
Tubuh Asqia seketika menjadi lemas, bulir bening pun berhasil lolos dari pelupuk matanya. Saat mendengar kepergian nenek Asenih untuk selamanya, orang baik yang sudah menyelamatkan dirinya.
Karena tak tega melihat Asqia yang menangis mengingat seseorang yang pernah menolongnya, kini sudah tiada. Ferdian akhirnya membuka suaranya.
"Maaf Mas Azriel sebelumnya. Kamu kesini naik kendaraan atau apa?"
"Saya, naik Ojol Mas," jawab Azriel.
"Kalau memang Mas Azriel tidak keberatan. Mari ikut kami, biar kita bicarakan di rumah saja, biar kami bisa mengobrol banyak dengan kamu," ucap Ferdian.
"Memang tidak apa,saya ikut dengan kalian?" tanya Azriel merasa tak enak hati.
"Gak papa dong. Kan saya yang ngajak kamu, biar kami bisa mendengar cerita kamu dan nenek kamu yang sudah menolong adik saya," jelas Ferdian. "Bagaimana apa kamu mau ikut dengan kami?"
Azriel pun mengangguk. "Baik kalau begitu, saya ikut kalian,"
Ferdian menyuruh Azriel untuk masuk kedalam mobil bersamanya, dan mereka melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumah.
Kini mereka sudah sampai di rumah Ferdian, dimana kedatangan Azriel di sambut hangat oleh keluarga mereka.
Azriel sendiri sebenarnya merasa tak enak, karena ia mendatangi rumah orang kaya, yang besar.
"Zriel, kamu santai aja. Jangan kamu merasa tak enak hati seperti itu." Kata Ferdian, dan Azriel pun mengangguk
Di sana Azriel menceritakan tentang apa yang di alami oleh Asqia, sampai nek Asenih menolongnya. Ia juga menceritakan tentang Asqia yang kehilangan janinnya.
Sampai Azriel menceritakan tentang nenek Asenih yang meninggal dunia, dan menyampaikan salam untuk Asqia.
__ADS_1
"Nenek menyampaikan pesan, kalau beliau sangat sayang dengan kamu. Nenek ingin kamu menjadi pribadi yang baik, dan ini ...."
Azriel memberikan sesuatu kepada Asqia.
"Ini untukmu. Sebelum nenek menutup matanya, beliau menitipkan ini, agar di berikan ke kamu."
Asqia memegang sebuah gelang emas, dengan ukiran di dalamnya. Ada rasa sedih yang saat ini ia rasakan, apalagi yang memberikan gelang tersebut sudah tiada.
Bulir bening berhasil lolos kembali dari pelupuk matanya, dengan bibir bergetar. Asqia menangis, sambil mencium gelang tersebut.
"Kenapa nenek memberikan perhiasan ini untuk ku? Bukankah beliau mempunyai menantu." QIA menggenggam erat gelang tersebut.
"Kamu tau, ibuku sudah tiada sejak aku sekolah dasar. Sedangkan ayahku pun juga menyusulnya. Hidup ku hanya bersama nenek, namun sekarang aku sudah tidak mempunyai siapapun di sana. Aku juga tidak mungkin untuk tetap bertahan di sana, jadi aku pergi merantau di sini," jawab Azriel.
"Maksud kamu, jadi sekarang kamu sudah tidak tinggal di kampung kamu?" tanya Bu Hesti, dan Azriel menggelengkan kepalanya, di sertai senyuman.
"Di sana banyak kenangan indah bersama nenek, dan membuat saya terus bersedih karena tidak ada beliau." Ucap Azriel menghapus air matanya.
"Aku ngekost baru tiga hari yang lalu, di sebuah kontrakan dua petak. Karena kebetulan aku mendapatkan pekerjaan baru di sebuah kantor Qi, mangkanya aku kesini,"
"Syukurlah, rezeki kamu akan itu Zriel. Kalau boleh tau, kamu bekerja di mana?" tanya Ferdian.
"Di sebuah perusahaan, kalau gak salah namanya HNC Sejahtera. Saya juga baru dua hari di sana," jelas Azriel., Joddy dan Ferdian tersenyum mendengarnya.
"Kalau boleh tau, kamu di bagian apa di sana?" tanya Ferdian kembali.
Erina dan Kinan yang tau, juga ikut tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"Saya hanya sebagai office boy di sana. Meskipun begitu Alhamdulillah yang penting, pekerjaan saya halal,"
"Ya bagus, pertahankan semangat kamu, dan satu pesan saya! Jika kamu bekerja dengan jujur, maka kinerja kamu juga akan di nilai. Apalagi hasil pekerjaan kamu baik, bisa naik jabatan dengan cepat kamu," timpal Joddy.
"Benar apa yang di katakan Joddy. Besok saya lihat CV kamu, di kantor dengan pak Dendi." Kata Ferdian dengan melipat kedua tangan di depan.
Azriel tercengang mendengar apa yang di katakan Ferdian.
"Ma ... maksudnya apa ya pak? Maaf saya belum mengerti?" tanya Azriel dengan gugup.
Joddy tersenyum. "Azriel, tempat kerja kamu itu, adalah perusahaan milik pak Hamzah. Yaitu ayahnya pak Ferdian, dan paman saya. Dan pak Ferdi ini, juga pimpinan di sana."
Joddy membuat Azriel tercengang, dan bahkan berkeringat dingin saat mendengar penjelasan dari Joddy.
"Ja ... jadi perusahaan itu milik pak Ferdian. Ya Allah, jadi saya saat ini, berhadapan dengan ..." Azriel saat ini tegang berhadapan dengan Ferdi.
Ferdian terkekeh melihat sikap Azriel yang sangat gugup.
"Zriel santai aja. Ini di luar kantor, jadi jangan gugup,"
"Azriel pesan saya kamu pertahankan kinerja kamu dengan baik di sana. Dari perusahaan pun juga akan menilai, bagi karyawan yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan jujur. Bayaran pun juga sesuai dengan tenaga yang kalian keluarkan. Mangkanya kami selalu mencari pekerja baru, sudah banyak karyawan yang kami keluarkan karena malas-malasan dalam bekerja. Itu sudah jadi peraturan tegas di perusahaan sejak awal," Jelas Joddy dengan serius, dan di angguki oleh Ferdian.
"Siap pak! Insyaallah saya akan bekerja sungguh-sungguh," jawab Azriel.
Ferdian dan Joddy tersenyum. Suasana yang tiba-tiba tegang menjadi santai, karena kedatangan Zio, yang berjalan sambil membawa mikrofon, sambil bernyanyi.
"Potong, bebek angsa. Masak di kuali, bubu minta dansa. Dansa empat kali. Solong kekili, solong ke kanan. Lalalalala ...."
__ADS_1
Anak itu bernyanyi sambil berlenggak-lenggok di depan keluarga, dengan rasa percaya dirinya. Membuat semua orang yang melihatnya tertawa, dengan sikap lucu Zio yang menggemaskan itu.
Bersambung ...