
Kini Noval dan Bu Hesti sudah berpamitan dan meninggalkan rumah Ferdian. Mereka di antar, oleh Riko. Setelah tak terlihat mereka semuanya pun kembali ke dalam.
Saat di dalam, Zio asyik melihat peliharaan barunya yang berada di aquarium yang cukup besar tersebut.
Apalagi macam-macam bentuk dan warna ikan yang berbeda-beda. Bocah laki-laki itu terus berbicara dengan binatang di dalamnya. Seperti bicara dengan temannya, yang begitu asyik.
Sedangkan Ferdian, Erina dan Joddy memperhatikan Zio yang di temani Kinan di sampingnya.
"Ikan nya lucu ya Zio?" tanya Kinan, yang melihat ikan dalam aquarium.
"Iya onty lucu ikannya." Sambil menyentuk dinding kaca.
Ferdian memiliki dua Aquarium, yang satu berisikan ikan kecil seperti ikan mas koki, angle fish, dan lain-lainnya.
Sedangkan yang satu lagi, berisikan ikan Arwana. Ferdian memang sudah lama ingin melihara makhluk air di rumahnya, namun semenjak dirinya menikahi Erina, ada saja masalah masuk rumah tangganya.
Dua bulan kemudian.
Usia kandungan Erina sudah tiga puluh tujuh Minggu, dan memasuki trimester ketiga. Saat ini raut wajah ibunya Zio sedang tidak baik-baik saja, karena sang suami akan pamit keluar kota selama Seminggu.
Ferdian dapat tugas dari ayahnya untuk, menghadiri pertemuan bersama kolega, yang berada di Surabaya. Mereka akan melakukan kerjasama dengan perusahaan milik pak Hamzah.
Beliau tak dapat menghadiri pertemuan tersebut, karena kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan dirinya hadir.
"Sayang, udah dong jangan sedih dan cemberut seperti itu. Aku jadi berat untuk ke Surabaya." Sambil menggenggam tangan istrinya.
"Aku sebenarnya, mengizinkan kamu Mas, untuk ke Surabaya. Namun kenapa rasanya aku ingin kamu tetap di sini!" jawab Erina dengan bulir bening yang selalu menetes di pipinya.
Ferdian menghapus air mata Erina, dan memeluknya. Yang di mana, Ferdi dapat merasakan Isak tangis Istrinya.
"Maaf, aku pergi mendadak seperti ini. Karena kondisi kesehatan ayah, yang tiba-tiba drop. Enggak mungkin juga kan, beliau yang ke sana?"
Ferdian terus memeluk Erina sampai tenang, sebenarnya ada rasa tak tega jika harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil besar seperti ini.
Ferdian menatap wajah istrinya, dengan matanya yang sembab.
"Akan aku usahakan, aku tidak lama di sana. Semoga saja, hanya tiga atau empat hari di sana." Sambil menyentuh wajah istrinya dengan kedua tangannya.
Ferdian pun lalu berlutut lalu menyentuh perut istrinya, dan berkata. "Sayang, Yayah mohon jangan buat bubu sedih ya! Yayah mau kerja nih, nanti Yayah janji akan kembali untuk Kalian." Lalu mengecup perut istrinya.
iiiissshhh .... Tiba-tiba Erina meringis, dan itu membuat Ferdian panik.
__ADS_1
"Sayang kamu kenapa?"
"Sepertinya dia merespon apa yang kamu katakan. Di bergerak di sini." Erina menyentuh perutnya.
Ferdian semakin merasa bersalah meninggalkan istrinya. "Benarkah kah dia bergerak?"
Ferdian segera mengusap-usap perut istrinya yang sedang meringis.
"Uuusssttt ... uuusssttt ... uuusssttt ... sayang Yayah, jangan ngambek ya Nak. Kasian tuh bubu nya kesakitan."
Erina merasa tenang, dan bernafas lega.
"Bagaimana sayang, sudah tenang?" Erina mengangguk.
"Kamarin saat periksa, perkiraan dua Minggu lagi. Aku jadi gak tega sayang, kalau seperti ini?"
"Enggak papa ko Mas, kalau kamu ingin berangkat. Mungkin aku seperti tadi, bawaan baby nya. Tapi sekarang aku sudah sedikit membaik, kamu jangan pikirkan itu. Kalau kamu tidak ke sana, pasti ayah akan berharap agar kamu menemui koleganya,"
"Tapi, bagaimana dengan kamu?" Ferdian masih menggenggam tangan istrinya.
"Aku baik-baik saja sayang. Ada keluargaku, dan bodyguard di sini," Erina berusaha tersenyum, untuk meyakinkan Ferdian. Disaat ia melihat raut wajah suaminya yang cemas.
Ferdian membuang nafasnya, sebenarnya dirinya berat meninggalkan Erina yang hamil besar.
"Yasudah, aku berangkat ya? Kamu harus jaga kesehatan, jangan lupa makan, minum obat, dan minum susu! Satu lagi, jangan keluar rumah sendirian, kalau tidak di temani Kinan, Riko dan Jordan. Pokoknya kalau tidak ada yang menemani kamu, jangan kemana-mana ya!" begitu banyak pesan Ferdian untuk istrinya.
Karena dia tau, kalau istrinya itu tidak ingin merepotkan orang lain, dan suka lupa untuk makan, atau minum susu hamil.
Erina tersenyum saat suaminya begitu perhatian dan mengkhawatirkan dirinya. Sampai begitu banyak pesan untuknya.
"Iya sayang. Aku akan ingat apa yang kamu katakan. Kalau kamu gak percaya kamu bisa suruh Kinan untuk melihatnya," Ferdian pun tersenyum dan mengangguk.
Kini Erina mengantarkan Ferdian sampai pintu depan. Di sana terlihat Kinan yang sedang cemberut, dan Joddy masih menatap istri kecilnya itu.
Saat melihat Ferdian, Kinan pun segera menatap arah lain. Joddy hanya bisa pasrah melihat istrinya merajuk.
Sedangkan Noval dan Bu Hesti, mereka dalam perjalanan menuju rumahnya. Dan itu membuat mereka pusing melihat kedua wanita di hadapannya terdiam nampak lesu.
"Berangkat sekarang Fer?" tanya Joddy, Ferdian mengangguk. Namun tatapannya masih menatap wajah Kinan.
Dirinya merasa bingung, beberapa hari ini sebenarnya sikap Kinan berubah. Terkadang suka sedih sendiri dan kesal tanpa sebab kepadanya. Bahkan istrinya sedang tak ingin jauh darinya. Itulah yang membuat Joddy bimbang untuk jauh darinya.
__ADS_1
"Sayang, aku berangkat ya? Aku janji setelah sampai aku akan hubungi kamu." Kinan mengangguk dengan bibir cemberut.
"Jangan cemberut dong! Berat rasanya ninggalin nya."Joddy menangkupkan tangannya ke wajah istrinya, lalu menatapnya lekat-lekat.
Kinan pun akhirnya menunjukkan senyuman kecil, yang di paksakan. Joddy pun tersenyum lalu mengecup keningnya.
"Sayang aku berangkat nya. Jangan nakal,dan jaga kesehatan!" pesan Joddy, dan Kinan mengangguk.
Joddy berjalan menuju kursi kemudi, dengan langkah yang berat. Saat di dalam mobil pun pandangan nya selalu menatap istrinya yang cemberut.
Bergantian dengan Ferdian, yang kini sedang berada di hadapan putra kecilnya.
"Jagoan Yayah, sekarang Yayah mau kerja. Tolong jagain bubu ya sayang! Zio gak boleh cengeng, jangan buat bubu sedih ya Nak!" pesan Ferdian ke putranya.
"Iya Yah. Zio janji akan jagain bubu, dan gak cengeng," jawabnya.
"Pintar anak ayah." Mengusap kepala Zio.
Kini Ferdian menatap wajah istrinya, terlihat Erina sudah sedikit tenang.
"Aku berangkat ya. Nanti pasti aku hubungi kamu. Jaga kesehatan ya, pokoknya apa yang aku kasih tau tadi, jangan sampai lupa!" Ferdian mengingatkan istrinya kembali.
"Iya Mas," jawab Erina.
Ferdian mengecup kening istrinya, dan Erina tersenyum.
"Zio sayang, Salim dulu sama Yayah!" kata Erina, dan putranya pun mencium tangan ayahnya.
Ferdian pun tersenyum, lalu mencium kepala putranya. Lalu Ferdi melihat ke dua pria di sebelahnya.
"Jordan, Riko. Saya titip mereka kepada kalian, jangan sampai lengah pandangan kalian. Karena mereka sangat berharga untuk saya. Ingat kalau ada apa-apa kabari saya atau Joddy!" pesan Ferdian menatap kedua bodyguard nya.
"Siap tuan." Jawab mereka dengan sigap, memberikan hormat kepada Ferdian.
Setelah itu Ferdian pun masuk kedalam mobil, dan melambaikan tangannya, Erina Zio dan Kinan pun membalas lambaian tangannya. Joddy membunyikan klakson , lalu mengendarai mobil meninggalkan rumah.
Setelah mobilnya tak terlihat, mereka pun masuk kedalam. Sedangkan Jordan dan Riko bertugas menjaga di luar.
Tidak lamanya, ada mobil masuk ke gerbang, dan rupanya itu adalah Noval dan Bu Hesti yang datang. Ferdian sudah meminta mereka untuk menemani istrinya di rumah, apalagi Kondisi Erina yang sudah mendekati waktu persalinan.
Bersambung
__ADS_1