
Tidak lamanya, ada mobil masuk ke gerbang, dan rupanya itu adalah Noval dan Bu Hesti yang datang. Ferdian sudah meminta mereka untuk menemani istrinya di rumah, apalagi Kondisi Erina yang sudah mendekati waktu persalinan.
Susah dua malam Erina selalu terbangun ketika malam hari. Apalagi selama mendekati persalinan, ia selalu buang air kecil tengah malam. Saat di lihat, suaminya tak di sampingnya, ia pun tak dapat tidur kembali.
Sampai dua hari kemudian.
Erina, Zio, Noval dan Bu Hesti, sedang menikmati makan malam bersama. Yang tak terlihat hanya Kinan, yang sejak siang tadi hanya berada di dalam kamar.
"Kinan belum keluar kamar Bu?" tanya Erina.
"Belum Rin, sejak tadi siang. Katanya kepalanya pusing, tadi ibu udah kerokin Kinan. Katanya istirahat dulu,"
"Ya sudah bu, biarkan Kinan istirahat. Nanti antar makanan ke kamarnya aja, ke bu Yeti,"
"Biar ibu saja nanti, kasihan Bu Yeti dari tadi kerjaan rumah banyak." Erina mengangguk.
Selesai makan malam, Erina mengobrol dengan keluarga. Setelah itu, Zio merengek minta di temani bobo dengan ibunya.
"Bubu, Zio ngantuk. Temani aku bobo, bacakan aku dongen." Pinta Zio memeluk lengan ibunya.
Erina pun tersenyum. "Iya sayang. Yuk kita istirahat udah malam juga,"
"Bagaimana kalau oom yang temani, dan bacakan dongeng untuk Zio," bujuk Noval, karena tak tega melihat kakaknya .
"Endak mau, Zio mau sama bubu!" jawab anak itu dengan ketus, dan mata melotot. Noval terkejut mendengarnya, lalu terkekeh.
"Zio gak boleh bicara seperti itu, dengan oom! Itu tidak baik ya nak, harus sopan sayang!" ucap Erina dengan menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan kanan.
"Iya tapi Zio mau dengan bubu, bukan oom." Zio meluk lengan ibunya.
"Iya deh, iya. Maafin oom ya. Sekarang Zio bobo ya sudah malam." Anak itu mengangguk.
"Maafin Zio ya oom," anak itu nampak murung.
__ADS_1
"Iya sayang gak papa kok. Uuuuuhhh keponakan om yang pintar." Noval memeluk Zio yang sangat menggemaskan baginya.
Erina pun membawa putranya untuk beristirahat. Di dalam kamar, anak itu minta di bacakan dongeng.
"Kamu mau di bacakan dongeng apa Nak?" tanya Erina saat putranya sudah di atas tempat tidur .
"Dongen anak keledai yang cerdik, dan serigala Bu," jawab Zio.
"Oke," Erina pun membuka buku dongeng, lalu memulai membacakan ceritanya.
"Pada suatu pagi, terlihat seekor anak keledai yang hendak mencari merumput di Padang rumput yang sangat luas. Sesampainya di sana ia memakan rumput yang hijau dan segar, dengan begitu lahap. Bahkan sang keledai memakannya sampai kenyang,"
"Hingga tiba-tiba datanglah seekor serigala, yang menatap keledai tersebut dengan tatapan tajam," cerita Erina.
"Serigala itu jahat ya Bu?" tanya Zio.
"Iya, serigala tersebut sangat jahat. ia ingin memakan keledai,"
"Teyus keledai itu di makan Bu?" tanya Zio dengan penasaran.
Erina melanjutkan membacakan dongeng untuk Putranya, namun saat ceritanya belum selesai, Zio sudah tertidur pulas.
"Anak ini, kenapa seperti ayah nya. Selalu tak sabar, namun sedikit menggemaskan," Erina tersenyum saat mengingat kejadian lucu saat bersama Damar.
"Astaghfirullah. Kenapa aku mengingat dia." Erina menggelengkan kepalanya, karena tiba-tiba dirimu mengingat mantan suaminya.
Saat di lihat putranya tertidur dengan sangat pulas, Erina pun kembali ke dalam kamarnya.
Saat di kamar pun Erina merasa tubuhnya sangat lemas. Ia pun segera merebahkan tubuhnya, untuk beristirahat. Namun setiap posisinya selalu saja membuatnya tak nyama.
"Mas aku kangen kamu. Kapan kamu pulang," bulir bening pun berhasil lolos.
Tiba-tiba saja, handphone miliknya berbunyi, terpampang nama Mu hubby, memanggilnya lebat video call. Erina pun tersenyum saat melihatnya dan segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum," ucap Ferdian di layar gadgetnya.
"Waalaikumsallam Mas," Ferdian melihat mata istrinya mengembun, seperti habis menangis.
"Sayang kamu kenapa? Kamu habis nangis ya?" tanya Ferdian, dan Erina mengangguk.
"Kenapa menangis, apa ada yang kamu rasakan?"
"Seharian kamu tidak sibuk, tidak beri kabar. Kamu tidak ingat ya, jika kamu punya istri dan sedang mengandung!" gerutu Erina, dengan memanyunkan bibirnya.
"Iya maaf, aku sibuk banget. Aku kejar waktu, agar hari ini aku kembali ke rumah," jelas Ferdian membuat Erina tersenyum mendengarnya.
"Benarkah Mas, kamu akan kembali hari ini?"
"Iya sayang, dan kamu lihat sekarang aku sudah di dalam mobil. Sebentar lagi aku akan sampai rumah,"
"Benarkah? Ya ampun aku senang banget. Yasudah aku tungguin kamu ya?"
"Jangan Erina, kamu istirahat. Lumayan kurang lebih dua jam lagi, kemungkinan aku sampai. Soalnya jalan di sini sepertinya macet,"
"Yasudah iya Mas, aku istirahat sebentar ya. Kepalaku juga sedikit pusing,"
"Yasudah kamu istirahat ya sayang, nanti suamimu sampai kok, jangan khawatir,"
Erina tersenyum mendengarnya.
"Sekarang aku tutup ya, Assalamu'alaikum istri kesayangan ku,"
"Waalaikumsallam, suamiku yang tampan,"
Ferdian tersenyum mendengarnya. Panggilan pun terputus.
Ferdian benar-benar sangat merindukan sosok Istrinya, yang selalu membuatnya bersemangat untuk melakukan aktivitas. Dirinya menganggap Erina itu seperti vitamin, baginya.
__ADS_1
Apalagi kondisi istrinya yang sekarang sedang mengandung, dirinya sangat merindukan akan ke manjaannya.
Bersambung....