Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Di perbolehkan pulang


__ADS_3

Kini waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi, Erina seorang diri menemani Zio di rumah sakit. Karena Kinan sudah kembali pulang untuk bekerja.


Saat ini Zio terbangun, dan merengek karena tangannya terpasang jarum infus. Yang biasanya super aktif, kini dia hanya terbaring lemah, itu yang membuatnya menangis tidak betah dengan kondisinya.


"Bubu, Iyo Atit( Zion sakit)! Atu au ain enda au ini ( aku mau main gak mau di sini)!" rengek anak itu.


"Anak bubu harus kuat ya! nanti kita pulang ya," bujuk Erina, dengan memberikan kecupan di kening sang putra.


Tok, tok, tok.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Saat pintunya terbuka, wajah Zio langsung berbinar melihat seseorang yang datang.


"Oom," ucap Zio, membuat Erina pun segera menoleh.


Ternyata benar yang mengentuk pintu bukan dokter atau perawat, melainkan Ferdian. Pria itu menunjukkan senyuman, membuat Zio terlihat bahagia.


'Ferdi datang, demi anakku. Ya Allah Zio terlihat bahagia saat melihatnya, tidak seperti kemarin nampak murung.'


"Hallo jagoan Om," sapa Ferdian menghampiri Zio.


Ferdian memberikan senyuman kepada Erina, dan di balasnya.


"Oom," panggil Zio dengan bibir bergetar dengan mata mengembun. Seakan mewakili rasa rindunya saat ini.

__ADS_1


"Uuusssttt ... jagoan gak boleh nangis. Sekarang Om sudah datang, kamu kangen ya?" tanya Ferdian dan diangguki oleh bocah balita itu, sepertinya memang membutuhkan kasih sayang sosok ayahnya.


Erina menitikkan air matanya, namun segera ia hapus, agar Ferdian tak melihatnya. Namun ternyata pria itu melihat kalau wanita di sampingnya menangis.


"Zio belum makan ya?" anak itu menggeleng. "Sekarang mamam ya, oom suapin ," dengan rasa senangnya bocah itu mengangguk.


Dengan telaten, Ferdian menyuapi Zio. Anak itu sangat menuruti apa yang di katakan Ferdi. Bahkan sampai minum obat pun dia tidak sulit, Erina memperhatikan pemandangan itu dari kursi.


Ada senyuman yang Erina rasakan saat melihat anaknya mau makan dan minum obat.


Setelah makan dan mau minum obat, Zio pun tertidur, mungkin efek dari obatnya. Ferdian pun ikut duduk di kursi, samping Erina.


Ferdian menatap Erina yang menundukkan kepalanya. "Erin, kamu kenapa?"


"Ferdian, aku minta maaf. Kalau ucapan aku pernah membuatmu tersinggung," ucap Erina membuka suaranya.


"Aku pikir, kamu marah dengan ucapan aku tempo hari. Sampai kamu tidak datang kerumah!" ada rasa tak enak, saat ini Erina rasakan.


"Erina, dengarkan aku! Aku mengerti maksud dari ucapan kamu, aku juga gak marah. Aku menghargai posisi kamu, dan setatus kamu, aku sangat mengerti." jawab Ferdian dengan sungguh-sungguh.


"Aku tidak datang, karena aku mengurus usahaku yang sedang ada masalah. Aku juga baru pulang dari luar kota semalam sampai rumah. Mangkanya aku tidak mendengar kamu menelpon, karena aku tertidur. Saat aku tau kondisi Zio, aku langsung kesini," jelas Ferdi.


Air mata Erina mengalir, dan itu membuat tangannya Ferdian menghapus air mata di wajah ibu dari Zio.

__ADS_1


"Kamu kenapa menangis?" Erina hanya menggelengkan kepalanya.


Ferdian tak ingin menanyakan apapun pada Erina, karena suasana hati wanita yang ia suka saat ini sedang tidak baik-baik saja.


Sampai malam tiba, dengan sabar Ferdian masih menemani Zio di rumah sakit. Erina berpikir pria di sebelahnya mempunyai hati yang terbuat dari apa, begitu peduli dengan dirinya dan putranya.


"Ferdian, kamu tidak pulang? Ini sudah malam, bukan seharusnya juga kamu harus istirahat!" ucap Erina.


"Kamu mengusir aku?" tanya Ferdi dengan menatap Erina.


" Bu_ _ bukan begitu. Aku tidak bermaksud mengusir kamu. Tapi sejak pagi kamu di sini, apa kamu tidak capek? Sedangkan kamu baru dari luar kota, aku hanya takut kamu lelah," jawab Erina dengan gugup, dan Ferdian tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan keadaan aku. Tapi aku tidak lelah ko, apalagi untuk Zio dan kamu," ucap Ferdi dengan santainya, membuat Erina tercengang yang mendengarnya.


Erina menjadi salah tingkah mendengar Ferdi berbicara seperti itu. Entah kenapa jantungnya kembali berdebar


Entah kenapa Ferdian terus bertekad setelah pernah gagal mendapatkan gadis yang ia sukai. Sekarang ia semakin semangat untuk mendekatkan seseorang yang namanya selalu tersimpan di dalam hatinya.


Sampai esok harinya, Ezio sudah di perbolehkan pulang, dan Ferdian masih setia menemaninya, bahkan mengantarkan ke rumahnya.


Dengan sabar dan telaten, Ferdian menyuapi dan memberikan obat untuk anak laki-laki yang berusia satu tahun setengah. Ferdi mengurus Zio susah seperti seorang ayah kepada putranya.


Pemandangan itu di lihat beberapa pasang mata. Dengan ketelatenan Ferdian merawat Zio dengan di bantu Erina. Pak Fajar Bu Yeni, Kinan dan Indri seperti melihat satu keluarga kecil yang lengkap dan terlihat bahagia.

__ADS_1


Kadang sesekali Ferdian dan Erina saling bertatap wajah dan tersenyum bersamaan. Saat malam sore harinya, Ferdian barulah kembali pulang, itupun harus membujuk Zio agar tidak merajuk.


Bersambung....


__ADS_2