
Kemudian jadilah perdebatan antara Kinan dan Via di halaman rumah Ferdian. Mereka di pisahkan oleh pak Utar dan Joddy. Namun sepertinya Silviana memang tidak bisa di bilangin, jadilah keributan di antara mereka.
Flashback of
Di dalam rumah, Ferdian dan Erina duduk di sofa ruang keluarga. Di mana, Ferdi melihat sang istri sedang cemberut, dengan mode ngambeknya.
Sedangkan dari luar Kinan berjalan dengan wajah cemberut, terlihat dari luar Joddy mengejarnya.
"Sayang." Joddy segera menyentuh tangan Kinan. "Jangan ngambek dong, please!"
"Enak ya di gelendotin sama ulet keket kaya dia!" sindir Kinan, membuat Joddy tercengang.
"Apa yang enak, geli iya." Jawab Joddy dengan bergidik .
"Aku sebel sama kamu! Aku mau masuk ke kamar!" Kinan merajuk, dan berjalan di hadapan dua Kakaknya.
"Kok aku sih? Semuanya itu gara-gara tuh cewek!" protes Joddy.
Ferdian dan Erina melihatnya menjadi jengah, mereka seperti melihat drama percintaan.
"Kalian kenapa? Bisa tidak jangan bertengkar di depan kami!" omel Ferdian, membuat Joddy dan Kinan berhenti bertengkar.
"Maaf kak! Habisnya aku kesal aja dengan cewek itu, datang kesini bikin ribut aja. Heran deh Kinan, bisa-bisanya Ka Ferdian kenal perempuan gatel kaya dia!" celetuk adik Erina, membuat Ferdi terpojok dan mendapat tatapan menyeramkan dari istrinya.
"Sebenarnya dia itu teman rumahku, memang kami sempat akrab,"
"Sempat akrab, atau memang dia itu cinta pertama Kak Ferdi?" celetuk Kinan, membuat Erina menatap ke arah suaminya
Pertanyaan Kinan berhasil membuatnya terkejut. Erina menatap kearah suaminya dengan tatapan menyelidik.
"Enggak. Dia bukan cinta pertamaku, dia hanya teman ku saja, gak lebih. Jadi aku minta kalian jangan percaya, terutama kamu sayang!" Ferdian menatap wajah istrinya, yang terlihat merajuk.
"Terserah itu cinta pertama kamu atau apa. Yang jelas, sampai dia berhasil tinggal di sini aku yang akan pergi dan angkat kaki dari sini!" ancam Erina dengan sungguh-sungguh, ada rasa takut saat ini Ferdian rasakan.
Setelah mengatakan itu, Erina berdiri dan meninggalkan suami dan adiknya yang masih di ruang keluarga.
Kinan merasa bersalah dengan Kakak iparnya. "Maaf Kak!"
"Gak papa, nanti biar ku selesai kan. Tapi pinta ku jangan percaya dengan perkataan Via ya! Karena aku tidak pernah memiliki rasa apapun kepada dia. Karena cinta pertama ku ya hanya kakak kamu." jawabnya dengan sedikit senyuman, Kinan pun yang mendengarnya juga tersenyum.
"Satu lagi, jangan membuat Kakak kamu stress! Aku gak mau, nanti kandungannya kenapa-kenapa!"
__ADS_1
Kinan dan Joddy saling menatap dan tersenyum.
"Kak Erin sedang hamil?" tanya Kinan dan Ferdian mengangguk seraya tersenyum.
"Beneran Fer, si Erina sedang hamil?" tanya Joddy untuk memastikan kembali.
"Iya Erina saat ini sedang mengandung. Tadi kami sempat salah paham, dan semuanya itu karena Via." Ferdian menceritakan semuanya ke Kinan dan Joddy.
Terlihat raut wajah Kinan sangat kesal, saat Ferdian menceritakan kejadian tadi siang.
"Nah sekarang aku ingin kembali ke kamar." Kinan mengangguk. "Joddy kamu lebih baik pulang jangan berduaan terus dengan adikku. Segera halalkan dia!"
"Iya Bos tenang aja, gak lama lagi juga gue akan halalin ipar loe." Goda Joddy, dan Kinan tersipu malu dengan ucapan kekasih nya.
Sedangkan Ferdian hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat dua sejoli yang saling mencintai. Lalu melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Kini hanya tinggal Kinan dan Joddy di ruangan itu. Terlihat Joddy tersenyum menggoda gadis di hadapannya.
"Yank. Jangan marah lagi ya? Aku minta maaf, beneran aku gak bermaksud buat dekat dengan ulat keket kaya dia. Aku lebih suka dengan gadis kaya kamu, gak mudah dekat dengan pria. Satu lagi, kamu itu wanita hebat." Goda Joddy.
"Alah gombal. Udah sana pulang! Aku mau istirahat." Kinan dengan bibir manyun, membuat Joddy terkekeh.
Joddy pun terkekeh. "Ya sudah aku pulang dulu ya. Sampai ketemu lagi calon istri, I Love you sayang."
Cup!
Dengan nakal nya Joddy mengecup pipinya, dan itu berhasil membuat Kinan tercengang, lalu menyentuh bekas kecupan itu yang masih terasa hangat.
"Assalamu'alaikum kesayangan ku." Ucap Joddy dengan mengerlingkan mata sebelahnya, seraya tersenyum.
"Wa- Waalaikumsallam ," jawab nya dengan gugup.
Joddy pun meninggalkan Kinan yang masih mematung di tempatnya. Jujur itu yang pertama untuknya, dan itu berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.
Sedangkan di dalam kamar, Ferdian sedang merayu Istrinya yang sedang merajuk. Zio yang masih tertidur di kamarnya, setidaknya membuatnya sedikit lega. Karena anak itu tidak melihat orang tuanya sedang bertengkar.
"Sayang. Please jangan marah dong! Kamu percaya sama aku, dia itu bukan cinta pertamaku dia hanya temanku saja." Bujuk Ferdian dengan menggenggam tangan istrinya, yang saat ini sedang merajuk.
"Lalu kenapa dia bilang begitu?" Erina dengan cemberut, membuat Ferdian tersenyum melihatnya. Meskipun sedang merajuk tapi masih menunjukkan wajah menggemaskan.
"Kalau aku ceritakan, aku minta kamu jangan ngambek lagi. Kamu juga harus percaya dengan aku, karena kamu tau sendiri semuanya tentang aku. Tidak ada yang aku sembunyikan apapun dari kamu," Ferdian dengan wajah memohon.
__ADS_1
Erina menatap wajah suaminya lekat-lekat, terlihat tidak ada kebohongan pada pria di hadapannya saat ini.
Erina pun mengangguk, dan membuat Ferdian tersenyum bahagia.
"Jadi gini. Aku dan Via itu pernah tinggal di satu lingkungan yang sama. Kami berteman baik, memang dia itu gadis yang periang. Ayah dan ibu sambung ku, berniat menjodohkan kami berdua, bahkan ibunya meminta ku untuk segera menikahinya," cerita Ferdi.
"Lalu, kamu menerima dia untuk menikahi gadis itu?" tanya Erina dengan tak sabar.
Ferdian menggelengkan kepalanya.
"Saat itu, aku baru mulai bekerja. Mana mungkin aku menikahi dia, mau aku kasih makan apa anak gadis orang."
"Kalau gak salah dulu itu, ayah kamu juga berniat ingin mendekati aku ke kamu. Tapi nyatanya aku kalah cepat, karena kamu balikan lagi dengan Damar." Ada senyuman kecut, pada Ferdian saat mengingat kejadian itu.
"Untuk mengubur rasa sakit ku. Aku coba menjalin hubungan dengan wanita lain. Namun nyatanya aku tidak bisa menjalani dengan gadis itu. Karena di hatiku masih ada kamu,"
"Namun nyatanya keluarga Via kembali menuntut ku untuk kekeh menikahi dia, dan ibuku juga memaksanya. Aku menolak terang-terangan, dan bilang aku mempunyai kekasih,"
"Lalu sebulan kemudian ayahku meninggal, lalu di susul nenekku. Tepat setelah itu, aku di mutasi dari tempat kerjaan, dan itu dijadikan kesempatan ku untuk pergi jauh dari sana. Sampai aku menemukan bunda, ternyata bos ku sendiri adalah wanita yang melahirkan ku. Seterusnya aku tak kembali kesana, namun barang-barang pemberian kamu selalu ku bawa kemana pun aku pergi."
"Sampai aku mengurus semua usaha papah dan Bunda, lalu menemukan kamu kembali."
Semua yang di ceritakan Ferdian, benar-benar membuat Erina tersentuh. Bahkan sampai menitikkan air matanya,
Ferdian pun lalu menghapus bulir bening yang berhasil lolos, dan membasahi wajah cantik Istrinya.
"Sekarang kamu percayakan dengan apa yang sudah ku jelaskan ke kamu?" Erina mengangguk."Tidak ada yang ku sembunyikan, atau aku lebihkan apa yang aku katakan tadi,"
"Aku percaya sama kamu Mas. Maaf sudah meragukan kamu ya?"
"Enggak masalah, wajar kamu marah dengan apa yang Via tunjukkan. Sekarang yang terpenting itu, kamu percaya sama aku, kalau aku sangat mencintai kamu." Ferdian mengecup tangan istrinya.
"Aku juga Mas, aku cinta kamu. Maaf aku sudah posesif ke kamu!"
"Gak papa, aku suka kamu seperti ini."
Dengan rasa sayang dan bahagianya, Ferdian langsung membawa istrinya kedalam pelukannya.
Sweet banget gak sih? Ferdian kamu itu ekhem-ekhem banget sih! wkwkwkw ....
Bersambung ....
__ADS_1