
Kini Ferdian masih menatap Erina yang belum sadarkan diri. Tiba-tiba handphone miliknya berbunyi, saat di lihat layar depan terpampang nama bunda.
"Ya hallo, Assalamu'alaikum," ucap Ferdi.
"Maaf bunda, aku tidak bisa datang. Ada masalah yang tidak bisa di tinggal. Nanti setelah urusan selesai aku akan ceritakan!" jawabnya.
"Iya bunda sayang, maaf! Waalaikumsallam," Ferdi pun mematikan panggilan teleponnya.
Ferdi masih mengamati wajah wanita yang masih terpejam matanya. Ada senyuman saat menatap Erina.
"Tidak berubah, masih sama dan terlihat cantik," pujinya saat menatap wajah Erina, namun senyumannya memudar saat mengingat kabar, kalau gadis ini sudah menjadi milik orang lain.
"Kenapa kamu di sini Rin? Kamu sampai mengendarai motor dengan membawa barang belanjaan banyak seperti itu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu?" ucap Abhi bertanya-tanya seorang diri.
Kini Ferdi pergi menuju toilet, meninggalkan Erina yang terbaring lemah.
Tiba-tiba Erina menggerakkan tangan, dan matanya pun mulai terbuka. Ia melihat sekitar ruangan yang dimana serba putih. Dirinya juga merasa kepalanya terasa sakit, dan juga sikut nya pun terasa perih.
"Di mana aku?" Erina memegangi kepalanya terasa sakit. "Ssssstt aaaww ... sebenarnya aku kenapa? Kepala dan tangan ku sakit semua."
Saat Erina melihat jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul tiga sore, dirinya terkejut. Yang ada di pikirannya memikirkan Zio putranya.
"Zio, aku harus pulang. Aku gak bisa diam di sini! Pasti anakku mencari aku, dan Kinan pasti bingung dan semua mengkhawatirkan aku. Aku harus pulang sekarang!" tekat Erina berusaha bangun dari tempat tidur rumah sakit.
Saat itu juga Ferdian keluar dari dalam tandas, dirinya terkejut melihat kalau Erina sudah sadar dan berusaha ingi turun dari tempat tidur.
"Erina," panggil Ferdi.
Erina pun menoleh ke arah suara yang memanggil. Sambil mengingat seseorang yang dia kenal.
Ferdian berjalan menghampiri Erina membantunya yang sedikit lagi hampir terjatuh.
Erina menatap wajah pria di hadapannya ini, sepertinya pernah mengenalnya.
"Fer _ _ Ferdian!" sambil mengingat wajahnya.
Ferdian pun tersenyum, dan menganggukkan kepalanya. "Syukurlah kamu masih mengenal aku. Berarti kamu tidak amnesia!"
"Amnesia?" tanya Erina, Ferdi pun mengangguk.
Ferdi pun duduk di kursi, samping Erina, sambil menatap wajah wanita itu yang terlihat pucat.
"Ya, tadi kamu tertabrak oleh mobil ku, karena supirku tak sengaja karena menghindari kucing, justru malah mengenai kamu." Jelas Ferdi, Erina hanya mengangguk kan kepalanya, tanpa rasa marah sedikitpun.
__ADS_1
"Aku senang Rin, akhirnya kita bisa bertemu kembali. Meskipun pertemuan kita membuat kamu mengalami musibah seperti ini," Erina menoleh ke arah Ferdian sekilas, lalu melamun kembali.
Erina kembali mengingat Kinan dan Zio di rumahnya.
"Zio," gumamnya, Ferdi mendengar Erina mengucapkan nama seseorang. "Ferdian aku ingin pulang, aku khawatir orang rumah mencari aku,"
"Tetapi Erina, kamu belum pulih, kamu butuh istirahat. Tadi kamu menyebutkan nama Zio. Siapa dia?" tanya Ferdi.
"Zio putra ku, berusia satu tahun. Ferdi aku ingin pulang, aku tau pasti dia saat ini sedang mencari aku." Terlihat wajah cemas Erina.
"Ferdi, aku mohon izinkan aku pulang sekarang! Aku bisa istirahat di rumah saja, agar anakku tidak menangis mencari aku!" dengan wajah memohon dan memegang tangan Ferdian.
"Bukankah kamu sudah menikah dengan Damar, lalu di mana dia? Sekarang pasti dia bersama putramu!" Erina menggelengkan kepalanya, Ferdi tercengang melihat jawabannya.
"Aku dan Damar sudah tidak bersama lagi. Putra ku, sekarang di rumah bersama Kinan adikku. Mangkanya saat ini aku mengkhawatirkan mereka, Ferdi!" mendengar penjelasan Erina, Ferdian pun terkejut mendengarnya.
Ada rasa tak tega di benak Ferdi, apalagi saat melihat wajah Erina terlihat murung.
"Yasudah aku akan bilang sama dokter, apa di perbohhlehkan kamu untuk pulang sekarang. Dengan kondisi kamu yang memiliki balita di rumah yang sedang menunggumu!" ucap Ferdi menyentuh tangan Erina agar tenang.
Erina pun mengangguk. "Terimakasih," ucapnya dengan senyum tipisnya.
Ferdian pun mengangguk, dan pergi meninggalkan Erina yang kini sedang terbaring dengan mata terpejam.
Kini Erina sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Dengan di antar oleh Ferdian, ke rumahnya.
"Ya aku sendiri juga gak nyangka, dia sudah melakukan hal yang membuatku kecewa," Erina dengan tersenyum kecutnya. "Sekarang aku ingin fokus mengurus putraku, aku tidak ingin membuang waktuku hanya untuk mengingat dia."
"Meskipun itu berat?" tanya Ferdi membuat Erina menatapnya, dan mengangguk.
"Ya meskipun itu berat dan butuh waktu untuk melupakan itu semua." Ferdian mengangguk.
"Kamu benar Erin semuanya itu hanya butuh waktu, kamu yang sabar!" Ferdi menyemangati, Erina mengangguk.
"Ferdi nanti lurus ada pertigaan kamu belok kiri ya!" Erina memberi petunjuk arah rumahnya.
"Berarti kita masih lurus?" tanya Ferdi, Erina mengangguk. "Oke!"
Ferdian tidak membahas masalah Damar, ia melaju kendaraan mengikuti apa yang Erina beritahu.
Sampai kini Mereka sudah sampai di halaman rumah Erina. Di sana ada Kinan pak Fajar dan bu Yeni, melihat ada mobil berhenti di rumah mereka. Saat diperhatikan ada seorang pria keluar dari mobil, lalu keluar membuka pintu sebelahnya.
Saat di lihat pria itu membantu seorang wanita yang mereka kenal, Kinan pun segera menghampirinya.
__ADS_1
"Kakak," panggil Kinan dengan matanya sudah basah
Kinan memeluknya, untung saja ada Ferdi di belakang Erina, ia menahannya agar tidak terjatuh.
"Kinan hati-hati kakak kamu habis kecelakaan. Biarkan dia duduk dulu!" kata Ferdi, membuat Kinan menoleh ke arah pria yang berada di sebelah Kakaknya.
"Kak Ferdi," panggil Kinan, Ferdi pun mengangguk dan tersenyum.
Kinan membantu Kakaknya untuk berjalan, bu Yeni dan pak Fajar menghampiri mereka. Lalu membantunya untuk masuk kedalam rumah.
Kini Ferdian sedang berkumpul dengan keluarga Erina, yang dimana Joddy juga datang dan menceritakan apa yang terjadi.
"Saya mohon maaf mbak Erina, karena sudah membuat kamu terluka." Kata Joddy dengan wajah penyesalan.
"Maaf-maaf, lihat kakak saya sampai seperti ini!" jawab Kinan dengan rasa kesalnya.
"Iya saya minta maaf, saya salah. Motor Mba Erin juga sudah saya bawa ke bengkel untuk di perbaiki. Bukan hanya itu, barang-barang belanjaannya juga sudah saya ganti." Ungkap Joddy dengan wajah bersalah.
"Ya ampun Mas Joddy tidak perlu sampai membelikan barang itu segala. Dengan memperbaiki motornya pun saya sudah sangat berterimakasih," ucap Erina merasa tak enak hati.
"Tidak apa-apa Mba, saya justru merasa tak enak hati. Sekali lagi saya mohon maaf!" Wajah Joddy masih merasa menyesal.
"Ya sudah saya maafkan, dan terimakasih karena sudah memperbaiki motor saya, sampai mengganti barang belanjaan saya!"
"Sama-sama Mba Erina," timpal Joddy dengan merasa lega, karena sudah di maafkan.
Namun saat menatap Kinan, justru dia sedang melototi Joddy, dan itu membuatnya kembali menundukkan kepalanya. Erina tau, kalau pria itu merasa tak enak hati.
"Kinan!" tegur Erina kepada adiknya, dan menggelengkan kepalanya, untuk tidak menatapnya dengan seperti itu.
"Iya Kak!" jawab Kinan dengan bibir cemberut, namun tatapan masih menatap Joddy dengan tak suka.
Sedangkan Ferdian melihat Joddy bertingkah kaku, tidak seperti biasanya pecicilan dan sok cool. Kini mendadak jadi pendiam. Ferdi berusaha menahan tawanya.
"Bubu ..." terdengar suara Zio menangis memanggil ibu nya.
Kinan pun berlari, untuk menggendong Zio dan membawanya kepada ibunya.
"Sayang, anak bubu jangan nangis Nak," Erina dengan mengangkat kedua tangan seakan ingin menggendong putranya.
Erina mencium, kening, mata, hidung, dan bibir, putra kecilnya. Anak itu menatap ibunya sampai termenung, suara tangisnya pun berhenti.
Ferdian melihat pemandangan itu, terlihat senyum simpulnya. Entah kenapa dia menyukai apa yang saat ini dia saksikan.
__ADS_1
Bersambung...
...Jangan lupa untuk tinggalkan jejak likeπ kalian, agar author semangat buat update ceritanya. Terimakasih sudah setia menanti cerita ini. πππ...