Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Wanita satu-satunya


__ADS_3

Joddy berlari mengejar Kinan yang sudah menjauh, bukan hanya itu, ia takut Istrinya kenapa-kenapa. Karena saat ini Kinan, menggunakan eskalator dengan keadaan kesal dan tidak baik-baik saja.


"Kinan ..." panggil Joddy.


Namun Kinan tak menghiraukan panggilan suaminya. Ia masih terus berjalan dan sudah Melawati eskalator. Joddy semakin khawatir dengan istrinya yang mengabaikan suaranya.


Saat hendak berbelok, Kinan menginjak tumpahan air. Ia pun kehilangan keseimbangan dan ....


"Aaaaa ..." Kinan berteriak.


"Kinan ....!" teriak Joddy saat melihat Kinan hampir jatuh.


Haapp.


Ada sebuah tangan kekar, menahan tubuh Kinan, agar tak terjatuh.


"Mbak gak papa?" tanya seorang pria.


"Saya tidak apa-apa, terima kasih sebelumnya. Sudah menolong saya, kalau tidak ada Mas, mungkin saya ..." Saat Kinan bicara, lalu di potong dengan suara laki-laki di hadapannya.


"Kinanti ?" tanya laki-laki itu.


Kinan pun langsung menoleh ke suara seseorang di hadapannya


.


"Farid ..." Kinan juga mengenal pria di hadapannya, yang di mana ia adalah teman sekolah di SMA.


Mereka pun tersenyum saat keduanya saling mengenal. Farid membawa Kinan duduk di kursi, yang di mana pegawai toko, meminjamkan kursi untuk Kinan duduk.


"Kinan kamu baik-baik aja?" tanya Farid.


"Alhamdulillah aku baik, meskipun aku masih syok. Terkejut aku hampir jatuh, karena tumpahan air di lantai,"


"Minum dulu ya! Ini minuman untuk kamu, masih baru kok, aku baru beli tadi." Sambil memberikan botol minuman.


"Terima kasih." Kinan mengambil botol minuman itu dari Farid, lalu meminumnya.


Joddy yang berjalan, menghampiri istrinya. Terkejut melihat Kinan bersama dengan seorang pria dan terlihat begitu dekat.


"Ada yang sakit gak? Kalau ada biar aku antar ke dokter!"


"Alhamdulillah gak ada Farid, terima kasih," jawab Kinan, entah kenapa hatinya berdebar saat melihat teman sekolahnya kembali.


"Kamu sendirian, atau dengan suami kamu?" tanya Farid, yang memang melihat Kinan sedang hamil besar.

__ADS_1


"Iya aku dengan ...."


"Suaminya," suara pria di belakang Farid menjawab. Saat di lihat ternyata Joddy yang memotong pembicaraan Kinan.


"Oooh ... silahkan." Farid pun bergeser dan memberikan ruang untuk Joddy.


"Sayang, kamu gak papa?" tanya Joddy dengan khawatir, dan Kinan hanya mengangguk.


"Ada yang sakit gak? Kita ke rumah sakit ya, agar kamu di periksa!" ajak Joddy, namun Kinan hanya menggelengkan kepalanya.


Joddy pun pasrah dengan diam nya Kinan, ia pun berdiri dan menatap ke arah Farid dan tersenyum.


"Terima kasih ya! Kamu sudah menyelamatkan istri saya. Kalau gak ada kamu, enggak kebayang dia sekarang." Kata Joddy mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Farid pun menyambut uluran tangan Joddy dan mereka bersalaman.


"Sama-sama. Itu hanya kebetulan saja saya lewat tadi, saya juga gak tau kalau itu Kinan."


"Jadi kamu mengenal Kinan istri saya?" tanya Joddy dengan tatapan menyelidik.


"Iya kami pernah satu sekolah dan berteman baik saat SMA." Jelas Farid, Joddy pun mengangguk.


Farid melihat pesan masuk di handphonenya.


"Kinan, aku boleh minta nomor telpon kamu gak? Soalnya aku juga lagi janjian dengan Inggit da teman-teman yang lain. Nanti nomor kamu aku kasih ke Inggit untuk di masukkan ke grup Sekolah kita,"


"Yasudah, sini handphone kamu. Biar aku tulis nomorku." Kinan mengetik nomor telponnya, lalu di berikan kembali ke Farid.


"Memang kalian lagi kumpul di sini?" tanya Kinan.


"Iya, Inggit kan menikah dengan orang Tangerang, dan dia mengajak ketemuan dengan teman-teman yang lain,"


"Oooh begitu. Yasudah sampaikan salam ku untuk teman-teman. Aku tunggu loh, nomor ku di masukan di grup. Soalnya nomor lama ku sudah ko'it ( mati )." Jawab Kinan dengan terkekeh, dan Farid pun tersenyum mendengarnya.


Disini Joddy hanya jadi penonton di tengah-tengah mereka. Ada rasa panas, saat melihat kedekatan istrinya dengan Farid.


"Oh iya Kinan, dan Mas Joddy. Kalau begitu saya harus pamit, gak enak teman-teman sudah menunggu di atas," pamit Farid.


"Iya. Terima kasih sekali lagi, sudah menolong istri saya!" jawab Joddy sengaja menekankan kata istri di depan Farid.


Farid pun mengangguk lalu tersenyum.


"Iya sama-sama Mas Joddy. Kinan aku duluan ya?"


"Iya Farid, terima kasih sekali lagi. Titip salam ke Inggit ya!"

__ADS_1


"Siap Kinan." Farid mengacungkan jari jempolnya.


Farid pun meninggalkan sahabat dan suaminya. Sebenarnya ada kekecewaan saat melihat Kinan sudah menjadi istri orang lain. Namun ia mengalihkan pikiran itu, karena dia tau gadis itu sudah ada yang punya.


Kini Joddy dan Kinan sudah berada di dalam mobil. Tidak ada suara di antara mereka saling berbincang, yang terdengar hanya bunyi deru mesin kendaraan.


Joddy mencoba menyentuh tangan istrinya, namun Kinan menjauhi tangannya dari suaminya. Bahkan pandangannya hanya memperhatikan jalan di luar, yang sedang di guyur hujan.


"Sayang," panggil Joddy dengan nada lembut.


"Perhatikan jalan aja!" jawab Kinan dengan ketus.


Joddy pun pasrah, tak membalas apa yang istrinya katakan. Jujur saja, kalau di jalan seperti ini, ia butuh teman untuk mengobrol, agar rasa jenuhnya hilang. Tapi saat ini, Kinan sedang merajuk, ia tak bisa berbuat apa-apa.


Kini mereka sudah sampai di rumah, saat Joddy ingin menahan istrinya untuk bicara sebentar. Justru Kinan sudah lebih dulu keluar dari mobil, dan segera masuk ke dalam rumah.


"Sayang, aku bisa jelaskan ke kamu. Jangan marah terus dong, aku gak mau kamu dan anak kita kenapa-kenapa!" Joddy menyentuh tangan istrinya.


"Kamu hampir terjatuh tadi aja, aku takut banget. Untung saja ada teman kamu yang menahannya, jadi kamu selamat. Please jangan marah, aku bisa jelaskan ke kamu!"


Tak ada jawaban dari Kinan, lalu Joddy membawa istrinya untuk duduk, dan bisa menjelaskan dengan tenang.


Joddy masih menatap wajah istrinya, yang tak menatapnya. Namun tangannya tak ia lepaskan dari genggamannya.


"Sekarang kamu katakan siapa dia! Sampai-sampai kamu melotot saat melihatnya, padahal ada aku di dekat kamu!" desak Kinan, namun terdengar suara getaran saat bicara.


"Astaghfirullah. Enggak kaya gitu sayang, aku hanya terkejut dengan adanya dia. Aku mikirin perasaan kamu, takut kamu salah paham. Ternyata benar tebakkan aku,"


"Terus kenapa kamu ngajak aku ke sana? Agar kamu bisa mengingat kembali momen bersama mantan-mantan kamu! Apa begini ya rasanya, menikah dengan pria yang memiliki mantan pacarnya banyak!" sindir Kinan.


"Ya Allah sayang. Kamu kok mikir nya begitu. Aku gak berpikir ke situ loh," Joddy menjawab masih dengan nada lembutnya.


Ia tau kalau saat ini istrinya sedang cemburu, ia tak ingin terpancing emosinya. Karena dampaknya akan fatal pada kandungannya.


"Lihat aku sekarang!" pinta Joddy, karena saat ini Kinan masih menatapnya. "Sayang ...."


Kinan pun menoleh ke arah sang suami yang kini sedang tersenyum menatapnya. Joddy menghapus air mata sang istri, lalu di kecup bibirnya.


"Aku minta maaf, sudah membuat kamu sedih dan kesal dengan adanya Elsa. Tapi jujur aku mengajak kamu ke sana, bukan untuk mengingat tentang dia atau yang lain." Sambil mengecup tangan istrinya.


"Di masa lalu aku, memang mempunyai banyak pacar. Tetapi saat kenal kamu, dan menikah, hanya kamu wanita satu-satunya yang aku punya. Jadi aku minta kamu jangan punya pikiran buruk yang membuat kamu kesal sendiri nantinya!" pesan Joddy, membuat Kinan mengangguk.


Joddy segera membawa Kinan kedalam pelukannya. Benar-benar kejadian hari ini membuatnya sangat takut. Jika sampai istrinya kenapa-kenapa, karena kedatangan Elsa. Apalagi sampai terjatuh, dan terjadi sesuatu kepada wanita yang sangat ia cintai.


Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri, sampai hal yang buruk menimpa istri dan anak dalam kandungan.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2