
Fazar berdiri di dekat jendela besar yang berada di ruangannya, yang bersebelahan dengan ruang kerja Fadil. Fazar menatap indahnya kota S saat menjelang sore seperti ini, walaupun kota S belum seramai kota J, Tapi kota S terlihat begitu asri karena banyak di tumbuhi permohonan, Sedangkan kendaraan juga tidak terlalu padat dan ramai seperti kota J.
Fazar menatap luar, menatap kota yang pernah dia tinggalkan selama tiga tahun terakhir, hanya karena penghianatan oleh orang yang paling dia cintai dan juga orang yang berjasa dalam kehidupannya selama bertahun-tahun.
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan pintu membuat Fazar memalingkan pandangannya melihat kearah pintu.
" Masuk." Perintahnya.
" Maaf tuan, ada fail yang harus di baca dan di Tandatangani." Ucap pria itu yang sudah masuk kedalam ruangan Fazar. Sedangkan Fazar hanya mengangguk. Melangkah menuju meja kerjanya.
" Zain, beritahukan ke Fadil untuk membawakan ku beberapa dokumen proyek yang berada di kota xxxx." Perintah Fazar yang tetap fokus pada dokumen yang sekarang sedang dia baca.
" Baik tuan." Jawab Zain tidak lain adalah sekertaris Fazar.
Zain melangkah keluar setelah mendengar perintah dari tuannya itu, melangkah menuju ruang Fadil.
Sedangkan di ruangan Fadil
Fadil begitu bahagia dan juga senang setelah dia mengetahui tentang semua informasi kehidupan Wiyah semua sudah dia ketahui oleh Fadil, termasuk perceraian kedua orang tua Wiyah yang membuat Fadil merasa iba kepada gadis yang baru di jumpai tadi pagi,
gadis yang berhasil mencuri hatinya padahal itu adalah pertemuan pertama mereka.
Setelah mendengar ucapan Fazar, Fadil menyuruh sekertaris nya untuk mencari tau semua tentang Wiyah. Fadil bukanya ragu kepada Wiyah. hanya saja Fadil ingin memastikan kalau gadis yang di temui nya tidak seperti ucapan Fazar.
Saat sudah mengetahui semua tentang Wiyah Fadil semakin yakin untuk mengenal Wiyah lebih jauh dari kata temen dan menjadikan bidadari dalam hatinya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pintu membuat Fadil tersadar dari lamunannya.
" Siapa sih yang menggangguku." Gerutu Fadil karena merasa kesal karena ada orang yang menggangu istirahat sorenya dan juga mengganggu membayangkan masa depannya.
" Masuk." Suruh Fadil sambil melihat kearah pintu.
Sekertaris Zain yang mendengar perintah dari dalam melangkah masuk untuk menjelaskan maksud kedatangannya ke ruangan Fadil.
" Biarkan saya yang menghantarkan nya." Ucap Fadil sedangkan sedangkan Zain hanya mengangguk membukukan tubuhnya setelah itu keluar dari ruangan Fadil.
Setelah sekertaris Zain keluar Fadil mengambil apa yang di perintahkan oleh Fazar. Keluar dari ruangannya melangkah kearah ruangan Fazar.
" Bang ini dokumen yang Abang butuhkan." Ucap Fadil yang asal masuk Tanpa mengetok pintu terlebih dahulu yang membuat Fazar melihat kearahnya.
" Apa kamu tidak bisa, mengetok pintunya dulu sebelum kamu masuk." Tanya Fazar yang menatap kearah Fadil." Saya juga sudah bilang sama kamu tadi untuk tidak panggil saya dengan sebutan Abang jika saya berada di dalam kantor." Ucap Fazar kembali sambil menatap Fadil dengan ekspresi dinginnya.
Fadil hanya tersenyum melihat kearah Abangnya itu." Maafkan saya tuan." Ucap Fadil melangkah mendekati tempat kerja Fazar.
" Bang sepertinya Abang banyak berubah selama tiga tahun ini." Batin Fadil melihat kearah Fazar yang banyak berubah selama tiga tahun berada di luar negeri.
__ADS_1
Fazar dan Fadil membahas tentang proyek yang berada di kota M, tentang apa yang harus di lakukan selanjutnya.
" Fadil, aku tidak akan pulang ke rumah hari ini." Ucap Fazar setelah mereka sudah menyelesaikan membahas tentang proyek mereka dan perkataan abangnya itu membuat Fadil mengerutkan keningnya bingung." Tapi kenapa tuan." Tanya Fadil dengan Wajah bingung nya.
" Aku akan beristirahat di hotel." Jawab Fazar sambil memakai jas yang tadi dia lepas.
" Apa tuan tidak ingin bertemu dengan bunda yang selama tiga tahun ini tuan tinggalkan.," Tanya Fadil hati hati karena dia tidak mau merusak suasana hati dari abangnya yang memeng sedang tidak bagus sore ini.
" Tidak." Jawab Fazar singkat setelah itu keluar dari kantor tampa mengucapkan apa-apa lagi.
" Sampai kapan Abang akan terus menyalakan bunda." Gumam Fadil sambil melihat kepergian Fazar yang keluar dari ruangannya sendiri.
Setelah melihat Fazar keluar, Fadil Juga ikut keluar dari ruangan Fazar karena ini sudah waktunya jam kantor pulang.
.............................
Di sisi lain Wiyah yang baru keluar dari kampusnya bersama dengan Fina berjalan menuju parkiran tempat di mana motor Fina di parkiran.
" Fin singgah di taman dulu ya, aku mau jalan jalan sebentar." Ajak Wiyah melihat ke arah Fina
" Oke." Jawab Fina." Tumben Wiy, Kamu yang ngajakin duluan bisanya aku yang ngajakin." Tanya Fina heran.
" Aku lagi mau jalan jalan saja." Jawab Wiyah" Emangnya aku ngga boleh duluan ngajakin kamu jalan jalan gitu." Tanya Wiyah.
" Ngga juga, cuman heran aja sama kamu, tumben saja mau ngajakin aku jalan, biasanya kan aku atau Salsa yang ajakin kamu gitu." Jawab Fina membuat Wiyah menanggapinya dengan tersenyum.
Sesampainya di parkiran Fina mengambil motornya.
" Wiy. Udah belum." Tanya Fina yang sudah duduk di atas motor yang sedang menunggu Wiyah apa sudah naik atau belum di atas motornya.
" Bismillahirrahmanirrahim.." Setelah membaca doa Fina sebelum berkendara setelah itu menjalankan motornya.
Sesampainya di taman.
Wiyah dan Fina berjalan jalan seperti yang wiyah inginkan. Sedangkan Fina hanya mengikuti kemana Wiyah melangkah seperti ekor karena Fina bingung apa yang harus dia lakukan.
" Fin, kita duduk di sana, aku udah capek dari tadi berkeliling." Ajak Wiyah menunjuk tempat duduk yang berdekatan dengan pohon dan bunga. Fina hanya mengangguk setuju mendengar ajakan Sahabatnya itu karena dia sendiri juga sudah merasa lelah dari tadi mengikuti Wiyah berkeliling.
" Wiyah aku cari air minum dulu ya, aku haus dari tadi berkeliling." Ijin Fina yang sudah sampai di tempat duduk yang di tunjuk oleh Wiyah tadi.
" Iya Fin." Jawab Wiyah." Sekalian aku mau nitip tahu gunting, jangan di kasih lombok." Ucap Wiyah sambil memberikan uang yang berjumlah lima puluh ribu ke Fina.
" Iya Wiyah, kalau minumnya apa." Tanya Fina kembali.
" Terserah kamu aja, asal yang bisa di minum dan juga halal." Jawab Wiyah sambil tersenyum.
" Kalau gitu kamu tunggu di sini, aku pergi dulu." Pamit Fina melangkah pergi meninggalkan Wiyah.
" Iya." Jawab Wiyah.
Fina meninggalkan Wiyah yang sedang duduk di kursi taman. Wiyah yang menetralkan pikirannya yang sedang di landa pertanyaan yang begitu banyak. Sedangkan tidak jauh dari Wiyah duduk seorang pria duduk sambil memandang indahnya taman yang pernah dia datangi tiga tahun yang lalu sebelum dia pergi keluar negeri.
Ya. Pria yang sedang duduk tidak jauh dari Wiyah tidak lain adalah Fazar. Mereka berdua duduk bersebelahan hanya saja di pisahkan oleh satu kursi taman dan juga pohon yang di samping kursi itu.
__ADS_1
Sama dengan Wiyah, Fazar datang ke taman hanya itu hanya ingin menetralkan perasaannya yang sedang merasa sakit, Walaupun dia sudah berusaha untuk melupakan perasaan itu atau benci yang terlalu mendalam selama bertahun-tahun lamanya.
Tiga tahun dia berusaha untuk melupakan penghianatan dengan pergi keluar negeri. Tapi selama di luar negeri Fazar bukannya melupakannya malahan dia terjebak dalam pikiran dan perasaannya sendiri entah apa yang terjadi dengan dirinya.
" Ya Allah aku sudah berusaha untuk melupakan semua kejadian itu, Tapi bukannya aku melupakan kejadian itu. aku malah terjebak di dalamnya. Semakin aku berusaha untuk melupakan, Semakin besar rasa benciku. Aku semakin membenci wanita yang seperti dia walaupun mereka berbeda dan hanya karena penampilan mereka hampir sama." Batin Fazar begitu frustasi. Fazar mengusap wajahnya kasar karena dia sudah begitu lama terjebak dalam ingatan masa lalunya.
Tidak lama suara azan magrib berkumandang menandakan waktu solat magrib telah tiba Fazar yang mendengar suara azan berkumandang berdiri dari duduknya.
Tidak jauh dari Fazar duduk.
Wiyah melakukan hal yang sama seperti Fazar. Berdiri dari duduknya karena melihat Fina yang baru kembali dari membeli makanan yang di pesan tadi.
" Maaf Wiyah aku lama, karena tadi aku harus antri dulu." Ucap Fina yang baru sampai sambil memberikan pesanan Wiyah.
" Iya Fin ngga apa-apa." Jawab wiyah dengan tersenyum." Kita solat magrib dulu Fin, baru itu kita pulang." Ajak Wiyah.
" Oke kalau gitu kita cari mesjid yang dekat di sini." Jawab Fina melihat kearah Wiyah yang hanya mengangguk menanggapinya.
Wiyah dan Fina melangkah menjauhi kursi taman menuju parkiran untuk mencari masjid.
Sama halnya yang dengan Fazar yang melangkah kearah Wiyah. Sedangkan Wiyah melangkah kearah Fazar. Keduanya sama asik dengan kegiatannya tanpa melihat kearah depan. Fazar yang sedang asik dengan ponselnya membuatnya tidak sengaja menabrak Wiyah yang sedang asyik bercerita dengan Fina karena tidak melihat kearah jalan yang mereka lewati.
Sedangkan Wiyah yang di tabrak oleh Fazar membuatnya kehilangan keseimbangan dan hal itu membuatnya hampir jatuh, Tapi dengan sigap Fazar menahan tubuh Wiyah agar Wiyah tidak jatuh. Tangan kekarnya melingkar di indah di pinggang Wiyah, Sedangkan tangan satunya memegang pundak Wiyah.
Wiyah yang yang tidak merasakan kalau dirinya tidak jadi jatuh membuka matanya karena tadi dia menutupnya karena takut kalau ia akan jatuh.
Tapi saat dia membuka matanya. Mata Wiyah bertemu dengan mata Fazar. Mata yang begitu indah, wajah yang tampan yang membuat kaum hawa akan jatuh cinta.
Tapi tidak dengan Wiyah, Jantungnya kini berdegup lebih kencang dari biasanya karena ini untuk yang kedua kalinya dia jatuh dalam pelukan seorang pria setelah tiga tahun yang lalu. Kalau wanita lain pasti merasa senang jika berada di posisi Wiyah sekarang. Tapi dengan Wiyah yang begitu malu karena dia jatuh ke dalam pelukan yang bukan mahram nya.
Bagaimana dengan Fazar yang melihat mata gadis yang berbeda di pelukannya itu cukup mengagumi kecantikan gadis itu yang terbilang alami.
Hampir lama Wiyah dan Fazar saling bertatapan sampai Wiyah menjauhkan dirinya dari pria itu.
" Maaf" Satu kata yang keluar dari bibir Wiyah karena dia begitu sangat malu berada didalam pelukan pria itu. Jika saja dia bisa bersembunyi maka dia akan menyembunyikan dirinya karena telah berani memegang pria yang bukan mahram nya, Walaupun itu tidak sengaja.
Fazar tidak menanggapi perkataan dari gadis yang berada di hadapannya. Fazar hanya berlalu pergi seperti angin. Fazar tidak merasakan apa-apa karena dia hanya menolong. Sedangkan Wiyah hanya diam karena jantungnya tidak berhenti berdetak kencang karena rasa gugup nya yang bercampur malu.
Fina yang menyaksikan adegan tadi hanya terdiam. Pasalnya Wiyah yang anti dengan pria dan selalu menghindar dari mereka karena itu bukan mahram nya kini harus jatuh kembali dalam pelukan seorang setelah tiga tahun yang lalu.
Fina yang berada di situ hanya bisa menyaksikannya sampai pria itu pergi. Setelah pria itu pergi Fina mendekati sahabatnya itu yang masih terdiam di tempatnya." Wiyah apa kamu ngga apa-apa." Tanya Fina memegang pundak Wiyah, Sedangkan Wiyah hanya mengangguk.
" Jika kamu tidak kenapa kenapa tapi kenapa kamu memegang dadamu." Tanya Fina khawatir.
" Ngga tau Fin, Setelah aku bertabrakan dengan pria tadi jantungku berdetak lebih kencang seperti mau lepas." Jawab Wiyah dengan Wajah polosnya sedangkan tangan nya masih memegang dadanya.
" Kamu sakit Wiyah, aku antarkan kamu di rumah sakit ya Wiyah." Ajak Fina khawatir membuat Wiyah menggeleng.
" Ngga usah Fin, Ngga apa-apa Fin mungkin Cuman kaget saja karena untuk kedua kalinya aku kaya tadi setelah tiga tahun yang lalu." Jawab Wiyah mengingat pertama kalinya dia jatuh ke dalam pelukan seorang pria seperti barusan.
" Mungkin yang kamu katakan itu ada benarnya, dulu juga kamu kaya gitu." Sambung Fina membenarkan." Tapi yang aku lihat pria tadi itu begitu sangat mirip dengan pria yang pernah kamu tabrak dulu Wiyah dan Pria itu juga dengan sigap nangkap kamu supaya ngga jatuh kaya tadi." Jelas Fina kembali sambil sambil mengingat ngingat momen seperti tadi.
" Ngga tau juga." Jawab Wiyah yang juga bingung dengan ucapan Fina.
__ADS_1
Wiyah dan Fina melanjutkan langkahnya yang tadi tertunda menuju parkiran.
bersambung