Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Pergi untuk selamanya


__ADS_3

Jangan lupa siapkan tisu ya gaes!!!


Empat jam sudah perjalanan Erina menuju rumah sakit xxxx, tempat ayahnya di rawat. Di sana ada Bu Yeni, Noval dan Asqia.


Erina dan Kinan menghampiri keluarga, dengan Zio masih di gendong oleh Ferdi. Terlihat wajah anak kecil itu terlihat bahagia, bercerita tentang dunianya. Sedangkan Ferdian hanya menyimak saja apa yang di katakan bocah laki-laki yang saat ini sedang bersamanya.


"Mah, ayah di mana?" tanya Erina dengan matanya yang merah, sepanjang jalan air matanya tak pernah berhenti. Saat mendengar kabar ayahnya yang mengalami musibah.


"Ayahmu di dalam Nak, sedang di tangani dokter." jelas Bu Yeni.


Kini semua keluarga sedang menunggu di kursi depan ruangan. Setelah dokter sudah memeriksa kondisi pak Bagas, dan sudah di perbolehkan menjenguk.


Pak Bagas melihat Ferdian amatlah dekat dengan cucunya, terlihat sekali Zio tidak ingin jauh dari pria itu. Ada senyuman kecil terlihat dibibirnya.


"Erina, ayah ingin bicara empat mata dengan Ferdian. Apa boleh?" tanya pak Bagas dengan berbisik di telinga putrinya.


Erina pun mengangguk, lalu memberi tau keluarga dan meninggalkan Ferdian bersama pak Bagas.


Sedangkan di luar Erina yang sedang menggendong Zio, dan keluarga menunggu di luar. Mereka tak tahan ayahnya ingin membicarakan apa kepada Ferdian.


Kini pintu kamar terbuka, dan terlihat Ferdian yang keluar dengan ekspresi yang Erina sendiri tak mengerti.


"Pak Bagas ingin bicara dengan kalian semuanya." Dengan segera mereka pun masuk ke dalam.


Namun saat Noval ingin masuk, Ferdian menahannya. " Kamu tetap di sini. Saya butuh bantuan kamu Val,"


"Bantuan apa kak?" tanya Noval, dengan mengerutkan keningnya.


Ferdian mengatakan sesuatu kepada Noval, membuat Adik dari Erina itu tercengang mendengarnya.


Terlihat wajah Noval merah padam, dan matanya yang memerah. Ferdian berusaha memenangkan pria yang usianya 20 tahun.


Sedangkan di dalam ruangan, pak Bagas di temani dengan istri cucu, dan ke tiga putrinya.


Pak Bagas tersenyum saat melihat cucunya yang terlihat semakin pintar.


" Zio sayang. Kamu sayang sama bubu?" tanya pak Bagas dengan suaranya yang lemah. "Jangan nakal ya nak, jagain ibu. Zio cucu kakek yang pintar," anak itu menanggapi hanya dengan mengangguk saja.

__ADS_1


"Asqia, Kinan, Erina. Kalian adalah keluarga jangan pernah bertengkar, dan saling menjaga ya. Temani ibumu, jangan membuatnya sedih ataupun kecewa," kata pak Bagas, membuat semua keluarga nampak bingung dengan perkataan beliau.


"Ayah bicara apa sih? Kan ada ayah yang menemani ibu!" ucap Bu Yeni merasa ada yang aneh dengan ucapan suaminya.


Pak Bagas tersenyum, lalu beliau menatap Erina. "Nak, sepertinya putramu terlihat sangat dekat dengan Ferdian,"


"Iya Yah, Zio begitu dekat dengan Ferdian. Mangkanya ayah sehat-sehat! agar bisa melihat kedekatan mereka berdua," cerita Erina dengan terpaksa tersenyum.


Pak Bagas menarik nafasnya yang terasa semakin berat, dan itu membuat mereka merasa khawatir dengan kondisi beliau.


Ketika mereka sedang menemani pak Bagas di dalam kamar. Tiba-tiba datanglah Ferdian Noval Joddy dan satu orang yang menggunakan setelan jas hitam, kopiah hitam. Yang Erina kenal sebagai seseorang yang bekerja di bagian KUA.


"Ada apa ini sebenarnya?" tanya Erina, sedang Ferdian dan Noval saling menatap.


Lalu Noval menghampiri ayahnya.


"Ayah, aku sudah bawakan apa yang ayah inginkan." dengan bulir bening yang sudah menetes membasahi wajahnya.


"Bu, Kinan, Qia, Erina dan kamu Noval. Mungkin Haaaah ..." pak Bagas menarik nafasnya yang terasa berat. "A--ayah sudah tidak bisa bertahan lama lagi. Maafkan ayah, jika selama ini sudah membuat salah dengan kalian."


Bu Yeni, Kinan, Qia dan Erina menangis mendengarnya. Begitupun juga Noval, yang tak ingin melihat ayahnya pergi dengan cepat seperti ini.


"Iya Yah, Insyaallah Noval akan menjaga dan melindungi keluarga kita. Ayah jangan khawatir!" ucapnya penuh dengan keyakinan, membuat pak Bagas tersenyum bangga.


"Erin, Ferdian. Ayah ingin melihat kalian menikah di sini." Pak Bagas menarik nafasnya kembali, membuat Erina tak kuasa menahan air matanya.


"Kamu mau kan Nak, menikah dengan Ferdian hari ini. Ayah mohon, ini permintaan ayah yang terakhir, sebelum ayah menutup mata untuk selamanya."


Erina semakin tak berdaya mendengar permintaan ayah, yang mengatakan itu untuk yang terakhir kalinya.


Bukan hanya Erina, keluarga pun juga ikut menangis mendengarnya. Sedangkan Ferdian hanya bisa diam tak dapat berkata apa-apa, selain pasrah menunggu jawaban Erina.


Karena hanya inilah yang Ferdian dapat lakukan, karena saat bicara dengan pak Bagas tadi. Beliau memintanya agar mau untuk menikahi Erina saat ini juga di hadapannya untuk terakhir kalinya.


Dirinya sendiri sebenarnya bingung harus bagaimana, namun dirinya mengubungi keluarga nya, dan menceritakan semuanya. Karena orang tua Ferdian tau, Kalau putranya mencintai Erina, dan mereka pun setuju.


Erina pun akhirnya memberikan jawabannya, yang bersedia menikah dengan Ferdian hari ini juga. Meskipun waktunya kurang tepat, tapi dirinya tidak ingin sampai permintaan ayahnya di tolaknya.

__ADS_1


Pak Zaki yang memang bertugas menjadi penghulu, yang menikahkan sepasang manusia. Kini beliau membantu menikahi putri dari temannya itu.


Tidak lama kemudian.


Ada beberapa perawat dan dokter yang menyaksikan pernikahan di kamar pak Bagas.


“Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.” ucap Ferdian dengan khidmat, membuat pak Bagas tersenyum mendengarnya.


Setelah mengatakan ijab Qabul. Ferdian dan Erina mencium tangan pak Bagas dan Bu Yeni.


Terlihat mereka menitikkan air mata, saat melihat Erina kini sudah menikah, meskipun dengan keadaan seperti ini.


Joddy meminta tolong kepada seseorang perawat untuk mendokumentasikan pernikahan itu.


Benar saja, setelah Ferdian dan Erina mencium tangan dan memeluk pak Bagas.Kini beliau sudah menutup matanya dengan tenang tanpa merasakan sakit seperti tadi saat menarik nafasnya.


Erina dan keluarga pun menangis tersedu-sedu mengetahui pria yang selama ini melindunginya sudah pergi untuk selama-lamanya.


"Ayah!" Erina menangis lututnya terasa lemas, tak dapat berdiri tegak.


Noval tak dapat berbuat apa-apa, dirinya berusaha ikhlas untuk kepergian ayahnya untuk selamanya.


Sedangkan Asqia Kinan dan Bu Yeni menangis tak merelakan kepergian pak Bagas.


🍂


🍂


🍂


🍂


Esok harinya di kediaman rumah Bu Yeni, banyak orang datang untuk melayat. Istri dan anak-anaknya, hanya dapat melihat jasad pak Bagas yang terbaring kaku, dengan di tutup kain seluruh tubuhnya.


Erina dan Noval membacakan ayat suci Alquran, di samping jasad ayah mereka. Meskipun air mata terus keluar dari pelupuk mata, mengiringi setiap ayat yang mereka lantunkan.


Sedangkan Ferdian menggendong Zio, yang terlihat kebingungan dengan keadaan yang saat ini ia lihat.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2