
Zio pun bertepuk tangan karena merasa bahagia. Sedangkan Ferdian dan Erina terkekeh melihat putranya teramat senang, dengan mainan barunya.
Terdengar suara handphone milik Ferdian berdering, ia pun segera melihat siapa yang menghubunginya.
"Siapa Mas?" tanya Erina.
"Ridwan. Aku angkat telpon dulu ya sayang," Erina mengangguk.
Lalu Ferdian menjauh dari Zio, untuk menerima panggilan telpon.
"Ya hallo. Bagaimana Wan?" tanya Ferdian.
Ferdian mendapatkan kabar baik, hingga membuatnya tersenyum mendengarnya.
"Bagus. Langsung kalian bawa ke kantor polisi!"
Panggilan pun berakhir, dan kini Ferdian masuk ke dalam bersama keluarganya.
Ferdian duduk sambil menggendong baby Yuna. Sedangkan Zio masih asik bermain mobil remote baru nya.
"Sayang, kata Ridwan, Niko sudah di temukan. Sekarang dia akan di bawa ke kantor polisi,"
Erina tersenyum, mendengarnya.
"Bagus dong Mas, kalau dia sudah tertangkap. Semakin cepat juga Qia kembali ke rumah." Ferdian mengangguk.
Keesokan harinya, Bu Hesti dan Noval akan datang ke rumah Ferdian, sedangkan Kinan, Joddy sudah datang sejak tadi pagi, menunggu mereka datang.
Mereka semua berniat ingin menjemput Asqia, karena Ferdian sudah mencabut masa hukumannya Qia, untuk di bebaskan.
__ADS_1
Kini Seluruh keluarga sudah berada di kantor polisi. Bu Hesti memeluk putrinya, yang sudah terbebas dari penjara.
Asqia menatap wajah Erina, dengan memberikan senyuman. Lalu ia memeluknya, dengan isak tangis.
"Terimakasih kak, kamu kakak yang baik. Maafkan aku juga yang sudah melakukan kesalahan sama kamu."
"Uuusssttt ... sudah-sudah, sekarang kita mulai kehidupan kita yang baru. Kamu harus menjadi pribadi yang baik, dari sebelumnya." Qia mengangguk.
Asqia melihat Ferdian. "Kak Ferdian, maafkan aku yang sudah melakukan kesalahan tempo hari. Sungguh aku sangat malu, jika mengingat kesalahanku itu," dengan wajah bersalah.
"Setiap manusia pasti punya kesalahan, tetapi aku belajar memaafkan dari seorang wanita yang baik hati. Dari kakak kamu ini." Ferdian sambil merangkul pundak istrinya. "Aku sudah maafkan kamu, jadilah pribadi yang baik untuk kedepannya."
Asqia mengangguk, lalu ia melihat baby Yuna yang kini berada di gendongan Noval.
"Ini anak kalian?" tanya Qia saat melihat baby cantik yabg sedang tertidur.
"Iya, dia adiknya Zio," jawab Erina.
"Dia di rumah, sedang asik bermain mobil baru, bersama pengasuhnya." Jelas Ferdian, dan Qia mengangguk.
Kini mereka sudah keluar dari kantor polisi dan hendak masuk kedalam mobil. Namun dari kejauhan, ada seseorang memanggil Qia.
Seorang laki-laki dengan kulit hitam manis, tubuhnya yang tegap, dan terus tersenyum menatap ke arah Asqia.
"Adzriel ...." sapa Asqia
"Qia ..."senyuman manis di berikan dari pria bertubuh tinggi.
"Kamu sudah keluar Qi?" tanya Adzriel, dengan raut wajah bahagia.
__ADS_1
"Iya aku sudah benar Riel,"
"Syukurlah aku senang mendengarnya." Sambil menggenggam tangan Asqia.
Semua keluarga melihat kedekatan Adzriel dan Asqia begitu akrab. Mereka berdua baru menyadari, jika mereka di tengah-tengah para keluarganya.
"Maaf semuanya aku lupa memperkenalkan pada kalian. Ini Adzriel, dia cucu nenek Asenih, mereka yang sudah menolong aku saat aku jatuh dari bukit tinggi," jelas Asqia.
Adzriel itu menganggukkan kepalanya, dan tersenyum ramah.
"Zriel. Kenalkan mereka semua keluarga aku, ini ibu ku, adikku kakak ku dan dua pria ini iparku," jelas Qia,
"Ya ampun Nak, jadi kamu yang sudah menolong Asqia. Ibu mengucapkan terimakasih banyak ya, kamu dan nenek kamu sudah menolong Qia." Kata Bu Hesti menghampiri Adzriel.
"Iya Bu, sama-sama. Sebagai manusia, menolong sesama manusia adalah kewajiban. Apalagi saat itu, Qia terluka sangat parah, yang memang harus di tolong,"
"Jarang manusia baik seperti kamu nak," ucap Bu Hesti.
"Ibu terlalu berlebihan memuji saya. Saya ikhlas membantu anak ibu. Saya juga kesini berniat ingin menjenguk Qia, ternyata dia sudah bebas," Adzriel tersenyum ramah kepada Bu Hesti, lalu menatap Asqia.
"Qia aku kesini sekaligus ingin menyampaikan salam terakhir dari nenek," ucap Adzriel membuat asqia tertegun mendengarnya.
"Salam terakhir nenek. Maksudnya apa Riel?" tanya QIA dengan rasa tak percaya.
"Nenek sudah pergi, saat aku pulang dari mengantar kamu. Beliau mengatakan sesuatu untuk kamu,"
Mata asqia mengembun saat mendengar kalau nenek Asenih sudah tiada. Entah kenapa ia merasa kehilangan seorang nenek yang baik hati.
Tubuh Asqia seketika menjadi lemas, bulir bening pun berhasil lolos dari pelupuk matanya. Saat mendengar kepergian nenek Asenih untuk selamanya, orang baik yang sudah menyelamatkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung.