Cinta Untuk Erina

Cinta Untuk Erina
Tiga orang tersangka


__ADS_3

Erina merasa bahagia memiliki suami yang sangat menyayangi putranya, meskipun Zio anak sambungnya, tapi kasih sayangnya begitu tulus.


Kini Ferdian, Erina sudah kembali dengan Zio yang berada di pangkuan ayahnya.


Ketika malam harinya, Erina dan Ferdian kini tidur dengan dua anak mereka. Pastinya Zio tak ingin jauh dari ayah, dan baby Yuna berada di samping ibunya.


Zio begitu pulas, tidur di samping ayahnya.


"Mas, sepertinya anakku begitu lengket dengan kamu,"


"Iya,dari tadi gak mau jauh dari aku. Padahal kamu ibunya, kenapa lengket nya ke aku?" sambil membelai kepala Zio.


"Sebenarnya Zio sejak bayi, begitu dekat dengan papah nya. Sedangkan usianya hampir satu tahun, Damar selalu sibuk, sedangkan neneknya tidak peduli. Jadi saat kenal kamu, dia nyaman dengan kamu, dan menganggap kamu seperti ayahnya," jelas Erina membuat raut wajah Ferdian berubah.


Ferdian merasa hatinya tak terima jika istrinya masih mengingat tentang mantan suaminya. Sedangkan Erina tak sadar, jika dirinya menceritakan tentang masa lalunya.


"Mas, aku ngantuk. Aku tidur dulu ya?"


"Heemmm ..." jawab Ferdian.


Erina pun langsung tertidur, sedangkan Ferdian masih merasa panas hatinya. Mendengar istrinya mengingat tentang Damar.


"Hufh... Damar, dari dulu sampai sekarang selalu aja dia jadi halangan untuk hubungan ku dengan Erina." Ucap Ferdian sambil menatap wajah cantik istrinya.


Mata Ferdian, terlihat segar. Ia belum bisa memejamkan matanya.


Ketika tengah malam, Ferdian berdiri di luar balkon kamarnya. Ia sedang sibuk menerima panggilan telpon dari sebrang. Erina yang terbangun, karena baby Yuna menangis minta ASI.


Setelah Yuna tertidur, Erina bangun dari tempat tidurnya, untuk mencari suaminya.


"Baik, saya minta kalian jangan lengah tetap jaga dia. Saya tidak ingin wanita itu kabur, dan besok saya akan datang untuk menemui dia,"


"Saya tidak ingin istri saya tau, untuk masalah ini, dalam waktu dekat. Jika sudah saatnya saya akan beri tau,"


Sedangkan tanpa Ferdian sadari, Erina mendengarkan percakapan dirinya dengan orang di sebrang sana.

__ADS_1


'Apa yang di maksud Mas Ferdi. Kenapa dia berbicara sembunyi-sembunyi, dan seperti merahasiakan sesuatu dariku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama ini?'


Erina masih mendengarkan pembicaraan suaminya, dan entah kenapa perasaannya menjadi tak enak. Sambil mengepalkan tangannya, dan memejamkan matanya.


Ferdian yang hendak masuk, langsung terkejut saat melihat istrinya berdiri di samping jendela kamar.


Ferdian pun tersenyum. "Sayang kamu kok di sini, kamu mencari aku ya? Yuk sekarang kita masuk!" sambil menyentuh pundak Erina.


Erina menjauhkan tangan suaminya dari pundaknya. Ferdian pun terkejut dengan sikap yang istrinya lakukan.


"Sayang kamu kenapa? Heemmm ..." tanya Ferdian.


"Apa yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya balik Erina dengan menatapnya penuh selidik.


"Apa yang kamu rahasiakan, sampai aku tidak boleh tau apa yang kamu lakukan? Apa kamu memiliki gadis lain di belakang aku selama ini?" pertanyaan Erina berhasil membuat Ferdian tercengang mendengarnya.


"Astaghfirullah. Erina kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu. Kamu tau hatiku hanya ada kamu, dan keluarga." Jawab Ferdian, menyentuh tangan istrinya.


"Tapi kamu harus jelaskan, siapa wanita yang kamu maksud tadi!" Nada bicara Erina, meninggi.


Ferdian tidak ingin terpancing emosi dengan sikap istrinya.


Tiba-tiba Erina merasa kepalanya terasa pusing, dan hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya. Ferdian yang melihatnya segera membantu istrinya untuk duduk di sofa, dan memberikannya minum.


Erina yang sedang tidak menggunakan hijab, rambutnya pun tertiup angin. Ferdian menyelipkan rambut indah istrinya ke belakang telinganya.


Erina masih enggan menatap suaminya, sedangkan Ferdian justru tersenyum melihat istrinya yang merajuk karena cemburu.


"Kepala kamu masih pusing?" tanya Ferdian, dan Erina hanya menggelengkan kepalanya saja.


"Mau istirahat? Yuk biar aku bantu untuk ketempat tidur!" Ferdian menyentuh tangan istrinya, namun justru Erina menghindar.


Ferdian menatap wajah istrinya, dan justru tersenyum. Erina yang merasa sedang di perhatikan, menjadi salah tingkah. Meskipun masih mode ngambeknya.


"Uuuuuhhh ... istri Ferdiansyah, kalau lagi merajuk dan cemburu seperti ini. Benar-benar membuat suamimu menjadi kalah dan menyerah." Dengan gemas, Ferdian menarik pipi Erina, lalu membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Iiihhh ... apaan sih Mas, jangan peluk begini sih! Udah tau aku lagi kesel sama kamu." Jawab Erina dengan menjauhkan diri dari suaminya.


"Ooh istriku lagi ngambek ya? Coba, Mas mau lihat, kalau istrinya mas Ferdian yang lemah lembut ini, ngambeknya bagaimana sih? Dari tadi yang aku lihat kamu sedang cemburu tuh!" goda Ferdi dengan senyumnya.


Ferdian masih menatap wajah istrinya yang masih menoleh ke arah lain.


" Huufh ..." Ferdian membuang nafasnya.


"Iya, Mas ngalah deh! Aku akan ceritakan siapa yang aku telpon tadi, dan perempuan yang ku maksud. Tapi aku minta ke kamu, jangan bilang kamu kasian kepadanya!" ucap Ferdian, dan Erina mengangguk.


"Kamu ingat, kejadian malam waktu aku telpon dan ingin pulang. Setelah itu kamu juga mendapatkan panggilan telpon dari seseorang, yang mengatakan kalau aku dan Joddy kecelakaan." Erina mengangguk.


"Orang itu tau kelemahan kamu, apalagi kondisi kamu yang sedang hamil besar. Dia sengaja menghubungi kamu, dan menyebabkan kamu harus melakukan operasi Caesar. Jika tidak baby Yuna kemungkinan tidak akan selamat,dan kemungkinan aku juga akan kehilangan kamu!" Cerita Ferdian, membuat Erina terkejut mendengarnya.


"Asal kamu tau, kalau dia juga dalang, mobil aku di sabotase. menyebabkan mobil ku, tiba-tiba mati mendadak, dan ban ku pecah. Rupanya itu suruhan seseorang untuk mencelakai kami. Dia menyuruh seseorang untuk membuat mesin mobil mati, dia juga yang menyuruh orang lain menyebarkan paku di jalan, sebelum kami lewati."


"Ya Allah Mas, aku tidak tau kejadian yang sudah terjadi,"


"Iya karena kamu tidak sadarkan diri, setelah operasi selesai. Aku hampir gila, aku tidak ingin kehilangan kamu, Rin,"


"Lalu siapa seseorang yang menjadi dalang dalam kejadian ini?" tanya Erina


Ferdian sejenak diam, menatap wajah istrinya.


"Mereka ada tiga orang. Mantan ibu mertua kamu, Melody, istri Damar, dan ...."


Ferdian berhenti tak ingin menyebutkan namanya, takut Istrinya sedih mendengarnya.


"Siapa Mas, satu lagi?" tanya Erina dengan mata yang sudah mengembun mendengar nama-nama orang yang sudah berniat jahat kepadanya.


"Qia adik kamu," jawab Ferdian dengan pelan.


Erina terkejut mendengar siapa yang ikut menjadi dalang, yang suaminya katakan. Air matanya pun tak henti-hentinya mengalir, dan itu membuat Ferdian segera memeluknya.


"Enggak, gak mungkin kalau Qia ikut dengan mereka! Huuuuuu .... aku gak nyangka, kalau adikku tega melakukan itu." Erina menangis di pelukan suaminya.

__ADS_1


Ferdian tak tega mendengar istrinya menangis seperti itu, hatinya pun ikut merasakan sakit.


Bersambung ....


__ADS_2