Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Kagum dengan istri


__ADS_3

Kini Erina dan Ferdian sedang berada di sebuah kedai, bertulisan. Bakso beranak pak Toni.


"Pak, satu porsi ya," pesan Ferdian, dan penjual itu mengangguk.


Ferdian membawa istrinya untuk mencari tempat duduk.


"Mas, kamu pesan satu porsi?" Ferdian mengangguk.


"Iya sayang, satu porsi juga untuk dua atau tiga orang. Aku gak yakin kalau pesan dua, kamu akan habis sendiri." Jelas Ferdian, dan Erina mengangguk.


Lalu ada pelayan lain, datang menanyakan minuman kepada mereka berdua. "Minuman mau pesan apa Mas, mbak?"


"Es jeruk peras dua ya Mas," jawab Ferdi, dan pelayan itu mengangguk lalu pergi.


Kini pesanan mereka pun datang Erina melihat satu porsi bakso beranak, dengan tempat yang cukup besar.


"Wow ..." Erina terkejut saat melihat pelayan tersebut membawa bakso berukuran besar.


Ferdian menikmati bakso yang mereka sudah pesan.Terkihat Erina menikmati bakso dengan wajah yang sudah kepedasan, begitu juga Ferdi.


Sampai bakso yang cukup besar itu kini sudah ludes tak tersisa, kini Erina dan Ferdian terlihat puas makan satu porsi berdua.


Setelah menikmati bakso, kini mereka berniat kembali pulang.


🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


Beberapa hari kemudian.


Ferdian sedang mengajak ngobrol Erina, di dalam kamar. Terlihat wajah serius Ferdi, saat menatap wajahnya istrinya.


"Sayang ada yang ingin aku bicarakan sama kamu? Tapi sebelumnya aku minta maaf sama kamu!" ucap Ferdian


"Kamu mau bicara apa sih Mas?"


"Sebenarnya aku ingin ngajak kamu pindah, lalu tinggal di rumah ku." Ada rasa tak enak Ferdian mengatakan itu.


"Kalau kita pindah, lalu Kinan bagaimana? Dia masa harus tinggal sendiri."


"Kinan ikut dengan kita, rumah ku cukup besar. Di sana juga ada beberapa ART jadi aku yakin kamu dan Zio tidak akan kesepian."


"Tapi Mas, rumah ini pasti akan kembali kosong. Ini peninggalan rumah ibu ku, setelah beberapa tahun kami tak menempatinya," jelas Erina.


"Begini aku akan jelasin ke kamu." Erina masih mendengarkan suaminya menjelaskan kepadanya.


"Karyawan di pabrik sebagian mereka merantau, bukan asli sini. Nah kebetulan rumah yang aku kontrakan itu, sudah hampir habis batas waktunya. Aku dan Joddy lagi mencari tempat tinggal anak buahku."


"Maksudnya, kamu ingin menjadikan rumah ku ini menjadi tempat tinggal mereka?" tanya Erina.


"Kalau kamu gak keberatan, apa boleh kalau aku menyewa rumah ini?" tanya Ferdian, Erina nampak berpikir.


"Aku punya rumah yang jarang aku tempati. Apalagi seminggu lebih aku tidak ke sana, hanya ada Bu Jum, dan pak Utar yang tugas mereka memang menjaga rumah di sana. Aku berniat ingin memboyong kalian ke sana!" Erina nampak berpikir kembali, dan menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Kemanapun kamu membawa ku dan Zio, aku akan ikut bersama kamu, Mas!" jawab Erina, membuat Ferdian tersenyum.


"Aku akan selalu membawa kamu dan Zio. Karena kalian begitu berarti buat ku." Merasa tersentuh, Erina pun bersandar di pelukan suaminya.


"Terimakasih Mas, selama aku bersama kamu. Aku merasa menjadi wanita yang istimewa, atas perhatian, dan perlakuan yang kamu berikan,"


"Karena memang kamu wanita yang istimewa untukku. Kalau tidak untuk apa aku mengejar kamu, sampai mendekati jagoan kamu." Jawab Ferdian membelai lembut rambut Erina.


Erina tersenyum, mendengarnya. Sedangkan Ferdian mengatakan itu bukan sekedar gombalan, atau rayuan belaka. Memang dirinya sangat-sangat mencintai wanita yang saat ini bersamanya, sebelum menjadi istrinya.


Saat sedang bermesraan, terdengar suara Zio yang menangis.


"Bubu ...." suara Zio, menangis.


"Uuusssttt ... uuuusssttt ... sayang ini Bubu Nak." Erina sambil membelai lembut rambut anaknya.


Ferdian berjalan menuruni tempat tidurnya, untuk membuat susu untuk Zio. Setelah sudah jadi, Ferdi segera memberikan langsung ke Istrinya.


Kini Zio berada di dekapan ibunya, terlihat cukup tenang. "Sekarang Zio bobo lagi ya sayang. Yayah sudah buat susu untuk kamu," sambil menunjukkan botol susu.


Zio mengangguk dengan matanya yang masih terasa ngantuk. "Iyo mau cucu bubu!"


"Iya sayang, nih susunya." Sambil memberikan botol susunya.


Kini Zio tertidur kembali di kasur, sambil memeluk guling Mickey mouse. Erina masih membelai lembut kepala anaknya, dengan terus membaca shalawat, agar bocah itu tertidur kembali.

__ADS_1


Ferdian memperhatikan istrinya, dengan senyuman. Entah kenapa dirinya benar-benar kagum, dengan istrinya.


Bersambung...


__ADS_2