
Baby Zio menatap wajah ibunya.
"Kenapa Nak?" tanya Erina, putra kecilnya masih mengamati ada yang berbeda oleh ibu nya.
Saat di lihat tangan ibunya terdapat perban, Zio menatapnya dengan heran.
"Nih apa( Ini kenapa)? Bubu Atit (Ibu sakit)?" sambil menunjuk arah yang yang luka.
Erina tersenyum. "Iya sayang sakit, cuma sedikit aja ko. Kalau Zio cium Bubu pasti sembuh," ucap ibu satu anak itu.
Zio pun tersenyum lalu di kecupnya pipi Erina dan di pelukannya. Itu menjadi pemandangan indah bagi mereka yang melihatnya.
"Bubu, pet embuh ( Ibu cepat sembuh) ya!"
"Iya sayang, pasti bubu cepat sembuh nih. Habis di cium gantengnya ibu," ucap Erina, membuat Zio tertawa sampai mata nya merem.
"Pintar Zio, sudah obati bubu." Timpal Kinan bertepuk tangan, anak balita itu ikutan apa yang di lakukan tantenya.
Ferdian, Joddy, pak Fajar dan istrinya pun ikut tersenyum melihat tingkah Zio yang menggemaskan.
Zio merasa bingung di rumahnya banyak orang, dan ada dua orang yang tidak di kenalnya.
"Hai Zio," sapa Ferdian, dengan tersenyum hangat.
Zio menatap wajah ibunya, seakan meminta jawaban siapa dua orang asing tersebut.
"Bubu, niapa ( ibu ini siapa) ?" tanyanya dengan suara lucunya, dan hanya Erina lah yang mengerti terjemahan anaknya.
Ferdian masih menunjukkan senyuman kepada Zio terlihat menggemaskan.
"Ini, Om Joddy, dan ini Om Ferdian. Dua orang ini teman Bubu," Erina menjelaskan, dan sepertinya putranya pintar jadi mengerti apa yang di katakan ibunya.
Zio pun mengangguk. "Anak bubu yang pintar, Sekarang Ezio harus cium tangan dengan dua Om di sana!" pinta Erina, dengan cepat bocah itu menghampiri Ferdian dan Joddy, yang menyambutnya.
Terlihat menggemaskan saat bocah itu mencium tangan Ferdi dan Joddy.Tingkah Zio yang sangat lucu menjadi pusat perhatian para orang dewasa.
****
__ADS_1
Setelah mengantar Erina, Ferdian dan Joddy pun pulang. Saat berada di rumah, dirinya terus saja tersenyum. Bahkan di saat para keluarga besar sedang berkumpul, di mana sang bunda memperhatikan putranya yang bersikap aneh.
"Ekhem ..." Suara seseorang berdehem membuat buyar lamunan Ferdian mengingat senyum Erina.
"Eeh ... maaf, aku gak fokus mendengar obrolan kalian," ucap Ferdi dengan salah tingkah.
Sedangkan Joddy hanya mencebikkan bibirnya, meledek sepupunya. Ferdian tak menggubris, sikap saudaranya.
"Bunda, dan semuanya. Maaf sebelumnya! Aku ingin kembali ke kamar dulu!" pamit Ferdi kepada keluarganya.
Bunda dan yang lainnya pun mengangguk. Setelah itu Ferdi melenggang pergi meninggalkan keluarga yang saat ini masih menatapnya.
Bu Nabila dan pak Hamzah masih nampak bingung dengan sikap Ferdi yang aneh. Lalu mereka menatap Joddy, seakan-akan mencari jawaban darinya.
"Jangan tanya aku ya Bun, Om. Karena sejak tadi aku juga bingung sikap Ferdi sangat aneh," jelas Joddy.
Kini Ferdian berada di dalam kamar, sedang memegang sebuah buku. Namun Ferdi bukan membacanya, melainkan melihat selembar foto, dengan gambar seorang wanita berhijab sedang tersenyum manis.
"Seberapa jauh jarak yang ku tempuh, nyatanya kamu selalu hadir mendekat. Tuhan, apa aku boleh kembali berharap agar gadis ini menjadi milikku," ucap nya sambil menatap sebuah foto.
Tanpa Ferdian sadari, bunda Nabila sedang menatapnya saat ini.
Ferdian menjadi salah tingkah, dan tersenyum malu. Lalu menutup bukunya kembali, sedangkan Bu Nabila hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap putranya.
Bunda lalu duduk di samping Ferdian, putranya yang selama ini banyak hal yang di rahasiakan.
"Buku itu, untuk di baca. Bukan untuk di perhatikan, dan senyum-senyum sendiri." Sindir bunda, membuat Ferdian menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bunda, hihihi ..." Ferdi terkekeh dan salah tingkah. "Kok aku tidak tau bunda datang ya?"
"Bagaimana mau tau, kamu itu fokus oleh sesuatu di balik buku itu," bunda tersenyum meledek Ferdian.
"Siapa dia?" tanya bunda, membuat Ferdian diam. "Kamu tidak ingin bunda tau tentang kisah kamu!" Bu Nabila menggenggam tangan putranya.
"Kenapa Bunda mengatakan itu. Bagaimanapun kamu wanita yang sudah melahirkan ku, hingga sekarang aku berada di sini. Meskipun aku tak pernah merasakan tumbuh besar oleh Bunda." ucap Ferdi membuat mata Bu Nabila mengembun.
"Bunda hanya ingin lebih dekat lagi dengan kamu. Setelah bertahun-tahun bunda tak pernah berjumpa dengan kamu." Ferdi semakin tak tega dengan wanita yang sudah melahirkannya ini.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis lagi, sekarang Ferdi sudah tinggal dengan Bunda," ucap Ferdian, membuat wanita itu tersenyum.
"Sebenarnya aku baru bertemu teman lamaku kembali," Ferdian seraya tersenyum, dan bunda menggelengkan kepalanya.
"Seorang wanita?" tanya Bunda, dan Ferdian mengangguk. "Apa dia mantan pacar kamu?" tebaknya kembali.
Ferdian tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. "Bukan Bun, dia hanya adik kelasku. Aku sempat memiliki rasa suka kepadanya, tapi pria lain sudah memilikinya."
"Lalu kamu bertemu dia kembali sekarang, apa gadis itu masih bersama pria itu?" tanya bunda kembali.
"Tidak lagi! Sebenarnya kemarin aku tidak datang ke pembukaan acara, karena dia Bun. Joddy menabrak seseorang, dan ternyata korbannya gadis itu," jelas Ferdi.
"Kalian bertemu kembali?" Ferdian mengangguk. "Lalu, sekarang bagaimana?"
Ada senyuman pada Ferdi. "Aku ingin mencoba mendekatinya kembali,"
Bunda tersenyum. "Berjuanglah Nak, tetap semangat jangan menyerah." Sambil menepuk pundak Ferdian.
Ferdi tersenyum, sang Bunda Oun memeluk putranya untuk memberikan semangat kepadanya.
Tentang Bunda dan Ferdian
Bu Nabila pernah menikah dengan seorang pria bernama Fery. Saat usia pernikahan memasuki usia lima tahun, ternyata sang suami diam-diam memiliki istri simpanan.
Bu Nabila pun meminta berpisah dengan suaminya dengan alasan tak ingin di madu. Namun yang membuatnya sedih bukan karena perceraiannya, tetapi hak asuh putranya jatuh di tangan suaminya.
Sampai suatu ketika, Bu Nabila bekerja di sebuah toko, yang tak lain pemiliknya bernama pak Hamzah. Selama itu juga dirinya tak dapat berjumpa dengan putranya yang kini tinggal bersama mantan suaminya.
Sampai dua tahun lamanya, pak Hamzah diam-diam jatuh hati kepada Bu Nabila. Sampai akhirnya mereka pun menikah.
Di saat itu juga Bu Nabila mendengar kabar, kalau mantan suaminya pindah entah kemana dengan membawa putranya. Bu Nabila dan pak Hamzah selalu mencari keberadaan Ferdian.
Hingga lima tahun lalu, ia mendapatkan kabar jika putra bekerja di salah satu toko tempat milik suaminya. Dari sana Bu Nabila mencari tau semua data karyawan, di setiap anak cabangnya. Sampai akhirnya ia menemukan data Ferdi.
Benar saja setelah mencari tau, tentang seluk beluk ternyata Ferdian itu adalah putranya yang selama ini ia cari.
Selama 20 tahun tahun, dirinya dan sang suami selalu mencari Ferdian. Ternyata keluarga mantan suaminya sudah tiada, dan itu juga menyebabkan Ferdi hidup berpindah-pindah tempat untuk bekerja.
__ADS_1
Sekarang Ferdi di percaya untuk membantu mengurus usaha milik ayah dan bundanya. Selama Lima tahun itu juga, Ferdian berhasil membuka usaha Frozen food dan sekarang berkembang pesat. Bahkan dirinya mempunyai banyak anak cabang.
Bersambung....