂


🍂


🍂


Kini Erina sedang berbaring di tempat tidurnya, Ferdian masih menemaninya. Terlihat wajah sedih wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Erina merasa sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Ibu kandungnya sudah lama tiada, sekarang ayahnya pun ikut pergi meninggalkannya. Seseorang yang paling mengerti dirinya, dalam kondisi apapun.


Kini dirinya hanya mempunyai Zio putra semata wayangnya, dan pria yang ada di sampingnya. Yang kini sudah berstatus menjadi suaminya.


Kini Erina menatap pria di sebelahnya, yang menemaninya, dengan memberikan senyuman hangat kepadanya.


"Zio di mana?" tanya Erina mengingat putranya tak di sampingnya. Apa lagi mengingat Damar yang tadi datang, takut putranya di bawa oleh mantan suaminya.

__ADS_1


"Zio bersama pak Fajar, dan Bu Yeni," jawab Ferdian, agar wanita di hadapannya tidak khawatir. "Apa kamu ingin, aku membawa Zio kesini? Agar kamu tenang," Erina pun mengangguk.


Entah kenapa perasaannya menjadi tak enak, sejak datangnya Damar. Ia takut kalau Zio nanti di bawanya pergi, olehnya.


"Ya sudah aku keluar sebentar ya, aku ambil Zio." Kata Ferdian membelai lembut kepala Erina yang tertutup hijab.


Erina tersenyum kecil menanggapi perkataan pria di sebelahnya.


Ferdian pun meninggalkan Erina yang sedang beristirahat di kamarnya, dan mencari Zio. Baru sampai depan teras rumah, dirinya melihat Damar sedang mengambil anak sambungnya dengan memaksa.


"Iyo enda au itut papa, Iyo au sama bubu!" terdengar suara Zio berteriak menolak.


"Jangan paksa Zio seperti ini. Dia tidak ingin bersama kamu!" kata Pak Fajar, berusaha membantunya.


"Pak, saya tidak mengenal bapak. Saya hanya ingin membawa anak saya saja, jangan menghalangi saya!" kata Damar dengan kesal.


"Ada apa ini!" tegur Ferdian dengan terlihat tak suka dengan sikap Damar.


"Ini bukan urusan kamu ya! Saya ingin membawa anak saya, karena ibunya sedang berduka. Saya tidak ingin Zio ikut sedih juga!" ucap Damar dengan tatapan tak suka saat melihat Ferdian.


"Kalau kamu ingin membawa Zio, kamu harus izin kepada ibunya! Jangan main rebut saja, nanti anak itu bisa trauma, dan takut." Cegah Ferdian karena melihat bocah itu menangis ketakutan.


Damar menatap Ferdian dengan tatapan tak suka. Lalu dia menurunkan Zio dari gendongannya, dan anak itu berlari ke arah pak Fajar.


Karena suasana rumah masih sepi, semua pelayat dan keluarga dari makam belum sampai ke rumah. Di sana hanya ada Erina, Ferdian Damar, pak Fajar dan istri.


Karena tak suka, Damar pun menghampiri Ferdian dengan wajah menantang, dan pasti Ferdian tak takut sama sekali.

__ADS_1


"Elo kenapa selalu ikut campur? Memang elo siapa Erina. Elo cuma orang asing, yang lagi dekat dengan anak gue dan mantan istri gue!" Damar menunjuk-nunjuk Ferdian dengan tatapan tak suka.


Ferdian tersenyum mendengarnya. "Saya bukan ikut campur, saya mengatakan apa adanya. Kalau kamu ingin membawa Zio, izin lah terlebih dahulu. Jangan membuat Erina mencarinya, itu pun kalau dia mengizinkannya!"


"Gue tau elo ingin ikut campur urusan gue, karena elo ngincar ibunya kan?" tanya Damar dengan tatapan menyeringai.


"Ada apa ini!" suara seseorang di belakang Ferdian membuat mereka terkejut mendengarnya.


Ternyata itu suara Erina yang keluar dari kamarnya, karena mendengar suara keributan.


Erina berjalan menghampiri dua laki-laki yang saling bersitegang. Lalu dirinya menatap Damar dengan tatapan tak suka.


"Mau ngapain kamu di sini, aku tidak ingin ada keributan. Aku minta kamu pulang sana! Temani istri kamu yang sedang hamil besar!" usir Erina, dengan menatap Damar dengan terlihat emosi.


"Aku kesini ingin mengajak Zio sebentar untuk kerumah Rin!" mendengar itu mata Erina membulat sempurna, karena terkejut mendengarnya. "Aku ingin mengajak dia bermain, aku rindu dengannya. Apa itu tidak boleh dia juga putraku?"


"Aku tidak mengizinkan kamu membawa anakku kerumah itu. Aku gak mau, anakku sampai tak di hargai oleh keluarga mu!" ucap Erina dengan tegas. "Dia memang anakmu, tapi dia juga anakku. Jika kamu membawa Zio dari sini, langkahi nyawaku sekarang!"


Ferdian dan Damar terkejut mendengar Erina berbicara seperti itu.


"Ada satu hal, yang ingin aku beritahu ke kamu tentang laki-laki di sebelahku ini. Dia itu bukan orang asing! Sekarang Ferdian itu sudah menjadi suamiku." jelas Erina membuat Damar terkejut mendengarnya.


"Kami sudah menikah, sebelum ayahku menghembuskan nafas terakhirnya. Ayah ku yang memintanya untuk menjagaku dan Zio. Sekarang sudah jelaskan? Kalo Ferdian ini bukan orang asing, tapi ayah sambung dari anakku!" Damar menatap Ferdian dengan tatapan tak suka saat mendengar pengakuan Erina.


Sengaja Erina mengatakan itu, agar Damar tidak menganggap Ferdian orang asing. Laki-laki di hadapannya pun terlihat mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa kesalnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2