Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Menggoda Erina


__ADS_3

Ferdian membalikkan tubuh istrinya, agar menatap wajahnya. Benar saja,mata Erina sudah basah, dan bulir bening pun berhasil membasahi wajahnya.


Ferdian membawa istrinya, untuk duduk di sofa. Namun pandangan Erina masih menatap ke arah lain.


"Maaf, kalau aku udah gak cantik lagi bagi kamu. Aku tak bisa merawat tubuhku, yang sekarang terlihat besar, hingga kamu tak tertarik lagi dengan ku. Sampai kamu harus memuji wanita lain, karena kecantikan." Kata Erina seraya menghapus air matanya.


"Ya ampun sayang, aku cuma bercanda. Aku hanya menggoda kamu, aku tidak serius memujinya. Jelas istri Mas Ferdi yang paling cantik, wanita itu gak ada apa-apanya,"


Terdengar suara baby Yuna menangis, Erina pun segera menghampiri putrinya. Sedangkan Ferdian, menatap istrinya, yang saat ini meninggalkan nya karena merajuk.


Saat makan malam pun, Erina masih mendiami suaminya. Membuat Ferdian menjadi takut, akan istrinya yang acuh kepadanya.


Erina hanya tersenyum saat melihat putranya, sedangkan saat melihat suaminya, ia menunjukkan ekspresi datar.


'Ya ampun, istri ku kalau sedang marah, menyeramkan sekali. Aku lebih baik di marahinya, daripada aku di diami seperti ini.'


Gumam Ferdian dalam hatinya, melihat istrinya yang mendiaminya.


Kini Ferdian sedang menemani putri kecilnya tertidur. Sambil menunggu istrinya datang, karena sedang berada di kamar Zio, membacakan dongeng tidur.


Pukul 22.35 Erina baru masuk ke kamarnya, dan melihat sang suami sedang tertidur memeluk baby Yuna.


Erina memindahkan baby Yuna ke tempat tidur khususnya, tak jauh di samping tempat tidurnya. Setelah itu, ia pun membaringkan tubuhnya ke kasur, karena sudah merasa lelah.


Baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba ada tangan yang melingkar, dan memeluknya dari belakang.


"Aku minta maaf! Please jangan diamkan aku seperti ini, aku gak bisa kamu mengacuhkan aku terlalu lama,"


"Sebenarnya, aku juga gak bisa, diam-diam seperti ini sama kamu Mas. Cuma aku masih kesal, dengan kamu!"


Mendengar istrinya bicara seperti itu, ada senyuman di bibir Ferdian. Ia pun segera menarik tubuh Erina untuk menatapnya.


"Jujur aku cuma bercanda, tidak ada yang serius di perkataan aku tadi." Ferdian seraya membelai lembut wajah istrinya.

__ADS_1


"Tapi bercanda kamu gak lucu, cuma bikin aku kesal! Di tambah lagi kamu memuji wanita itu!" Jawab Erina dengan bibir manyun.


"Kamu tau, aku akhir-akhir ini sedang mengeluh, tentang berat badan ku yang naik tiap bulannya. Pasca hamil kemarin, dan berkurang saat selesai operasi, lalu kembali bertambah lagi ...." Jawab Erina dengan merengek, membuat Ferdian melihatnya ingin sekali tertawa, namun ia berusaha menahan.


'Ya ampun, selama aku mengenalnya dan menjadi istriku. Baru pertamakali nya sekarang aku melihat dia merajuk seperti ini, karena bercanda memuji wanita lain, dan masalah berat badannya yang naik. Merajuknya istri ku sungguh sangat menggemaskan, aku kira dia wanita dewasa yang tak mempermasalahkan untuk masalah yang seperti ini. Tapi ternyata ....'


Ferdian mengajak Erina untuk duduk, agar bisa bicara dengan tenang.


"Sayang, dengarkan aku baik-baik! Aku justru lebih suka kamu dengan tubuh seperti ini, tidak terlalu kurus. Kalau untuk wajah kamu, tidak berubah sama sekali, kamu masih terlihat cantik. Justru aura ke ibuan kamu lebih terpancar. Kamu sekarang sedang tidak percaya diri saja, dengan dirimu sendiri. Jika kamu mau nanti kamu bisa olahraga nge-gym, di tempat biasa aku latihan, atau olahraga lainnya," jelas Ferdian, membuat Erina tersenyum kecil.


"Beneran Mas, aku masih cantik? Kamu juga tidak mempermasalahkan tubuhku yang terlihat besar seperti ini?"


"Beneran sayang, kamu cantik. Berat badan kamu biasa aja, gak terlalu besar. Aku aja masih kuat angkat kamu kemarin malam." Goda Ferdian, membuat Erina tersipu malu.


"Lagian ya, author aja gak komentar apapun, dengan berat badannya, hihihi ...." Ferdian dengan cekikikan.


"Loh ...kenapa author di bawa-bawa Fer. Belom pernah di getok pake centong nasi kayu ya! Hemmm ..." Othor kesel tingkat dewa.


Othor ngambek ceritanya.


Erina pun tak terlihat merajuk lagi, setelah Ferdian berhasil membujuknya, apalagi dengan bawa-bawa Othor.


Erina terlihat senyum-senyum, dengan rayuan maut Ferdi.


"Udah gak marah lagi 'kan sayang?" tanya Ferdian.


Erina menggelengkan kepalanya.


"Aku gak bisa kamu acuhkan aku terlalu lama, rasanya berat dan rindu," goda Ferdian.


Erina mencebikkan bibirnya, meledek suaminya. Ferdian pun tersenyum, melihat istrinya.


Ferdian membelai lembut wajah istrinya, Erina melihat suaminya, menunjukkan tatapan sendu.

__ADS_1


Erina pun mengerti maksud dari tatapan mata suaminya itu. Ferdi menatap bibir istrinya yang ranum, meski tanpa polesan warna. Secara perlahan, Ferdian mengecupnya.


Erina pun menikmati kecapan, setiap sentuhan yang di berikan oleh suami. Hingga ia pun memejamkan mata, Ferdian pun tersenyum melihat istrinya mengerti maksud dari apa yang ia lakukan.


Ferdian dengan hati-hati merebahkan tubuh istrinya di tempat tidur.


Ferdian memulai permainan awal yang dimana pemanasan yang membuat mereka berdua saling menikmati. Apalagi Ferdian yang membuat istrinya, pasrah dengan ulahnya yang mencari gelombang, dan volume radio. Yang membuat suara mereka terdengar merdu, dan menjadi lebih bersemangat melakukan pertandingannya.


Hingga keduanya bermain ayunan dan mengikuti irama dangdut yang membuat mereka bersemangat, dan melupakan masalah yang terjadi, membuat mereka menjadi bertengkar. Lalu pertengkaran mereka menjadi sebuah pemain dan pertandingan yang menguras energi dan tenaga.


Ferdian berharap semoga baby Yuna tidak terbangun di saat pertandingan berlangsung, karena rasanya sangat tak enak. Berhenti di tengah-tengah permainan berlangsung.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 04.35. Erina terbangun saat mendengar rengekan sang putri, saat di lihat ternyata suaminya sudah menggendong baby Yuna, dan sudah di berikan susu di dalam botol.


"Mas, Yuna terbangun dari kapan?" tanya Erina dengan matanya yang masih berat.


"Lumayan setengah jam lalu,"


"Kamu kok gak bangunin aku Mas?"


"Untuk apa? Aku masih bisa mengurus si cantik. Lagian ada stok susu di lemari es, aku tinggal hangatkan. Lalu aku kasih, beres kan , Yuna pun anteng deh." Jawab Ferdian sambil menggendong putri kecilnya.


Erina yang mendengar suaminya bicara hanya tersenyum. Selama ini memang suami selalu membantunya di saat Yuna terbangun tengah malam. Tak jarang pula, Ferdian menemani istrinya sampai putri nya tertidur.


"Lagian aku tak tega membangunkan kamu, aku melihat kamu sepertinya kelelahan, karena pertandingan semalam yang sampai tiga ronde," Goda Ferdian membuat Erina mendelikan matanya ke arah suaminya.


"Semuanya itu karena kamu yang minta nambah terus." Jawab Erina, dengan memanyunkan bibirnya.


"Tapi kamu menikmati kan, buktinya kamu semalam juga sangat bersemangat melakukannya," Ferdian semakin suka menjahili istrinya.


Sambil meletakkan baby Yuna, ketempat tidurnya. Ferdian masih menunjukkan sikap genitnya.


"Satu lagi, aku suka suara kamu semalam, apalagi setiap kamu bergerak dan mengikuti iramanya." Erina pun langsung menutup telinganya, saat mendengar kata-kata suami yang mengarah ke sana.

__ADS_1


Ferdian terkekeh melihat sikap istrinya, apalagi dengan kedua pipinya memerah. Ferdi senang meledek Erina.


Bersambung....


__ADS_2