Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Kamu harus kuat


__ADS_3

Erina terkejut, Damar semakin mempererat pelukannya, membuatnya kehabisan tenaga untuk mendorongnya. Dirinya hanya bisa pasrah, dan berharap ada seseorang yang menolongnya dari luar.


Tiba-tiba Damar nekat melakukan sesuatu kepada Erina.


Mmmmmpppphhhh ...


Erina menangis, saat Damar menc1um bibirnya. Dirinya tak dapat mendorong tubuh laki-laki di hadapannya ini, karena tenaganya cukup kuat.


Mmmmppphhh ...


Bahkan Damar melahap bibi*nya bahkan mengg1g1tnya dengan sangat buas. Erina memukuli dan terus mendorong tubuh Damar.


"Lepasin Damar!" Erina terus berontak, karena pria di hadapannya sudah melecehkan dirinya. "Aku sudah menjadi istri orang!"


Kini berhasil Erina mendorong Damar, meskipun hanya mundur dua langkah saja, setidaknya dirinya lepas dari pria di hadapannya itu.


"Aku di jebak olehnya, ternyata dia melakukan itu hanya ingin merebut aku dari kamu. Rin, aku sebenarnya tidak mencintai dia. Aku hanya cinta dengan kamu," racau Damar, seketika bulir bening pun berhasil lolos dari pelupuk matanya.


"Aku hampiri gila Rin, tidak ada kamu. Bahkan aku ingin sekali pergi meninggalkannya. Kalau saja bukan karena anak yang ada di dalam kandungannya, sudah ku ceraikan dia,"


"Jangan gila kamu Damar, aku sudah menjadi istri dari Ferdian. Aku sudah mencintainya, meskipun di awal hancurnya hubungan kita, aku masih merasa sakit, dan dia sudah mengobati semua lukaku." Jawab Erina dengan mendorong pria yang pernah menjadi suaminya itu.


"Aku minta kamu tinggalkan dia dan ikut dengan ku!" ajak Damar, dengan menggenggam tangannya.


"Enggak, aku gak mau! Lebih baik kamu pergi dari sini, jangan ganggu rumah tanggaku!" teriak Erina, dengan suara yang sudah hampir habis, karena terus berteriak.


"Jadi kamu tidak mau kembali denganku! Jika aku tidak bisa memiliki kamu, berarti Ferdi pun juga sama!" ucap Damar, dan mengancam dengan tatapan marah.


Erina tercengang mendengarnya, dan sangat ketakutan dengan ancaman Damar, karena dirinya tau sikap pria yang pernah menjadi suaminya itu seperti apa.


Damar sudah gelap mata, dia melihat pisau berada di atas piring, habis di gunakan untuk memotong buah.


Pisau itu di ambil oleh Damar, dengan lalu ia menatap Erina dengan tatapan tajam, dan itu membuatnya ketakutan.


Erina benar-benar sangat takut saat ini. Kaki nya sudah tak dapat lagi di gerakan untuk melarikan diri dari Damar.


"Tolong ..." Teriak Erina.


"Jangan berteriak sayang. Masih ada kesempatan untuk aku tidak melakukan kekerasan ke kamu. Jika kamu mau kembali dengan ku, dan mengakhiri hubungan kamu dengan Ferdian!" Damar dengan senyuman menyeringai.

__ADS_1


"Aku gak mau, bahkan dengan sikap kamu yang seperti ini. Membuat ku beruntung memilih mas Ferdian menjadi suamiku."Jawab Erina dengan sedikit keberanian, meskipun hatinya merasa takut.


Terdengar suara ketukan pintu sangat keras dari luar.


"Sayang ..." Teriak seseorang dari luar.


"Mas Ferdi! Tolong aku!" teriak Erina dengan ketakutannya


Dengan senyuman menyeringai, dan itu membuat Erina sangat ketakutan.


"Aku mohon Damar, jangan lakukan ini. Ingat ada Zio." Erina berusaha menyadarkan pria di hadapannya itu, to namun nyatanya dia sudah gelap mata.


"Mangkanya aku menginginkan kamu, agar kita bisa hidup bahagia dengan Zio. Tapi nyatanya kamu menolak, dan memilih dia untuk menjadi suami kamu." Ucapnya dengan senyuman menyeringai.


Erina menggelengkan kepalanya, Damar kembali tersenyum menyeringai.


Saat ini tangan Erina di pegangnya.


Srreeeet!


pisau itu berhasil mengenai pergelangan tangan Erina.


Teriak Erina mengerang kesakitan, saat pisau mengenai lengan tangannya.


Darah segar keluar dari kulit mulus Erina, dan mengenai gaun pengantin berwarna biru muda.


Dugh!


Terdengar suara pintu di dorong dari luar, namun belum terbuka.


"Jangan sakiti Erina!" teriak Ferdian dari luar.


"Sadar Damar, jangan lakukan ini!" Suara Erina sudah mulai lemas.


"Lebih baik aku di penjara Erina, dari pada aku tinggal bersama Melody ." gumamnya, dengan air matanya.


"Maafkan aku Erin?" Damar mencoba menyerang Erina kembali.


"Aaaa ..." tangan Erina berhasil menahan pisau yang mengarah kepadanya.

__ADS_1


Telapak tangannya saat ini sudah bersimbah darah, karena menahan pisau itu. Rasa sakit dan perih pun kini dirasakannya, namun pikiran Erina hanya ada Zio Putranya.


Brraaak ...


Pintu berhasil terbuka, dan terlihat Ferdian menghampiri Damar.


Ferdian menarik kerah bajunya, dengan terlihat sangat emosi Damar di berikan Bogeman.


"Brengsek! Bang**t loe mau apain istri gue hah!"


BUGH ...


Ferdian terus memberikan tinjauan di wajah Damar, sampai sudut bibirnya mengeluarkan darah segar, dan tersungkur ke lantai.


Terlihat mata Ferdian memerah, dengan rahangnya yang mengeras. Saat dirinya melihat wajah Damar, yang sudah tak berdaya.


"Fer, sekarang elo urus istri loe! Biar ini jadi urusan gue!" ucap Joddy, dan Ferdian pun melepaskan cengkraman tangannya dari kerah baju Damar.


Mendengar nama istrinya, Ferdian segera mencarinya. Yang dimana Erina berada di sudut ruangan, terlihat lemas, bahkan gaun pengantinnya terdapat banyak darah.


"Astaghfirullah, sayang!" teriak Ferdian, menghampiri istrinya.


Mata Ferdian memerah, menangis melihat kondisi istrinya bersimbah darah.


Erina tersenyum menatap wajah Ferdian, lalu menyentuh wajahnya, yang dimana tangannya berlumuran darah.


"Maafkan aku. Jika aku belum bisa menjadi istri yang baik untuk kamu. Aaaaaaah haa ..." Erina terlihat sulit untuk bernafas.


"Kamu sudah menjadi istri yang baik. Sekarang kita kerumah sakit ya! Kamu harus bertahan!" ucap Ferdian dengan bibir bergetar dan ikut menitikkan air matanya, mendengar Erina mengatakan itu.


Erina kini sudah di angkat, lalu Ferdian meninggalkan ruangan itu.


"Aku titip Zio. Sayangi dia!" gumam Erina dengan mata yang hampir tertutup.


"Enggak! Aku gak suka kamu mengatakan itu. Kamu harus kuat, tetap bertahan demi Zio dan aku. Rin aku sangat mencintai kamu."


"Aku juga mencintai kamu Mas Ferdian." Setelah mengatakan itu, mata Erina tertutup.


"Rin, buka mata kamu sayang!" Ferdian terus memanggil istrinya.

__ADS_1


Ferdian menangis,namun langkah kakinya tak berhenti, dan terus membawa Erina menuju mobil.


__ADS_2