Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
Eps 10


__ADS_3

Tidak terasa malam pun tiba. Sunyi itu yang di rasakan seorang gadis yang masih setia melihat kearah jendela menatap bintang yang bertaburan di langit.


Mengingat pembicaraan tadi siang membuat Wiyah begitu pusing. Mengingat Apa yang di katakan ayah dan juga ibunya membuat pikirannya semakin bingung.


Pertanyaan selalu hadir di kepalanya dan juga hatinya membuat kepalanya dan juga dadanya begitu sakit berdenyut kencang seperti tertusuk ribuan belati. Rasa sakit, mungkin seperti Luka yang tidak terlihat. Jika saja dia berani bertanya mungkin dia akan pergi untuk bertanya kenapa kedua orangtuanya memilih untuk berpisah. Apakah mereka memiliki masalah. Tapi keluarganya bahagia, tidak pernah mendengar keributan atau pertengkaran selain Kemarin malam. Apakah Ada yang mereka sembunyikan. Pikiran itu selalu hadir dipikirannya Yang membuat Wiyah berusaha untuk menerimanya. Tapi apakah bisa.


Tapi pikirannya dan juga hatinya menolak


untuk menerima kenyataan itu apakah dia harus ikut campur dalam urusan kedua orang tuanya atau tidak. Tapi itu tidak mungkin, Karena itu bukan urusanmu dan kamu tidak berhak untuk ikut campur. Itu urusan kedua orang tuanya. Anak tidak berhak untuk ikut campur dalam urusan itu biarlah mereka yang menyelesaikan masalah mereka dengan cara Mereka sendiri. Kami sebagai anak-anak akan selalu menerima keputusan kedua orang tuanya walaupun sakit.


Dalam hati kecilnya, Wiyah ingin menyalakan Takdir yang tertulis untuknya. Kenapa bisa kedua orang tuanya yang bahagia bisa bercerai." Ya Allah, kenapa harus keluargaku yang harus berpisah, apakah ini rencana, yang engkau tuliskan dikeluargaku yang ditakdirkan untuk berpisah." Batin Wiyah yang seperti menyalahkan takdir yang tertulis. Sampai Wiyah menyadari itu cepat cepat ia beristigfar karena menyalakan takdir yang tertulis untuknya.


" Astaghfirullahaladzim, Maafkan aku ya allah, yang telah menyalakan takdir yang engkau tuliskan untukku " Gumam Wiyah mengusap wajahnya kasar.


Berdiam dan menatap di luar jendela itu yang bisa dia lakukan sekarang. Jika saja dia bisa berteriak maka Wiyah akan berteriak menumpahkan semua kesedihannya yang ia rasakan sekarang. Menganggap alam juga akan merasakannya rasa sakitnya.


Tok..


Tok..


Tok.


Terdengar ketukan pintu" Dik apa abang boleh masuk." Tanya Jabir diseberang pintu.


" Iya, bang masuk saja pintunya ngga di kunci " Jawab Wiyah. Jabir yang mendengar jawaban dari dalam membuat Jabir melangkah masuk kedalam untuk menghampiri adiknya yang berdiri di depan jendela.


" Dik." Panggil Jabir yang sudah berdiri di samping Wiyah.


" Iya bang." Jawab Wiyah melihat kearah Jabir.


" Dik, apa kamu tidak merasa sedih dengan perpisahan ayah dan juga ibu." Tanya Jabir melihat kearah Wiyah

__ADS_1


Wiyah yang mendengar pertanyaan Jabir hanya bisa tersenyum. Jika saja Wiyah bisa cerita kalau ia jauh lebih sedih mendengar perpisahan kedua orang tuanya. Apalagi orang tua mereka berpisah Tampa ada alasan yang jelas perpisahan keduanya.


" Siapa yang tidak sedih bang, kalau orang tuanya berpisah." Jawab Wiyah." Apalagi perpisahan mereka Tanpa ada alasan dan juga penyebabnya." Ucap Wiyah kembali sambil menarik nafasnya memendam rasa sakit dihatinya, Agar orang tidak tau kalau dia memendam rasa sakitnya.


" Tapi kenapa kamu tidak menolak, jika ayah dan ibu bercerai." Tanya Jabir.


" Jika saja aku bisa menolak. Maka aki akan menolak. Tapi aku juga tidak bisa menolak keputusan ayah dan ibu untuk bercerai." Jawab Wiyah.


" Tapi dik kita bisa. Memberitahu ayah dan ibu kalau kita tidak setuju jika mereka berpisah mereka.'' Ucap Jabir membuat Wiyah Tersenyum miris.


" Apakah dengan kita menolak, maka kedua orang tua kita akan membatalkan keputusan mereka." Tanya Wiyah sambil menatap kearah Jabir." Mereka tidak akan, merubah keputusan mereka walaupun kita menolak, itu bang." Ucap Wiyah kembali. Jabir yang mendengar ucapan Wiyah membuatnya terdiam.


Apa yang di katakan Wiyah memang betul apakah dengan mereka menolak maka kedua orang tua mereka tidak akan berpisah Dan merubah keputusan yang mereka.


" Tapi kita bisa, memberitahukan mereka." Jawab Jabir, Wiyah hanya tersenyum melihat kearah Jabir.


" Abang apa abang tau masalah kedua orang tua kita." Bukannya menjawab Wiyah malah kembali pertanyaan.


" Tidak. abang tidak tau masalah ayah dan ibu. Karena yang abang tau ayah ibu tidak pernah memiliki masalah." Jawab Jabir.


Jabir yang mendengar ucapan Wiyah terdiam mencerna semua ucapan Wiyah. Ya jika Jabir bisa mengatakan apa yang di katakan Wiyah itu benar.


" Tapi kenapa harus memilih bercerai, dari pada menyelesaikan masalah mereka." Tanya Jabir.


" Sebagian orang memilih jalan perceraian itu jalan terbaik untuk menyelesaikan masala mereka. Seperti yang orang tua kita ambil. Mengambil jalan pintas dengan berpisah, dari pada menyelesaikan masalah mereka dengan cara baik. Mungkin keputusan mereka akan membuat sebagian orang tidak akan terima seperti kita, tapi menurut mereka itulah jalan terbaik jika ingin menyelesaikan masalah mereka, apalagi kita tidak tau apa saja masalah yang sedang mereka hadapi selama ini." Jawab Wiyah.


" Tapi tidak dengan perceraian."


" Kita tidak tau itu bang, karena kita belum pernah berada diposisi ayah dan juga ibu."


" Walaupun anak yang menjadi korban." Tanya Jabir

__ADS_1


" Kita tidak menjadi korban Karena kita hanya belum bisa menerima semua keputusan itu." Jawab Wiyah.


" Apa kamu tidak merasa menjadi korban dari keegoisan kedua orang tua kita yang mengambil keputusan, Kalau kamu tidak ikut salah satu dari mereka." Tanya Jabir menatap lekat lekat adiknya itu.


" Maksud abang." Tanya Wiyah yang pura pura bingung. Walaupun dia tau apa yang di maksud Jabir hanya saja Wiyah memiliki untuk diam daripada ikut campur.


" Ya Allah begitu polosnya adikku ini sampai dia tidak merasa kalau dia tidak di butuhkan dan di telantarkan oleh mereka, memilih tidak membawanya, menganggap dia adalah beban untuk mereka." *Batin Jabir.


" Aku tau bang, maksud dari perkataan mu, tapi untuk apa juga aku menolak, jika orang tua kita sendiri yang menolakku untuk ikut membawaku bersama mereka*" Batin Wiyah. Wiyah sadar penolakan halus dari kedua orang tua mereka tapi Wiyah tidak mau bertanya lagi.


" Dik." Panggil Jabir.


" Iya bang." Jawab Wiyah pandangan yang Masih mengarah kedepan.


" Kata ayah besok abang dan ayah akan pergi, di kota B." Ucap Jabir." Sedangkan ibu dan ke empat adik kita. Mereka akan pergi ke kota J." ucap Jabir kembali.


" Jadi, besok kalian akan pergi dan kita harus meninggalkan dari rumah ini." Tanya Wiyah yang seperti tidak mau meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan itu.


" Iya, Dik." Jawab Jabir." Apa adik sudah membersihkan barang barang adik." Tanya Jabir


" Udah semua, aku siapkan dari tadi siang." Jawab Wiyah.


" Kalau begitu adik tidur ini sudah malam karena besok adik akan pergi ikut bersama Abang Haidar." Ucap Jabir sambil mengacak rambut Wiyah.


" Iya bang." Jawab Wiyah.


Setelah itu Jabir melangkah keluar dari kamar Wiyah.


" Dek andai kamu tau, kenapa ayah berpisah dengan ibu, apakah kamu masih mau menerima keluarga ini." Batin Jabir yang sudah mengetahui alasan kedua orang tuanya berpisah karena Jambri sudah menceritakan semua alasnya. Jambri menceritakan alsan itu karena desakan dari Jabir.


Flashback off

__ADS_1


Bersambung


Maaf Terlalu Panjang


__ADS_2