
Pantas saja dia mengenal suaminya dulu saat jadi kakak kelasnya, laki-laki yang berbeda. Ferdian sosok pria yang sederhana dan apa adanya.
Ferdian menatap istrinya dan tersenyum, lalu mengecup keningnya.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu? Kamu heran ya, karena suamimu ini hidupnya menyedihkan?" tanya Ferdian, Erina menggelengkan kepalanya.
"Aku bangga punya suami hebat seperti kamu. Laki-laki hebat yang sanggup bertahan, meskipun kehidupan kamu begitu pahit," ucap dengan rasa bangga.
"Laki-laki hebat apa? Aku ini pria menyedihkan,"
"Tapi bagiku kamu laki-laki hebat. Kamu bisa menerima kenyataan pahitnya kehidupan. Yang lain taunya kamu itu orang berkecukupan, tapi nyatanya kamu bisa kuat menerimanya."
"Terimakasih banyak kamu menganggap ku laki-laki hebat. Sekarang sudah malam kita tidur Yuk! ajak Ferdian, dan Erina menggelengkan kepalanya.
"Iya Mas. Lagian kamu juga baru sehat," jawab Erina.
Ferdian pun tersenyum, tanpa butuh waktu lama, ia pun tertidur karena rasa kantuknya yang tak dapat ia tahan.
__ADS_1
Erina yang belum bisa memejamkan matanya, masih betah memandangi wajah suaminya.
"Aku jadi teringat saat di sekolah Mas. Kamu kakak kelas yang paling baik dan ramah. Selain itu kamu itu murid yang pintar dan berprestasi. Seandainya kalau kamu tau, aku pernah sempat kagum dengan kamu. Namun Damar datang dan ia mencintaiku, tapi justru dia lah juga yang menghancurkan hatiku."
Erina melihat suaminya tersenyum, namun saat di lihat matanya tertidur. Lalu Ferdian menarik tubuh istrinya untuk mendekat kepadanya, dan di pelukan, Akhirnya mereka pun tertidur dengan saling berpelukan.
Dua Minggu kemudian, keluarga Ferdian dan Joddy datang mengunjungi tempat tinggal Bu Hesti. Yang tak lain rumah keluarga Kinan.
Mereka berniat datang ke sana untuk melamar Kinan untuk menjadi istrinya Joddy. Setelah saling membicarakan tentang hubungan dua sejoli yang saling mencintai. Mereka menetapkan tanggal pernikahannya, yang akan dilakukan satu bulan kemudian.
Bu Hesti sangat senang karena pernikahan Kinan akan di serahkan kepada keluarga Joddy, yang tak lain bunda Nabila.
"Ibu kenapa kok murung? Apa ada masalah? Kalau iya katakan sama Erin!"
Bu Hesti tersenyum dengan matanya yang basah.
"Karena pembicaraan untuk hubungan Kinan dan Joddy sudah selesai. Sekarang saya ingin mengatakan sesuatu kepada kalian,"
__ADS_1
"Bu Hesti ingin mengatakan apa?" tanya bunda Nabila.
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada kalian, khususnya untuk kamu Ferdian dan Erina," sambil menatap putri dan menantunya.
"Erina, Ferdian. Ibu ingin minta maaf. Karena sikap Asqia yang membuat masalah di rumah kalian. Bahkan sampai membuat hubungan kalian merenggang, maafkan ibu Rin, Fer." Kata Bu Hesti yang ingin berlutut kepada putri dan menantunya.
Erina dan Ferdian menahan Bu Hesti, agar tidak berlutut kepadanya.
"Ya ampun. Ibu gak salah, kenapa minta maaf dan berlutut segala." Jawab Ferdian, yang membantu ibu mertuanya untuk duduk kembali.
"Ibu malu Nak dengan sikap Qia seperti itu. Rasanya ibu sudah tak ada muka lagi untuk berada di hadapan kalian." Dengan tangannya yang saling menempel tanda memohon.
"Ibu, jangan mengatakan itu. Aku jadi ikut bersedih dengan melihat ibu seperti ini," ucap Erina menyentuh tangan ibunya.
"Lagian hubungan ku dengan Mas Ferdian sekarang baik-baik aja. Aku juga percaya dengan suamiku, kalau dia akan selalu menjaga hatiku dari wanita lain yang menggodanya. Karena dia sudah berjanji dengan almarhum ayah." Jelas Erina,dan Ferdi menganggukkan kepala.
"Kalian memang anak-anak yang baik hatinya," Bu Hesti dengan senyumnya.
__ADS_1
Bu Hesti sendiri memeluk Erina dan Ferdian. Karena bangga memiliki hati yang baik.
Bersambung .....