Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Emosi Kinan


__ADS_3

Ferdian pun mengangguk, lalu menoleh kearah lain. Sedangkan Kinan segera membawa Qia keluar dari ruangan tersebut.


"Dasar cewek sin*ing!" gerutu Ferdian.


"Dia ngapain memangnya?" tanya Joddy.


"Dia main masuk bawa kopi seharusnya, Bu Yeti yang bawa kesini," Ferdian duduk kembali di kursi kerjanya.


"Lagian elo ngapain sih, pake kesini. Udah di bilangin istirahat aja di kamar, malah keruang kerja!" omel Joddy.


"Gak ada Erina, lagian mana bis gue tidur di waktu sore seperti ini," dumel Ferdian.


"Seenggaknya elo istirahat Fer, gue bilang kaya gini, karena elo sodara gue. Anggaplah gue kaya Abang loe, bukan orang lain!" Joddy mengomel.


"Emang selama ini, elo gue anggap orang lain? Elo nya aja, kalau manggil gue pake sebutan bos!" jawab Ferdian, sedangkan Joddy terkekeh.


"Sekarang gue mau ke kamar istirahat, tiba-tiba kepala gue sakit." Sambil memijat keningnya sendiri.


"Yakin elo gak papa Fer? Barang kali elo mau ke dokter gue bisa anterin.


"Ferdian menggelengkan kepalanya, lalu berjalan menuju kamarnya.


Sedangkan Kinan sedang berada di kamar kakaknya. "Kak aku mohon jangan buat ulah di sini. Aku gak enak dengan kak Ferdi,"


"Memang aku ngapain si Kin. Aku cuma bawa kopi untuknya. Dia nya aja yang sensi! Lagian aku gak bohong tadi ada cicak,"


"Lagian kamu tuh, peduli banget si dengan Erina. Dia itu kan cuma kakak tiri kita, jadi gak usahlah baik dengan dia!" kata Qia menghina Erina, membuat Kinan marah dan tak terima dengan perkataan kakaknya.


"Meskipun dia kakak tiri kita. Tetapi dia sudah baik kak dengan keluarga kita! jawab Kinan dengan membentak Qia.


"Dengar ya kak. Aku menganggap ka Erin itu bukan kakak tiriku, tetapi saudara kandung ku. Dia selalu peduli dan sayang dengan ku, tidak seperti kamu yang selalu saja membuat ku kesal!"


"Gak kamu, ibu, ayah dan Noval. Semuanya berpihak kepadanya, dia selalu saja mendapatkan kemujuran. Apa yang dia inginkan selalu dia dapatkan. Lihat saja, aku akan mengambil semuanya apa yang dia miliki!" ancam Asqia.


"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Aku akan selalu berdiri di depan untuk ka Erin. Aku juga akan mengatakan ke ibu, kalau kamu sudah berniat jahat kepada kak Erina!" Kinan pun juga tak mau kalah mengancam balik kakaknya.


Setelah selesai mengatakan itu, Kinan meninggalkan Qia yang masih berada di kamarnya.


🍃🍃🍃


Sedangkan Erina yang saat ini sedang shopping bersama bunda Nabila, mengajak Zio dan Tantri adik dari Ferdian.


"Ternyata shoping bersama seperti ini asyik ya Bun? Biasanya hanya kita berdua saja. Sekarang ada kak Erin dan Zio." Kata Tantri mencium pipi bocah laki-laki di sampingnya.

__ADS_1


"Iya Bunda juga sangat senang, bisa belanja bareng dua putri dan cucu yang menggemaskan," sambil tersenyum menatap Zio yang saat ini sedang berceloteh.


"Bunda, kita main ke tempat ka Erin yuk!" ajak Tantri.


"Boleh. Rin, bunda main ya ke rumah?"


"Iya Bunda aku justru sangat senang jika kalian main," jawab Erina.


Kini mobil yang di kendarai bunda sudah sampai di kediaman anak dan menantunya. Di sana terlihat Kinan dan Joddy yang sedang duduk di halaman.


Karena waktu sudah menunjukkan pukul lima empat sore, sinar matahari pun terhalang dengan pepohonan.


"Rin itu Joddy kebetulan juga sedang di sini?" tanya Bunda, dan Erina mengangguk.


Kini mereka keluar dari mobil, berjalan menghampiri Joddy dan Kinan.


"Bu Erin, saya antar den Zio ke kamar ya," Kata pengasuhnya, Erina pun mengangguk.


"Kinan, Joddy kalian ko di taman? Mas Ferdi di mana?" tanya Erina.


"Rin, Ferdian sedang kurang sehat. Sekarang dia berada di kamar, mungkin tidur. Soalnya dia tadi sempat marah dengan Qia," adu Joddy.


"Mas Ferdi marah?" tanya Erina dengan tak percaya.


"Kenapa bisa mas Ferdian marah ke Qia?" Kinan dan Joddy menggelengkan kepalanya.


Erina merasa khawatir dan juga cemas, mendengar kalau suaminya sakit, bahkan sampai habis marah dengan Asqia.


"Rin, lebih baik kamu lihat kondisi Ferdian. Kalau memang harus ke dokter, biar bunda dan Joddy bantu kamu." Kata Bu Nabila, dan Erina mengangguk.


Erina pun berjalan menuju kamarnya, entah kenapa perasaannya sejak tadi merasa tak enak. Dengan cepat ia melangkahkan kakinya, namun juga dengan hati-hati mengingat perutnya semakin membuncit.


Ceklak!


Pintu kamar pun terbuka, alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan yang membuatnya tak percaya.


Brak!


Dua barang belanjaannya terlepas dari tangannya. Bulir bening pun berhasil lolos, membasahi wajahnya.


" Aaaaa ... astaghfirullah!"


"Asqia! Mas Ferdi!" teriak Erina, membuat Ferdian terkejut mendengar suara istrinya.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya Ferdian melihat dirinya saat ini sedang bersama Asqia, adik iparnya yang berada di sampingnya.


"Qia ngapain kamu di sini? Bukannya yang bersama aku itu Erina?" tanya Ferdian masih dengan rasa tak percaya.


"Sayang aku bisa jelaskan ke kamu! Ini bukan seperti apa yang kamu lihat. Tadi aku mencium wangi parfum kamu, aku pikir kamu. Karena sejak tadi kepalaku terasa sakit dan hanya tiduran aja," Ferdian mencoba menjelaskan agar istrinya percaya kepadanya.


Namun nyatanya istrinya hanya diam, tak menanggapi ucapannya. Justru pandangan Erina menuju ke arah Qia, yang menunjukkan wajah tidak merasa bersalah.


Kinan, Joddy, Tantri dan bunda pun datang. Alangkah terkejutnya mereka semua menyaksikan apa yang mereka lihat, ada Qia dengan pakaian minim, berada di kamar Ferdian dan Erina.


"Ka Erin ada apa ini?" tanya Kinan, namun Erina tak menjawab pertanyaan adiknya.


Wajah Erina mulai merah padam, dengan tangan yang terkepal erat, menatap ke arah Asqia. Saat dirinya kini berhadapan dengan adiknya, pandangan sayang kepada kakak sudah tak ada lagi. Yang ada hanya rasa marah.


PLAK!


Erina menampar wajah Qia, sampai ia memegangi wajahnya yang terasa panas.


"Apa yang kamu inginkan dariku Qia? Jawab!" tanya Erina dengan berteriak dan sangat marah.


"Belum puaskah kamu membenciku, tanpa ku tau sebabnya? Sekarang kamu justru ingin merusak rumah tangga ku. Mau kamu apa si Qia!" teriak Erina, membuat semua orang terkejut dengan amarah wanita yang ia kenal tak pernah marah.


"Ya aku sangat membenci kamu Erina! Bahkan aku tak Sudi mengakui kamu sebagai kakak ku. Kamu selalu beruntung, dapat perhatian dari semua orang, bahkan di cintai dengan pria tampan dan kaya raya. Sedangkan aku apa? Laki-laki yang ku sukai, sudah kami goda, bahkan dia pergi meninggalkan aku!" Mendengar uneg-uneg yang Qia katakan, membuat Erina lemas.


Bunda Nabila Ferdian memegangi tubuh Erina yang akan terjatuh.


PLAK!


Kinan memberikan sebuah tamparan keras ke wajah Asqia.


"Kinan kamu berani dengan kakak kandung mu sendiri?" Qia menjawab dengan marah, tak terima adiknya membela Erina.


Kinan tersenyum sinis menatap Asqia.


"Gue udah bilang ke elo ya Kak. Gue akan melindungi dan menjaga ka Erina, sampai elo berani nyakitin dia!" Bentak Kinan, dengan emosi.


"Dengar baik-baik ! Niko, ninggalin elo, karena dia yang sudah melecehkan kak Erina. Bukan di rayu dengan ka Erin. Satu lagi, jika semua keberuntungan berada padanya. Semua itu karena dia kakak yang baik, dan tulus, gak ngiri dengan apa yang orang lain punya!" Kinan berkata dengan sangat marah.


Mendengar Kinan mengatakan itu Ferdian tercengang dan terlihat sangat emosi. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena yang terpenting saat ini kondisi istrinya.


Jika Joddy tak memegangi Kinan, ia takut jika kekasihnya semakin tak mengontrol emosi nya.


"Jujur gue malu kak, punya kakak kaya elo. Mungkin bukan hanya gue, ayah pun juga sama. Bahkan ayah akan bisa lebih marah lagi sama elo." Kinan sudah tak kuat lagi, dengan sikap Kakaknya.

__ADS_1


Asqia diam mematung mendengar apa yang Kinan katakan. Saat itu juga datanglah Jordan dan Riko, lalu membawa Qia keluar dari ruangan itu.


Bersambung....


__ADS_2