
Wiyah yang melihat tiga bocah itu berpelukan dan saling memaafkan satu sama. Sama sama mengakui kesalahannya mereka hanya bisa tersenyum.
Karena sifat mereka terbilang masih anak anak tapi berpikiran mereka sudah dewasa. Karena jarang orang dewasa akan melakukan, yaitu mengatakan kejujuran. Tapi lihat tiga anak ini yang sama sama mengakui kesalahan yang mereka lakukan.
" Didikan mu tidak sia sia Kaka Idar. Lihatlah mereka. Semua itu berkat didikan mu yang membuat anak-anak mengakui kesalahan tanpa paksaan." Gumam Wiyah yang masih menatap ketiga anak itu yang masih dalam ke adaan berpelukan.
Wiyah mengingat bagaimana Haidar dan Windi selalu mendidik 2R dan juga Fanesya dengan cara mereka sendiri.
Bagaimana mereka mengajarkan 2R dan Fanesya berkata jujur tanpa harus menggunakan kekerasan yang membuat anak menjadi takut.
Haidar dan Windi selalu mengajarkan 2R dan Fanesya dengan kelembutan, Walaupun mereka melakukan kesalahan yang membuat amarah meningkat. Tapi Haidar dan Windi selalu berusaha mengontrol emosinya. Agar tidak berperilaku kasar terhadap anak anak yang nantinya akan membuat anak anak mereka meninggalkan sebuah ingatan yang buruk tentang kedua orang tuanya. Yang membuat mental akan menjadi trauma tersendiri.
Sedangkan Wiyah yang sudah lama tinggal di rumah ini juga merasakan seperti apa didikan yang mereka berikan ke dirinya. Yang selalu membuat dirinya banyak belajar banyak hal. Itu semua berkat Haidar dan Windi yang selalu membimbing nya.
Tidak berselang lama Wiyah menatap ketiga bocah itu sudah melepaskan pelukan mereka masing-masing, lalu Wiyah kembali melihat kearah ketiganya untuk menggeser tubuhnya mendekati mereka yang baru selesai berpelukan seperti Teletubbies.
" Fanesya, Rafa, Rafi." ketiganya langsung menatap kearah Wiyah.
" Iya Acil Wiyah." Jawab mereka bertiga secara bersamaan.
Wiyah tersenyum menatap tingkah ketiganya." Apa udah baikan." Mereka mengangguk.
" Fanesya ke sini." Wiyah menarik lembut tangan Fanesya agar mau berdiri kearahnya.
Lalu Wiyah memegang kedua pundak Wiyah. Sedangkan matanya menatap intens wajah Fanesya yang sebab karena baru selesai menangis.
" Maaf kan Fanesya Acil." Cicit Fanesya kembali. membuat Wiyah tersenyum.
" Tidak apa Fanesya, Fanesya juga tidak salah ke Acil. Tapi salahnya ke Bunda." Jawab Wiyah dengan tersenyum." Jadi Fanesya harus minta maaf ke Bunda, Terus ambil baju punya abang Rafa, yang tadi Fanesya sembunyikan." Ucap Wiyah sedikit mengingatkan Fanesya. Sedangkan Fanesya hanya mengangguk mendengar ucapan Wiyah.
__ADS_1
Wiyah melepaskan pegangannya dari pundak Fanesya, lalu menuntun Fanesya untuk melangkah masuk ke kamar yang di ikuti oleh Wiyah, Rafa, Rafi dan juga Fina, yang ikut melangkah masuk ke dalam kamar.
Sedangkan Windi yang sudah rapi dengan pakaian nya yang bersih dan tidak berantakan seperti tadi. Lalu Fanesya melangkah mendekati Windi.
" Bunda maafkan Fanesya." Cicit Fanesya sambil menundukkan kepalanya.
Fanesya yang melihat itu hanya tersenyum." tidak apa sayang." Jawab Windi." Jangan lakukan lagi kesalahan seperti tadi." Nasehat Windi mencoba mengingatkan Secara lembut agar anak nya mengerti.
Fanesya hanya mengangguk mendengar nasehat sang bunda." Iya bunda, Fanesya janji tidak akan melakukan hal seperti tadi." Jawab Fanesya. Windi yang mendengar hanya tersenyum sambil menatap kearah Fanesya
Windi tahu apa yang di lakukan putri kecilnya itu, karena saat mereka sedang berbincang bincang, Windi mendengar kejujuran Fanesya yang membuat Windi heran dengan tindakan Fanesya, yang belum genap lima tahun, tapi sudah memiliki sifat dewasa.
Sedangkan Fina yang melihat Windi tidak memarahi Fanesya hanya bisa menatap Windi.
Tidak habis pikir Fina, melihat Windi tidak memarahi atau mencubit Fanesya, Padahal Fanesya sudah melakukan kenakalan dan kesalahan.
Fina bingung dengan keluarga Wiyah yang super super sabar, kalau dia mungkin tidak akan seh sabar keluarga ini.
" Bunda maafkan Rafa karena sudah buat bunda kecapean dan udah nyusahin bunda." Ucap Rafa sambil menundukkan kepalanya.
" Rafi juga bunda, mau minta maaf ke Bunda karena udah nyusahin bunda." Sambung Rafi sama sama menundukkan kepalanya. karena merasa bersalah.
Windi tersenyum." Tidak apa anak anak Bunda. Bunda sudah maafin kalian berdua." Jawab Windi sambil mengusap kepala keduanya. karena Rafa dan Rafi sekarang berada di hadapan Windi." Tapi kalian harus berjanji untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang Rafa dan Rafi lakukan." Ucap Windi mengingatkan Rafa dan Rafi. Sedangkan 2R hanya mengangguk mengerti mendengar ucapan dari sang bunda.
" Kami janji bunda tidak mengulangi nya lagi." Ucap keduanya berjanji, membuat Windi tersenyum.
" Fanesya juga bunda, Fanesya janji tidak akan melakukan hal yang seperti tadi." Sambung Fanesya, membuat ketiganya tersenyum sambil melihat tingkah Fanesya yang begitu sangat mengemaskan.
" Tapi jangan cuman kata janji yang di ucapkan, kalian harus menepati nya. Jika sudah berjanji, kalian tidak boleh melanggar perjanjian itu, karena janji adalah hutang." Nasehat Wiyah.
__ADS_1
" Jika kalian bertiga sedang ribut jangan seperti tadi, berusahalah untuk mencari cara agar kalian bisa menyelesaikan maslah kalian sendiri tanpa harus bertengkar seperti tadi. Apalagi Rafa dan Rafi Abang." Sambung Windi membuat mereka mengangguk.
" Jika kalian sudah terlanjur marah dan terbawa emosi jangan deluan marah. tapi berusaha untuk istighfar dan mengendalikan amara kalian dengan mencoba untuk tenang." Sambung Wiyah lagi membuat ketiganya hanya mengangguk seperti mengerti, padahal banyak pertanyaan di benak mereka sendiri yang ingin di tanyakan.
" Apa kalian sudah mengerti." Tanya Wiyah kembali dengan lembut. membuat ketiganya mengangguk.
" Iya Acil kami mengerti." Jawab ketiganya.
" Dan satu lagi yang acil ingin ucap untuk kalian bertiga." Ucapan Wiyah sedikit berhenti." Kalau 2R dan Fanesya, ngga mendengarkan ucapan dari bunda atau ayah nanti jika di suruh atau satu dari anak anak acil yang bertengkar. Maka acil akan marah dan ngga mau sayang lagi sama anak anak acil karena usil." Ucap Wiyah dengan lembut walaupun sedikit ancaman di dalam nada bicaranya yang membuat ketiganya menggeleng.
" Tidak Acil kami tidak akan melakukan hal seperti tadi." Ucap ketiganya dengan bersamaan.
Windi yang mendengar Ucapan dari Wiyah hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah anaknya yang begitu dekat dengan Wiyah.
Lihatlah baru saja Wiyah mengatakan itu, sudah membuat Ketiganya sedih, apalagi jika Wiyah melakukan yang sebenarnya, mungkin anak anak nya akan berhenti makan dan berusaha membujuk acil tercinta nya itu agar tidak marah lagi ke mereka.
Kalau di bilang perkataan Wiyah tadi adalah obat untuk menjinakkan anak anak yang usil seperti ketiga nya.
Saat mereka sedang asyik bercerita di dalam kamar. Tanpa mereka sadari, ternyata Haidar sudah pulang.
Dan dari tadi menggedor gedor pintu, Tapi tidak ada yang menjawab karena mereka sedang asik dengan perbincangan mereka di dalam kamar.
" Kemana sih para manusia ini kenapa tidak ada yang membukakan pintu." Gerutu Haidar kesal yang berada di luar, Sambil memegang dua belanjaan pesanan 2R.
Bersambung.
Yang mau mampir silahkan.karya terbaru author.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, dan vote nya supaya author makin semangat buat nulisnya