Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Zio bersedih


__ADS_3

Sudah lama Erina merindukan suaminya, apalagi saat ingin bermanja-manja dengan laki-laki yang ia kenal sosok suami dan ayah yang baik.


Lima hari sudah berlalu, hari-hari terus Erina lalui di rumah sakit. Ia berusaha untuk menggerakkan badannya, agar bisa cepat pulang. Begitulah pesan yang di berikan oleh dokter kepadanya.


Siang hari Erina sudah di perbolehkan pulang, karena kondisinya sudah membaik. Di rumah Kinan, Noval, Joddy, Bunda dan keluarga lainnya menyambut kedatangan Baby Yuna Kirania.


Erina tersenyum saat melihat seluruh keluarga menyambutnya. Terutama bunda Nabila, memeluk menantunya dengan pelukan hangat.


"Selamat datang kembali menantu bunda, bunda senang melihat kamu sekarang sudah sehat."


"Iya bunda, aku juga senang melihat bunda di sini. Aku sudah rindu dengan suasana rumah."


Bunda dan pak Hamzah tersenyum melihat menantunya.


"Sini biar bunda yang gendong bayi kamu." Bu Nabila mengambil baby Yuna dari tangan Erina.


Sedangkan Ferdian tak sedikitpun menjauh dari Erina membantu nya . Kini semua keluarga sudah masuk kedalam rumah.


Bu Nabila, pak Hamzah, dan adik Ferdian Tantri semuanya asyik melihat baby Yuna. Zio yang memperlihatkan semuanya fokus untuk melihat adiknya itu, ada rasa cemburu yang di rasakan bocah laki-laki itu.


Zio nampak murung, dan wajah menunduk. Seketika itu bocah itu berlari meninggalkan keluarga, dan entah kemana.


Erina dapat merasakan apa yang putranya rasakan. Kepergian bocah berusia tiga tahun itu, kenapa pergi meninggalkan para keluarganya berkumpul.


"Mas aku tinggal sebentar ya?" bisik ke Ferdian.


"Memang kamu mau kemana? Hemm." Ferdian sambil menyentuh tangan Erina.


Erina berbisik di telinga suaminya, dan Ferdian pun mendengarkan, lalu melihat sekeliling. Ferdi pun mengangguk, seraya menggenggam tangan istrinya.


Sedangkan di kamar, bocah laki-laki berusia tiga tahun. Sedang duduk di kamar nya, sambil memegangi boneka Tirex.


"Tiyek, kamu mau endak, jadi teman Zio." Sambil menghapus air matanya.


"Zio sendiyi, semuanya melihat Dede bayi. Aku endak sedih." Anak itu sambil memeluk boneka kesayangannya.


Ferdian dan Erina ternyata diam-diam mengumpat di balik pintu dan mendengar kan Zio bicara seperti itu.

__ADS_1


Sedangkan Erina melihat putranya menyendiri, sambil memeluk boneka kesayangannya, terlihat kalau ia sedang bersedih. Karena pundak bocah laki-laki itu bergetar.


Erina ikut merasakan kesedihan pada putranya itu, karena rasa cemburu Zio, yang takut kehilangan kasih sayang semua orang.


Ceklak.


Pintu kamar terbuka, Zio yang mengetahui kedatangan seseorang, segera menghapus air matanya.


Ferdian dan Erina menghampiri Zio, lalu menyentuh kepala anaknya.


"Zio. Kamu kok di sini? Yayah dan Bubu mencari kamu loh," cakap Ferdian.


Zio tak menjawab pertanyaan Ferdian, namun bocah itu melihat wajah ibunya, yang sedang menatapnya.


Mata Erina tak kuasa melihat putra kecilnya, dengan mata yang mengembun. Tangan Zio terulur untuk menghapus air mata ibunya.


"Kamu kemana sayang, Bubu dan Yayah mencari kamu. Apa kamu tidak kangen dengan kami?" tanya Erina dengan tersenyum.


Padahal hatinya saat ini merasakan kesedihan putranya, yang merasa tersisihkan. Padahal tidak seperti itu, mereka semua justru sangat menyayangi Zio.


Zio sudah mulai mengerti rasa cemburu, takut cinta dan kasih sayangnya hilang untuknya.


"Zio cemburu dengan Dede Yuna?" tanya Ferdian dengan nada lembutnya. Anak itu mengangguk, dan membuatnya tersenyum.


"Kenapa harus cemburu sih sayang? Dengarkan Yayah dan bubu!" ucap Ferdian mengangkat Zio di atas pangkuannya.


Kini Zio berada di tengah-tengah ayah dan ibunya. Mereka berdua mengecup pipi bocah yang sudah membuatnya rindu, hingga membuat anak itu tersenyum.


"Sekarang bilang sama Yayah dan Bubu. Kenapa kamu cemburu dengan Dede Yuna, kan adiknya masih bayi?"


Anak itu kembali termenung, lalu menatap kedua orang tuanya.


"Zio endak mau, Yayah dan bubu sayang Dede bayi aja. Sama aku endak sayang," jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


Erina tersenyum menatap wajah putranya.


"Sekarang bubu tanya kamu ya Nak? Kamu sayang gak dengan bubu, dan Yayah?"

__ADS_1


"Aku sayang benget sama bubu dan Yayah." Jawab itu dengan kedua tangannya memeluk kedua orang tuanya.


"Begitupun juga dengan kami yang juga sayang dengan kamu Nak. Apalagi bubu, yang melahirkan kamu sayang, mana mungkin kamu bubu singkirkan cuma karena adanya Dede bayi. Justru bubu lebih sayang kamu, karena kamu yang datang pertama menemani hari-hari bubu selama ini." Erina menyentuh tangan putranya, lalu di ciumnya.


"Begitupun juga dengan Yayah. Kamu seperti anak kandung Yayah, mana mungkin bisa Yayah tidak sayang kamu Nak." Ferdian memeluk putra kecilnya itu.


"Dengarkan Yayah, kamu itu jagoan Yayah dan bubu. Apalagi karena Zio, Yayah dan bubu bisa bersama. Jadi jangan pernah bilang, ada Dede Yuna, kamu tidak kami sayang. Justru kami semua sangat menyayangi kamu,"


Zio menatap lekat-lekat wajah ayah dan ibunya. Meskipun ia tak mengerti apa yang di katakan kedua orangtuanya. Tapi anak itu tau, kalau Yayah dan Bubu nya sangat menyayangi dirinya.


"Sekarang Zio masih marah gak dengan bubu dan Yayah?" tanya Erina, dan anak itu menggelengkan kepalanya.


"Zio endak malah Bu,"


"Kalau enggak marah, kita kumpul lagi mau tidak?" kali ini Ferdian yang bertanya.


Zio mengangguk, Ferdian dan Erina tersenyum. "Tapi Zio menta dendong Yayah!"


Erina dan Ferdian pura-pura terkejut dan tersenyum.


"Gendong?" tanya Ferdian dengan meledek Zio. Anak itu tersenyum melihat raut wajah ayahnya yang terlihat lucu.


"Oke, Yayah akan gendong Zio. Tapi setelah itu, kamu gantian gendong balik Yayah ya?"


"Hah! Zio gendong Yayah? Aku gak kuat Yah," anak itu menjawab dengan tertawa.


Ferdian pun cemberut, hingga membuat anak itu terkekeh melihatnya.


"Oke deh? Tapi Zio harus janji ,gak boleh sedih lagi ya?" tanya Ferdian, dengan menunjukan jari kelingkingnya.


Dengan tersenyum manis, bocah itu ikut menautkan jari kelingkingnya, ke jari ayahnya, dengan senyuman.


Erina yang melihat dua laki-laki di hadapannya hanya bisa tersenyum dengan pandangan yang baru saja ia lihat.


Bersambung ....


**Assalamu'alaikum semuanya. Maaf ya kemarin sempat libur, Othor sibuk banget si dunia nyata. Dan sempat drop juga berapa hari, Mangkanya author meliburkan diri.

__ADS_1


Agar author semangat, jangan lupa untuk tinggalkan jejak dan komentar kalian yang posiy. Jika berkenan hadiahnya pun juga boleh. Hihihi .... agat bisa lebih semangat lagi untuk update. Terimakasih 🙏🙏🙏🙏**


__ADS_2