
Erina merasa tidak bisa berkata-kata, mendengar Ferdian mengatakan seperti itu. "Apa kamu masih tidak yakin dengan aku. Apa aku harus berjanji agar kamu percaya!"
"Stop, aku tidak ingin mendengar janji Fer. Aku hanya ingin kamu membuktikan itu semuanya," jawab Erina dengan wajah serius, Ferdian hanya menganggukkan kepalanya.
"Baik aku akan membuktikan ke kamu, kalau aku benar-benar mencintai kamu dan Zio.Aku sayang kalian, ingin menjadi bagian dari kamu dan anak kamu." Ferdian menggenggam tangan Erina, dengan erat.
Jantung Erina saat ini berdebar sangat kencang, dan merasa tersentuh apa yang di katakan oleh Ferdian.
"Rin, apa kamu mau menerimaku? Untuk menjadi pasangan kamu, sekaligus ayah sambung untuk Zio!" ucap Ferdian dengan sungguh-sungguh, saat mengatakannya.
Erina dapat melihat ketulusan pada Ferdian saat mengatakan, apalagi ia tau betul sifat laki-laki di hadapannya seperti apa.
Erina menjadi mengingat apa yang pernah dikatakan om Fajar.
"Jika kamu ragu dengan Ferdian, kamu harus yakinkan hati kamu. Kamu lihat seberapa besar dia perhatian kepada kamu dan Zio, dan hanya kamu lah yang tau dan merasakan bagaimana Ferdi saat bersama kamu dan anak kamu."
Erina juga mengingat perkataan adiknya, saat itu.
"Kakak lihat seberapa besar perhatiannya dia kepada kalian berdua. Aku yakin dia laki-laki baik, yang tulus sayang sama kalian. Kak Erina orang baik, dan pantas mendapatkan kebahagiaan kembali. Terutama Zio, Ferdian pantas menjadi ayah sambungnya."
Erina mencoba meyakinkan hatinya, dengan membaca Basmallah, untuk menjawab pertanyaan Ferdian.
"Erina? Terus bagaimana apa kamu mau menerimaku untuk menjadi bagian keluargamu?" tanya Ferdi lagi untuk memastikan.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim. Iya Ferdian aku mau menerima kamu, dan memberikan kesempatan untuk kamu menjadi bagian keluargaku," jawab Erina dengan sungguh-sungguh, membuat laki-laki di hadapannya tersenyum merasa tak percaya.
"Kamu se... serius Rin?" tanya Ferdian dengan menggenggam tangan Erina.
"Iya aku serius Ferdi. Aku ingin memberikan kesempatan ke kamu," jelas Erina dengan tersipu malu.
"Alhamdulillah," ucap Ferdian seraya mengusap wajahnya. "Terimakasih Erina kamu memberikan kesempatan untuk aku,"
Erina pun mengangguk dan tersenyum. Karena melihat Ferdian terlihat senang, yang mengepalkan tangannya, lalu ditarik dari atas ke bawah.
Erina tertawa melihat sikap Ferdian seperti itu. "Ferdi, stop berhenti! Kamu di liatin orang,"
"Biarin aja, mereka gak tau, seberapa bahagianya aku saat ini," ucap Ferdian dengan wajah berbinar.
Kini Erina, Zio, dan Ferdian, melanjutkan perjalanannya sekaligus untuk pulang. Namun kali ini tangan Ferdi berpegangan tangan, kepada wanita yang berada di sampingnya.
Sudah puas mengelilingi melihat binatang, kini mereka pun memutuskan untuk pulang. Kini Erina dan Zio sudah berada di dalam mobil, dengan Ferdian yang mengendarai di kursi kemudi.
Selama di dalam mobil pun, Ferdian selalu tersenyum, bahkan tangannya selalu menggenggam tangan Erina. Meskipun hanya berpegang tangan, sudah cukup membuatnya bahagia.
Ferdian akan terus berusaha membuat Erina agar menjadi istrinya, dan akan menyayangi Zio seperti putranya.
Sore harinya mobil mereka sudah sampai di depan rumah Erina, Zio terlihat tidur pulas di gendongan ibunya. Setelah meletakkan putranya, Ferdian berpamitan.
__ADS_1
"Aku pulang ya. Sekarang kamu istirahat!" Ferdian memberikan perhatiannya kepada Erina.
"Iya, aku akan istirahat. Kamu juga pulangnya hati-hati di jalan!" Ferdian mengangguk dan tersenyum.
"Mau aku kasih kabar gak, kalau sudah sampai di rumah? Barangkali kamu mengkhawatirkan aku, di jalan," goda Ferdian membuat Erina tersenyum.
"Iya, jangan lupa kamu kasih kabar ya? Kalau kamu sudah sampai rumah," ucap Erina membuat Ferdian rasanya bahagia mendengarnya.
"Pasti, nanti aku akan kasih kabar ke kamu, kalau sudah sampai rumah, Oke! Yasudah sekarang aku pulang, kamu istirahat ya!" Erina mengangguk.
Kini Ferdian masuk kedalam mobil, dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Erina. Setelah sudah tak terlihat lagi, ia pun masuk kedalam rumahnya.
Saat Erina berada di dalam kamar, dan membuka handphonenya, terlihat notifikasi pesan dari Ferdian.
Kamu langsung istirahat, jangan ngapa-ngapain, ataupun memasak. Aku sudah pesankan makanan untuk kalian bertiga, jadi kamu tak perlu masak untuk makan. Love you.
Itulah ia pesan chat dari Ferdian, yang berhasil membuat Erina tersenyum saat membaca, dan hanya bisa menggelengkan kepala. Dari dulu sampai sekarang, kalau selalu peduli dengan dirinya, dia selalu seperti ini.
Bersambung..
Hai semuanya! Maaf ya author akhir- akhir ini up hanya sedikit. Karena flu sedang melanda. Semoga kalian tidak kecewa dengan author.
Untuk itu agar author semangat, jangan lupa tinggalkan jejak kalian, atau komentar yang membuat author semangat.
__ADS_1
...Terimakasih untuk kalian semua 🙏🙏🙏...