Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Erina membuka matanya


__ADS_3

Bunda Nabila selalu menemani putra, dan besannya agar tenang. Tak henti-hentinya Ferdian terus berdoa untuk istrinya yang sedang berjuang di dalam sana.


Setelah Ferdian menunggu kurang lebih satu jam. Akhirnya, Ferdi di perbolehkan menjenguk bayi yang sudah terlahir kedunia.


Mata Ferdian mengembun, saat mengadzani bayi mungil yang berjenis kelamin perempuan. Bibir nya bergetar, saat membacakan adzan di telinga putri kecilnya.


Setelah itu, Ferdian terus memandangi wajah mungil bayi yang kini berada dalam pelukannya.


"Syukurlah kamu selamat dan sehat Nak. Yayah berharap bubu bisa berkumpul dengan kita secepatnya di rumah bersama kak Zio." Ferdian pun mencium bayi yang masih merah.


Setelah selesai melakukan operasi, Ferdian meminta agar Erina di tempatkan di ruang VIP.


Begitu juga Joddy yang meminta agar Kinan di pindahkan di ruangan yang sama, namun berbeda kamar.


Ferdian terus menemani istrinya sampai membuka matanya, dirinya berharap agar istrinya sehat dan bisa berkumpul dengan anak-anak dan dirinya di rumah mereka.


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi. Ferdian membuka matanya, saat mendengar suara adzan.


"Ya ampun, aku ketiduran." Saat ia menoleh, Ferdi kembali murung, karena Erina belum membuka matanya.


"Aku harap kamu membuka mata kamu sayang, aku rindu akan senyuman manis kamu, tatapan mata indah kamu."


Karena posisinya Ferdian tidak menggeser duduknya, sejak malam, yang setia menemaninya istrinya di sebelahnya.


Ferdian pun tersenyum. "Aku tinggal shalat sebentar ya sayang. Shalat nya juga di sini kok, jangan takut, aku gak akan tinggalin kamu sendirian,"


Ferdian selalu mengajak bicara kepada istrinya, meskipun mata Erina masih belum terbuka.


Kini Ferdian sedang melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Setelah selesai, tak lupa ia berdoa. Terutama untuk kesembuhan istrinya, dan kebahagiaan rumah tangga nya.


Sampai sang Fajar pun menerangi seluruh alam. Namun, itu tidak dapat memberikan cahaya pada hati Ferdian. Karena Erina sampai saat ini belum juga membuka matanya.


"Kamu cepat sadar ya sayang. Kasian Zio, dia memanggil kamu terus. Aku pun juga sangat merindukan kamu. Kamu buka mata kamu ya sayang," ucap Ferdian berbisik di telinga istrinya.


Terdengar suara seseorang mengetuk pintu, saat di lihat ternyata Bunda Nabila yang datang dengan senyuman hangat.


Ferdian mencium tangan bunda.


"Bagaimana Nak, Erina sudah membuka matanya?" tanya Bu Nabila, Ferdi menggelengkan kepalanya.


"Belum ada tanda-tanda Erina membuka matanya Bun,"


"Kamu yang sabar ya, terus berdoa agar istri kamu segera sadar." Bunda menepuk pundak putranya.


"Amiinn ..."


"Fer, bunda bawa makanan. Kamu pasti belum sarapan, makan dulu yuk!"

__ADS_1


Ferdian menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berselera untuk makan apapun Bunda."


"Jangan seperti itu, kamu juga butuh nutrisi untuk tubuh kamu. Bunda ingin menantu dan anak bunda sehat. Lagian, bunda sudah masak ini semua dari subuh tadi. Masa kamu gak ingin mencicipi makanan ini," Bu Nabila nampak murung.


Ferdian tak tega melihat wajah wanita yang sudah melahirkan dirinya bersedih dan kecewa.


"Yasudah, aku makan ya Bun." Bu nabil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Tak lupa bunda Nabila juga membawa makanannya untuk Joddy, yang berada di sebelah kamar Erina.


"Assalamu'alaikum anak bunda,"


"Waalaikumsallam Bun." Joddy menghampiri Bu Nabila, lalu memeluknya.


"Bunda, pagi-pagi sudah kesini?" tanya Joddy.


"Iya bunda kesini ingin menjenguk anak-anak bunda. Kamu sudah makan? Itu istri kamu sudah sarapan?"


"Aku baru minum kopi dan makan roti aja Bun. Kalau Kinan belum, dari tadi aku bujukin susah banget untuk sarapan," adu Joddy.


Bu Nabila tersenyum, mendengar Joddy yang mengadu tentang Kinan.


"Aku sudah minum susu aja Bunda, aku mual. Makanan di sini gak enak!" jawab Kinan dengan ketus.


"Namanya juga makanan untuk pasien sayang," timpal Joddy.


"Bunda bawa makanan apa?" tanya Kinan.


"Bunda bawa Capcay bakso, daging teriyaki, dan bakwan jagung kesukaannya Joddy."


"Waaah ... terimakasih bunda." Joddy menunjukkan wajah berbinar, saat melihat bakwan jagung.


Lalu tiba-tiba Joddy kembali murung, bakwan yang sudah ia pegang, di letakkan kembali.


"Kenapa tidak jadi di makan Nak?"


"Bun, apa Ferdian sudah makan? Karena sejak tadi, aku menawarkan untuk sarapan, tapi dia menolak,"


Bunda Nabila tersenyum mendengar Joddy begitu peduli kepada Ferdian.


"Jangan khawatir. Ferdian sudah sarapan tadi bunda temani. Sekarang kamu makan ya! Bunda tidak ingin anak-anak bunda sakit,"


"Iya Bunda." Joddy pun memegang bakwan jagung kesukaannya, lalu ia makan.


"Kinan kamu makan ya! Agar calon cucu bunda juga sehat,"


"Iya bunda,"

__ADS_1


Bu Nabila menyendok nasi dan lauknya untuk Kinan. Joddy tersenyum saat melihat istrinya di suapi makan oleh bunda.


Terlihat Bunda begitu perhatian kepada Kinan, dan itu membuat Joddy merasa bahagia melihatnya.


Next.


Siang hari Ferdian ke musholah yang terletak di rumah sakit, bersama Joddy. Sedangkan bunda Nabila menemani Erina yang terbaring lemah di ruangan.


Ketika bunda sedang membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Tiba-tiba jari tangan Erina bergerak, dan Bu Nabila melihatnya.


"Syukur Alhamdulillah, menantu ku menggerakkan jarinya." Bu Nabila meletakkan Al Qur'an ke dalam tasnya.


Erina membuka matanya, dan melihat sekitar ruangan.


"Bun_ _ bunda," ucap Erina terbata-bata, saat melihat ibu mertua di dekatnya.


"Iya sayang, ini bunda Nak. Ada yang kamu inginkan? Apa kamu mau minum Nak?" tanya bunda beruntun, dan Erina mengangguk.


Bu Nabila membantu menantunya untuk minum. Setelah minum, bunda meletakkan minumnya kembali di atas meja.


Bu Nabila melihat menantunya menyentuh perutnya, dan kembali murung, bahkan bulir bening pun berhasil lolos.


"Sayang, kamu kenapa menangis Nak?" bunda terlihat khawatir, takut menantunya sedang merasakan sakit.


"Apa ada yang kamu rasakan Nak? Ada yang sakit kah? Kalau iya biar bunda panggil kan dokter ya?"


Erina tidak menjawab, ia hanya menangis mengingat ada yang memberikan kabar, kalau suaminya mengalami kecelakaan.


Bu Nabila menekan tombol di sebelah bangsal Erina, tidak lamanya dokter dan perawat datang ke kamarnya.


Erina di periksa oleh seorang dokter perempuan.


"Tidak ada yang perlu di khawatirkan ya Bu. Mbak Erina baik-baik saja, kondisinya pun sudah lebih baik dari sebelumnya,"


"Lalu kenapa menantu saya menangis, pasti ada yang di rasakan bekas luka operasi nya," timpal Bu Nabila.


"Iya benar. Karena mba Erina baru sadar, mungkin ada yang di rasakan nyeri di bagian lukanya. Nanti akan kami berikan, obat pereda nyeri, ibu jangan khawatir. Karena ini proses pemulihan untuk pasien." Jelas dokter bernama Sarah.


"Begitu ya Dok. Maaf saya hanya takut menantu saya kenapa-kenapa,"


"Tidak apa-apa Bu, itu hal yang wajar di rasakan orang tua. Melihat anaknya dalam kondisi seperti ini,"


"Syukurlah kalau begitu. Sebelumnya saya minta maaf ya Dok, dan terimakasih sudah datang dan segera memeriksa Putri saya."


"Sama-sama Bu," jawab dokter Sarah.


Dokter pun menjelaskan Erina tentang putri nya yang sudah lahir. Erina pun tersenyum dan mengangguk. Namun untuk saat ini pikirannya, hanya pada suaminya.

__ADS_1


__ADS_2