Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Rasa nyeri


__ADS_3

Dokter pun menjelaskan Erina tentang putri nya yang sudah lahir. Erina pun tersenyum dan mengangguk. Namun untuk saat ini pikirannya, hanya pada suaminya.


Mas kamu dimana, apa benar kamu kecelakaan. Aku seperti tidak percaya, karena aku semalam seperti mendengar suara kamu di telinga ku. Atau itu hanya mimpi saja. Tetapi jika itu benar, aku tidak sanggup menerima kenyataan itu.


Erina hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya.


Sedangkan Ferdian yang baru saja meninggalkan musholah, melihat dokter dan perawat. Baru saja keluar dari rolong kamar tempat istrinya di rawat.


"Dokter itu, habis dari ruangan kita. Apa yang sudah terjadi ya?" tanya Joddy.


"Entah lah, apa ada sesuatu dengan Erina atau Kinan?" Ferdian menduga-duga.


"Kinan," ucap Joddy, saat dirinya ingat istrinya tidak ingin makan apapun. Ia takut terjadi sesuatu kepada istrinya.


Begitupun juga Ferdian, dirinya teringat kondisi istrinya. Dia berharap, ada kabar baik untuk istrinya.


Joddy dan Ferdian berlari, menuju ruangan istri mereka. Ferdi ikut melihat kondisi Kinan, yang terlihat baik-baik saja.


"Bunda. Apa mas Ferdian baik-baik saja?" tanya Erina.


"Ferdian?" tanya bunda sekali lagi. " Suami kamu baik Nak, justru kami khawatir dengan kondisi kamu,"

__ADS_1


"Tapi, orang itu mengatakan bahwa mas Ferdi ...."


Erina tak sanggup mengatakan apapun. Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka.


Ferdian terkejut, saat melihat bunda sedang berbicara kepada istrinya. Begitupun juga dengan Erina, yang melihat suaminya berdiri di depan pintu.


"Sayang ...."


"Mas_ _ Mas Ferdian," ucap Erina dengan terbata-bata, karena ia merasakan rasa nyerinya di bagian lukanya.


Bibir Erina bergetar, dan bulir bening pun kembali keluar dari matanya. Ferdian pun segera menghampiri istrinya, lalu mengecup keningnya.


Ferdian merasa sangat bahagia, saat melihat istrinya kembali membuka matanya. Ferdi mendengar isak tangis dari istrinya.


"Huuuuuu ... Mas Ferdi. Alhamdulillah kamu sehat dan kembali. Aku tidak ingin kehilangan kamu Mas." Sambil memeluk suaminya begitu erat.


Ferdian pun ikut merasakan kesedihan istrinya. Begitupun juga dirinya tak sanggup jika kehilangan wanita yang sangat ia cintai.


"Aku sehat sayang. Justru aku khawatir dengan kondisi kamu sayang, aku tidak ingin kehilangan kamu. Apalagi semalam, rasanya aku hampir gila, melihat kamu masuk ke ruangan itu." Kata Ferdian, menyentuh kedua pipi Erina, dan menatapnya.


Karena tak ingin mengganggu pasangan muda tersebut, Bu Nabila pun keluar meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Sedangkan Ferdian duduk di samping istrinya, dan terus menatap wajah istrinya.


Mata Ferdian terlihat memerah, karena tak kuasa menahan air matanya, saat melihat istrinya sadar.


Erina yang masih terbaring lemah, hanya bisa menatap wajah suaminya. Tanpa bisa bergerak sedikitpun.


Dirinya merasa setengah bagian tubuhnya, seperti mati rasa. Bahkan kaki untuk bergerak saja, rasanya seperti kram. Apalagi jika dirinya batuk dan tarik nafas, rasanya sangat nyeri di bagian luka operasi.


"Ada yang kamu rasakan sayang? Kenapa kamu memejamkan mata, dan sampai menangis? Coba bilang sama aku, biar aku panggilkan dokter." Ferdian terlihat panik.


"Bagian lukanya terasa nyeri Mas." Erina tak sanggup mengatakan, hanya bisa menahan rasa nyeri itu.


"Ya ampun, aku panggilkan dokter ya. Aku gak tega lihat kamu sayang." Ferdian menghapus peluh di kening istrinya.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, dan terlihat dua orang perawat membawakan makanan, dan juga obat untuk Erina.


"Sus, istri saya merasakan nyeri di bagian luka operasi," ucap Ferdian.


"Iya pak, jangan khawatir. Ini sudah kami bawakan obat, untuk pereda rasa nyerinya. Mungkin sisa obat biusnya sudah habis. Jadi rasa nyerinya mulai dirasakan oleh pasien,"


"Ya ampun sayang, kamu yang kuat ya." Ferdian menyentuh kepala Erina, membuat dua susternya memperhatikan sikap romantis Ferdi dengan tersenyum.

__ADS_1


Mungkin dua perawat itu jomblo kali ya. mangkanya baper liat Ferdian begitu ke Erina.


Bersambung....


__ADS_2