
Tidak beberapa lama Wiyah sudah sampai di tempat kerjanya. Wiyah bisa melihat kalau di situ sudah ada teman satu tempat kerjanya dan juga anak anak yang akan di titip, semua asik dengan kegiatan mereka masing masing.
Anak anak yang sedang asyik bermain, Sedangkan para guru sedang asyik berbincang-bincang seperti biasa mereka akan menunggu sambil sedikit berbincang bincang agar mereka tidak bosan menunggu anak anak yang belum berdatangan.
Wiyah masuk menyapa mereka yang sedang asyik duduk di luar sambil membincangkan sesuatu yang menurut mereka itu penting.
" Assalamualaikum, bunda." Sapa Wiyah dengan senyumannya. Wiyah menyapa semua teman satu tempat kerjanya dengan panggilan bunda karena semua anak anak di penitipan itu memanggil mereka dengan sebutan bunda. Wiyah yang menyapa mereka tidak luput dari senyum manisnya.
" Waalaikumsalam." Jawab mereka semua melihat kearah Wiyah sambil membalas senyuman darinya
Wiyah yang baru masuk, langsung di sambut oleh anak anak penitipan." Bunda" Teriak anak anak penitipan di saat melihat Wiyah yang baru masuk, mereka semua berlari ingin memeluk Wiyah tapi di cegah oleh Wiyah karena bajunya yang sedikit basah dan juga kotor.
" Stop." Pekik Wiyah mencegah anak anak itu.
Anak anak itu berarti." Kenapa bunda." Tanya anak perempuan yang berusia empat tahun.
" Karena baju bunda lagi kotor sayang." Jawab Wiyah lembut dengan senyuman yang tidak luput dari bibirnya, Wiyah berjongkok menyamakan tingginya dengan anak anak itu.
" Tapi kenapa bunda, kami kan hanya mau peluk." Tanya anak Laki yang berusia tiga tahun.
" Karena baju bunda ada kumannya karena kotor." Jawab Wiyah sambil melihat ke arah bajunya." Kalau sampai bunda peluk kalian Tampa ganti baju, nanti kalian akan terkena penyakit karena bunda peluk kalian Tampa ganti baju dulu. Karena baju bunda yang kotor, jadi biarkan bunda ganti baju dulu baru kalian bisa peluk bunda sepuasnya." Jelas Wiyah menjelaskan dengan lembut agar anak anak mengerti maksud Wiyah.
" Tapi baju bunda ngga kotor." Ucap anak yang perempuan dengan wajah polosnya.
" Iya, bunda baju bunda bersih aja ngga kotor." Ucap anak yang satunya.
" Baju bunda kotor sayang." Jawab Wiyah." Coba Abang sama Ade lihat." Ucap Wiyah sambil menunjuk bajunya yang sedikit basah.
" Tapi itukan cuman basah bunda, ngga kotor, baju bunda bersih aja." Ucap anak yang berusia lima tahun
" Iya kelihatan bersih, tapi lihat yang basah ini yang kotor dan juga banyak kumannya karena air yang terkena bunda adalah air kotor, dan jika bunda memeluk kalian Tampa Menganti baju terlebih dahulu, nanti kalian akan terserang penyakit karena bunda memeluk kalian tampa Menganti baju dulu." Ucap wiyah dengan lembut berusaha untuk menjelaskan, karena anak anak seusianya mereka tidak luput dari pertanyaan yang membuat Wiyah harus siap menjawab dan juga menjelaskan dengan lembut agar mereka mengerti." Bunda tidak mau kalian semua sakit karena bunda." Ucap Wiyah dengan wajah yang sedikit di buat sedih.
" Bunda ngga usah sedih gitu." Ucap anak perempuan yang berusia dua tahun setengah sambil memegang dagu Wiyah.
" Iya bunda, bunda engga usah sedih kami engga akan memeluk bunda sebelum bunda Menganti baju dulu, dan juga sudah bersih dari kuman." Ucap anak anak serempak.
" Kami juga tidak mau sakit bunda." Ucap anak yang satunya yang terkenal cerewet.
" Ya sudah kalau gitu bunda masuk dulu ya, bunda mau ganti baju dulu." Ijin Wiyah." ingat main nya jangan." Tanya Wiyah.
" Bertengkar dan juga harus bermain dengan baik tidak boleh bermain yang bisa membahayakan." Ucap anak anak itu semua.
" Dan juga tidak menggangu temannya." Ucap Wiyah mencolek hidung anak laki laki yang berumur enam tahun, yang terkenal bar bar jika sedang bermain.
__ADS_1
" Apa anak anak bunda mengerti." Tanya Wiyah lembut sambil tersenyum.
" Iya bunda." Jawab mereka semua.
" Kalau gitu bunda masuk ke dalam dulu ya, kalian lanjut mainnya ya." Wiyah berdiri dari duduknya.
" Siap bunda." Ucap mereka semua sambil mengangkat tangannya seperti orang sedang memberi hormat. kemudian anak anak kembali bermain seperti biasa setelah mendengar jawaban dari Wiyah.
" Bun, aku masuk dulu ya." Ijin Wiyah kembali. Sedangkan teman satu kerajaan hanya memberikan jempol tanda mengijinkan.
Wiyah masuk kedalam meninggalkan anak anak yang sedang bermain dan juga para bunda yang masih menunggu anak yang belum berdatangan,
Tanpa Wiyah ketahui apa yang Wiyah lakukan dari tadi tidak luput dari tatapan seseorang yang menatapnya kagum walaupun menatapnya dari mobil dan dari arah yang sedikit jauh tapi melihat perilaku Wiyah yang begitu lembut terhadap anak-anak hal itu semakin membuat Fadil semakin jatuh hati kepada gadis yang baru sekali di temui nya dan itu juga Tampa sengaja.
Fadil semakin kagum kepada Wiyah, apalagi di. melihat dia bersama anak-anak yang terlihat lembut jika sedang berbicara dengan anak kecil. Walaupun Fadil tidak mendengarkan apa yang di ucapkan Wiyah, tapi melihat ekspresi wajah dan juga senyumannya yang membuat Fadil yakin kalau Wiyah sedang menjelaskan sesuatu kepada anak anak kecil itu, melihat Wiyah bersama anak-anak entah mengapa semakin membuat Fadil jatuh hati kepada gadis itu.
Apalagi Fadil belum pernah berpacaran atau jatuh cinta kepada gadis manapun, karena merasa belum ada yang cocok dengan nya.
Tapi saat melihat Wiyah untuk pertama kalinya Fadil langsung merasakan yang namanya jatuh cinta karena pandangan pertama.
Kagum menjadi cinta itu yang Fadil rasakan sekarang.
Fadil terus memperhatikan Wiyah sampai wiyah masuk kedalam rumah sedangkan anak-anak tadi yang bersama dengan Wiyah kembali bermain.
Fadil terus berdiam memperhatikan tempat itu, Fadil merasa enggan untuk pergi meninggalkan tempat kerja Wiyah. Rasanya dia ingin melihat Wiyah kembali ke keluar dan memperlihatkan senyumnya yang tadi di lihat du saat bersama dengan anak kecil.
" Astaghfirullahaladzim, sampai lupa tujuanku yang sebenarnya." Gumam Fadil memukul Pelan jidatnya karena telah melupakan sesuatu hal yang penting.
Fadil kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata karena dia berpikir, walaupun dia melajukan mobilnya untuk apa juga, orang dia juga sudah telat dari setengah jama yang lalu.
Hampir dua puluh menit Fadil menjalankan mobilnya dan akhirnya dia sampai di kantor Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran Fadil melangkah masuk melewati scurity yang menyambut nya Ramah. Fadil membalas dengan senyumannya. Senyuman yang memang tidak pernah hilang dari bibirnya.
Fadil melangkah melewati para karyawan dan karyawati yang menyapanya sedangkan Fadil membalas dengan senyuman.
Fadil melangkah masuk ke dalam Pitu lift yang sudah terbuka memencet nomor yang paling atas karena di gedung paling atas adalah tempat di mana ruang kerja Fadil dan Abang nya Fazar.
Sesampainya diatas, Fadil melangkah menuju ruangannya, tapi saat membuka pintunya ruangan kerjanya dia sudah di kejutkan oleh kehadiran Abang nya. Muhammad Yusuf Al Fazar yang sedang duduk di kursi kerjanya sambil melihat ke Fadil yang baru masuk kedalam.
" Kenapa baru sampai." Tanya Fazar menatap adiknya itu." Bukannya aku memberikan waktu tiga puluh menit, Agar kamu sudah harus sampai di kantor." Tanya Fazar kembali dengan suara dingin dan nada yang tegas.
" Hehe, maaf bang soalnya tadi ada urusan penting di jalan." Jawab Fadil sambil terkekeh kecil.
" Ada urusan apa." Tanya Fazar." Apa itu lebih penting dari urusan kantor." Tanya Fazar kembali sambil menyelidik.
__ADS_1
" Ya, kalau yang Abang Ucapkan itu ada benarnya dan juga ada salahnya."
" Maksudnya." Tanya Fazar yang mulai bingung.
" Ya soal kantor itu yang utama bang tapi ini jauh lebih utama, karena menyangkut masa depan." Jawab Fadil mendekati Fazar dan langsung memeluknya.
" Apa abang tau.." Ucap Fadil di potong Fazar.
" Abang ngga tau." Sambung Fazar, yang memang tidak tahu apa apa.
" Abang Fadil belum selesai." Rengek Fadil bagikan anak kecil melepaskan pelukannya dan langsung berdiri dan menghadap jendela yang memperlihatkan keindahan kota S jika di lihat dari atas gedung dari ruangan Fadil.
" Lanjut" Suruh Fazar, Fadil menghadap Fazar memperlihatkan senyum yang begitu manis menandakan kalau hati Fadil sedang berbunga bunga.
" Apa Abang tau, berkat Abang memberikan waktu kepada aku tadi." Tanya Fadil, di balas anggukan dari Fazar, Fadil kembali menghadap ke luar jendela.
" berkat Abang aku telah menemukan bidadari surga yang di kirim oleh Allah tampa sengaja aku temui di jalan." Ucap Fadil mendekati jendela." Abang, apa abang tau, aku belum pernah merasakan jatuh cinta saat aku bertemu bermacam macam gadis yang pernah aku temui, tapi saat aku melihat gadis itu, walaupun baru sekali dan itu juga Tanpa sengaja. Entah mengapa aku merasa kagum dan tertarik saat melihatnya. Apalagi saat aku melihat sifatnya yang menyayangi anak-anak yang membuat filing dan hatiku mengatakan kalau dia gadis yang baik dan sempurna untuk menjadi ibu dari anak-anakku nanti." Ucap Fadil yang mulai membayangkan masa depannya. Senyumannya yang begitu tergambar kalau Fadil memang sedang jatuh cinta.
Fazar yang mendengar penjelasan dari Fadil berdiri dari kursinya melangkah mendekati Fadil
" Dil." Panggil Fazar sambil memegang pundak Fadil. Fadil yang merasakan pundaknya di pegang membalikkan badannya menghadap Fazar.
Saat menghadap Fazar bukanya mendapatkan apa gitu, Fadil malah mendapatkan sebuah sentilan di dahinya.
" Awww, sakit bang." Pekik Fadil memegang keningnya yang sakit akibat terkena sentilan dari Fazar.
" Jangan terlalu bermimpi." Ucap Fazar memperingati Fadil." Apa lagi kamu baru sekali, bertemu dengan gadis itu dan kamu belum mengenal semua sifat dari gadis itu. Abang saja yang sudah mengenal lama dengan wanita penghianat itu hampir bertahun-tahun dan sudah mengenal semua tentang sifatnya tetap mendapatkan penghianatan, apa lagi kamu Fadil baru sekali bertemu dengan gadis itu dan tentunya kamu tidak tahu seperti apa orangnya." Ucap Fazar membayangkan bagaimana sakitnya saat di khianati tiga tahun yang lalu." Dil, ingat jangan terlalu di bawah kemimpi." Fazar kembali memperingatkan Fadil kembali.
Fadil yang mendengar ucapan Fazar bukanya tidak mau menjawab, tapi dia tidak mau membuat Fazar semakin membenci wanita apalagi wanita yang mengunakan pakaian Sariy Hanya karena masa lalu Fazar tiga tahun yang lalu membuat dia begitu membenci wanita yang menurutnya sok alim dan juga sok suci. Karena Fazar merasa wanita yang merasa dirinya alim dan suci hanya menyembunyikan sifat asli mereka dengan menggunakan baju sariy.
Dan tampa sepengetahuan dari Fazar, Fadil sudah mengetahui yang sebenarnya karena Fadil telah menyelidiki semua kasus itu, tapi Fadil enggan untuk bercerita karena telah berjanji kepada seseorang. Fazar yang merasakan penghianatan itu tidak mengetahui apapun dan tidak tau cerita yang sebenarnya tentang masa lalunya.
" Bang ingat semua wanita itu tidak sama seperti yang Abang pikiran, Satu wanita yang pernah mengkhianati Abang tapi tidak semua wanita yang harus Abang benci dan menganggap mereka sama seperti wanita itu. Dan tidak sepantasnya Abang menghindari para wanita wanita yang mungkin jauh lebih baik dari dia." Ucap Fadil mengingatkan Abang nya itu.
" Iya dek Abang tau tidak semua wanita itu sama, tapi jika Abang melihat wanita lain berpenampilan sama seperti wanita itu, hal itulah yang membuat Abang membenci mereka dan menganggap mereka sama, tapi dalam hati Abang tidak merasa seperti itu" ucap Fazar melangkah mendekati sofa yang memang dekat dengan jendela, Fazar mendudukkan dirinya di atas sofa itu mengusap wajahnya dengan kasar. Entah mengapa di dalam hati Fazar selalu merasa benci setiap melihat wanita yang berpenampilan seperti dia. Fazar sudah berusaha melupakan kenangan buruk itu dengan pergi ke luar negeri selama tiga tahun tanpa pulang ke Indonesia hanya ingin menghapus ingatannya itu tapi apa yang Fazar lakukan malah tidak berhasil dia selalu terjebak dalam ingatannya sendiri karena berusaha untuk melupakan kenangan buruk itu.
Fadil mendekati Fazar." Karena Abang itu terlalu bucin dengan Seorang wanita." Canda Fadil. Membuat Fazar menatap Fadil dengan tatapan membunuh.
" Sekarang kita keluar. Karena hari kita ada meeting di kafe xxxx." Ucap Fadi yang mencairkan suasana yang sedikit tegang. Sedangkan Fazar hanya mengangguk. karena Fazar sudah tau maksud adiknya itu.
" Ini kantor bukan rumah, jadi jangan panggil aku Abang, panggil aku tuan." Perintah Fazar.
" Siap bang ET maksudnya tuan muda Muhammad Yusuf Al fazar." Canda Fadil sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Dan Fadil tertawa melupakan apa yang mereka bahas tadi. sedangkan Fazar hanya tersenyum kecil yang tidak akan terlihat.
bersambung