Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Ferdian dan Joddy datang.


__ADS_3

Benar saja saat berada di lantai lima, dan keluar lift, dirinya melihat Noval sedang duduk di kursi.


"Noval bagaimana keadaan kak Erina?" tanya Ferdian.


"Kak Erina harus segera dilakukan operasi Caesar. Tekanan darah tingginya dan sepertinya juga ada masalah dalam kandungannya. Yang menyebabkan kak Erin harus melakukan itu. Kalau tidak, kemungkinan anak kalian ..." Noval tak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Kemungkinan apa Val?" tanya Ferdian menarik kerah baju Noval.


"Kemungkinan anak kalian ada dua pilihan selamat atau tidak," Noval menjelaskan dengan rasa tak tega.


Seketika Ferdian lemas, mendengar kondisi istrinya. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, terlihat Erina terbaring lemah dengan tangan di pasang jarum infus, dan tak sadarkan diri.


Ferdian dan Noval menghampiri para perawat membawa bangsal yang di mana Erina tak sadarkan diri. Joddy mengikuti Ferdian.


"Tunggu! Saya ingin melihat istri saya!" Perawat pun berhenti dan Ferdian menatap wajah istrinya yang menutup mata.


Ferdian tak tega menatap wajah pucat istrinya. "Sayang, aku di sini di samping kamu. Kamu yang kuat ya, untuk anak kita. Aku sayang kamu." Ferdian mengecup keningnya, sambil menyentuh perut istrinyanya. "Kamu harus kuat ya Nak. Yayah ada di sini, untuk kalian."


Perawat membawa Erina kembali, menuju ruangan operasi. Ferdian Noval dan Joddy sedang menunggu di ruang tunggu. Ferdi tak henti-hentinya berdoa, untuk keselamatan istri dan anaknya.

__ADS_1


Ferdian melihat Joddy di hadapannya, terlihat wajah sepupunya juga sedang memikirkan sesuatu.


"Joddy lebih baik kamu pergi menemui Kinan!"


"Tapi Fer," jawab Joddy ragu, jika harus ninggalin Ferdian, dengan kondisi yang sedang tak baik.


"Jangan khawatirkan gue. Udah elo temui Kinan! Gue juga yakin, istri loe juga pasti sedih saat tau kabar itu," Joddy merasa apa yang di katakan Ferdian benar adanya.


" Sebenarnya gue juga khawatir, sejak tadi kepikiran Kinan. Tapi ..."


"Ya udah temuin istri low sana! Gue juga udah kabarin bunda tentang Erina,"


"Gak papa, pokoknya elo harus perhatikan istri loe. Apalagi dia juga kondisinya sedang sakit, pas saat elo tinggal,"


"Ya udah gue temuin istri gue dulu ya?" ucap Joddy dan Ferdian mengangguk.


Kini, Joddy meninggalkan Ferdian dengan Noval. Ia menemui istrinya, karena sejak tadi membuatnya kepikiran terus.


Saat ia menemukan kamar, tempat di mana Kinan di rawat. Joddy pun mengintip dari kaca, ia melihat istrinya nampak murung. Karena meras tak tega ia pun membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ..."


"Waalaikumsallam ..." jawab Kinan dan Bu Hesti.


Terlihat Kinan nampak murung dan menundukkan kepalanya. Saat dia lihat ke arah pintu, ternyata yang datang sosok seseorang yang dirinya nantikan.


"Mas ..." ucap Kinan dengan bibir bergetar, dan mata berembun.


"Sayang, ya ampun Kinan." Joddy pun segera menghampiri istri dan ibu mertuanya.


Tak lupa Joddy mencium tangan ibu mertuanya, sedangkan Kinan masih termenung melihat kedatangan suaminya. Dirinya masih tak percaya kalau saat ini, pria yang ia rindukan ada di hadapannya.


"Ibu keluar dulu ya Nak. Kamu temani istri kamu!" Joddy mengangguk.


Bu Hesti pun keluar ruangan, membiarkan Joddy dan Kinan berdua di sana. Sebenarnya masih ada yang ingin ditanyakan kepada menantunya tersebut. Namun dirinya juga harus melihat kondisi Erina.


Sedangkan di dalam kamar, Kinan memandangi suaminya dengan tatapan sendu. Dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


Sebenarnya Joddy sendiri nampak tak tega melihat istrinya menangis apalagi dengan kondisi tangan istrinya terpasang infus, dan wajahnya yang pucat.

__ADS_1


__ADS_2