Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Keributan di rumah


__ADS_3

Tanpa pikir panjang, Ferdian segera membawa istrinya ke rumah sakit. Dirinya takut terjadi sesuatu kepada Erina, apalagi dengan kondisinya yang terlihat lemah, dan suhu tubuhnya juga sangat tinggi. Dan membuatnya benar-benar sangat khawatir.


Kini mereka sudah sampai di rumah sakit, dan saat ini Erina sedang di tangani oleh seorang dokter Perempuan.


"Tidak ada yang perlu di khawatir kan dengan kondisi Istrimu Fer. Karena saat ini dia sedang mengandung buah cinta kalian," kata Dokter perempuan bernama Carlina, atau di panggil Lina oleh Ferdi yang tak lain sepupunya.


Ferdian dan Erina terkejut mendengarnya.


"Kamu gak bercanda kan Ina?" tanya Ferdi dan dokter Lina pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jadi istriku saat ini sedang hamil.


"Iya Istrimu saat ini sedang mengandung. Kamu harus lebih ekstra menjaganya, jangan membuat bumil sedih ataupun emosi, karena dampaknya akan berpengaruh kepada janinnya, dan jangan terlalu kecapean." Ferdian yang mendengarkan dengan baik-baik, sesekali ia menatapnya dengan rasa bersalah.


"Aku ingin pulang, Dok. Apa boleh? Kasian anakku di rumah pasti dia saat ini sedang mencari ibunya!" pinta Erina, dan membuat Ferdian menatap istrinya.


Ferdian menyentuh tangan Erina, namun ia menghindar. Dokter Lina pun melihatnya, dan tersenyum.


"Baik Ferdian, Erina. Sepertinya ada yang harus kalian selesaikan, dan saya akan keluar untuk melihat pasien yang lainnya." Kata Lina sedikit menggoda sepasang suami istri yang tak lain sepupunya.


"Erina jika kondisi kamu sudah memungkinkan untuk pulang. Aku akan memberikan resep obat dan vitamin untuk kamu," jelas Lina, dan Erina pun mengangguk.


Ruangan itu terasa sunyi, mereka tak ada yang saling berbicara. Erina masih sedih dan takut dengan suaminya, dia pikir Ferdi masih marah kepadanya.


Begitupun juga dengan Ferdian, yang masih belum membuka suaranya. Dirinya pikir istrinya masih merajuk, sebenarnya ia merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukan. Sudah tega membentak wanita yang sangat ia cintai.


Ingin sekali rasanya Ferdi memeluk istrinya, namun dirinya masih takut danmerasa bersalah sudah membuatnya sedih.


Erina hendak bangun dari tidurnya, Ferdian segera mendekati istrinya.


"Kamu mau apa? Heemm," tanya Ferdian dengan lembut, sambil membantu Erina untuk duduk.


"Aku mau minum," jawabnya dengan wajah yang menunduk.


Ferdian semakin merasa bersalah dengan sikap istrinya seperti itu. Dirinya segera mengambil gelas berisikan air di atas meja, lalu membantunya untuk minum.

__ADS_1


Saat minum pun ketika Ferdian menatap wajahnya, Erina hanya menundukkan kepalanya. Seperti masih ketakutan kepada suaminya itu.


"Sudah," kata Erina.


Ferdian pun meletakkan gelasnya ke atas meja kembali, lalu ia duduk di samping istrinya. Sambil menatap wajah wanita yang kini sedang mengandung buah cintanya.


"Aku minta maaf ya? Jujur aku sangat menyesal sudah membentak dan marah sama kamu!" seketika bulir bening pun berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Karena Erina sejak kecil, saat bersama ayahnya, dirinya tak pernah di bentak sedikitpun. Bahkan setiap Bu Hesti marah kepadanya, pak Bagas selalu menjadi pelindungnya.


Bukan hanya itu, selama kenal Damar pun laki-laki tak pernah kasar kepadanya, atau membentaknya. Meskipun marah paling dia hanya mendiami Erina saja, gak pernah sampai membentaknya. Karena dia tau istrinya itu selalu berkata dengan lemah lembut.


Mangkanya saat kejadian kemarin, Damar sampai melakukan kekerasan seperti itu. Dan itu berhasil membuat Erina sangat ketakutan, seperti memiliki rasa trauma baginya.


Ferdian menelungkupkan kedua tangannya di wajah cantik Istrinya, lalu di kecup keningnya dengan lembut. Terdengar isak tangis dari Erina.


"Maafkan aku, sudah membuat kamu seperti ini. Aku gak bermaksud buat kamu takut sayang." Ferdian menatap wajah istrinya, tangannya menghapus air matanya dengan lembut.


"Ssssttt ... sudah jangan mengatakan apapun. Di sini aku lah yang salah."


"Enggak!" Erina menggelengkan kepalanya. "Aku ingin jelaskan ke kamu. Aku hanya teringat, perkenalan Via, seperti Damar mengenali aku kepada Melody. Ternyata di belakang ku dia telah menebarkan benih kepada Lody." Jelas Erina, membuat Ferdian terdiam mendengarkan istrinya mengatakan itu.


'Aku sudah membuat dia kembali mengingat kejadian yang dimana pengkhianatan itu di mulai oleh Damar. Mana ku tega nyakitin hati seorang wanita yang begitu lembut seperti dirinya. Ya Tuhan biarkan aku menjaga dan mencintai istriku segenap jiwa dan ragaku, jauhkan keluarga kami dari seseorang yang berniat jahat kepada kami.'


"Aku tidak ingin itu terjadi kembali Mas. Jujur aku masih memiliki trauma dengan rumah tanggaku yang pernah gagal. Aku tak ingin itu terulang."


Ferdian segera membawa istrinya kedalam pelukannya. "Gak akan, insyaallah aku akan menjaga hati ku untuk kamu, dan keluarga kita. Aku bukan hanya janji, aku akan berusaha menepati janjiku ini."


'Aku akan melindungi kamu dan keluarga kita, sampai mata ku tertutup untuk selamanya.' Itulah janji Ferdian untuk anak dan istrinya.


Erina menangis di pelukan Ferdian, sampai dirinya benar-benar tenang. Ferdi menatap wajah istrinya, lalu di kecupnya bi*irnya.


Cup!

__ADS_1


"Sudah jangan menangis lagi ya? Aku tidak ingin anak kita di dalam sini ikut bersedih." Sambil menghapus air matanya.


Erina mengangguk, dan tersenyum. Tiba-tiba saja dirinya merasa khawatir dengan kehamilannya ini, dirinya takut kasih sayang Zio akan berkurang.


"Mas, kamu akan tetap menyayangi Zio sebagai putramu kan?" tanya Erina, dengan kecemasan hatinya.


Ferdian mengerti maksud dari pertanyaan Erina. Ferdi pun menyentuh tangan istrinya, lalu di kecupnya.


"Kamu jangan khawatir, aku akan selalu menyayangi Zio. Karena dialah aku bisa memiliki kamu sekarang, bahkan sampai hasil cinta kita pun hadir di sini." Sambil menyentuh perut istrinyanya yang masih rata.


Erina tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh suaminya, dan merasa lega dengan apa yang dia takuti selama ini.


Dirinya merasa beruntung memiliki suami seperti Ferdian, yang mencintai putranya dengan tulus.


Kini Dokter Lina pun memperbolehkan Erina untuk pulang, serta memberikan obat untuk kandungannya.


Kini Ferdian dan Erina berada di dalam mobil untuk pulang. Namun saat sampai depan rumah, Ferdi melihat keributan.


"Ada apa itu Mas? Seperti ada keributan,"


"Gak tau sayang. Yasudah aku lihat dulu ya!" Ferdian segera keluar dan menghampiri rumahnya.


Alangkah terkejutnya Joddy dan security sedang menengahi antara Kinan dengan Via. Erina yang melihatnya pun langsung ikut menghampiri keributan tersebut.


"Hei! Ada apa ini? Kenapa ada keributan di rumah!" Ferdian menengahi dua wanita yang sudah acak-acakan karena saling menjambak.


Terlihat Joddy dan security sudah terlihat lelah, memisahkan dua wanita yang saling adu argumen.


"Ferdian. Sebenarnya dia itu siapa? Beraninya dia melarang ku masuk kerumah kamu. Aku yakin dia hanya gadis yang numpang hidup bersama kamu ya!" adu Silvia dengan manja, kepada Ferdi.


Erina yang melihatnya Via bergelayut manja kepada suaminya, terlihat sangat geram. Sedangkan Ferdian merasa risih dengan apa yang di lakukan Silvia saat ini.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2