
Selesai sarapan pagi keluarga Haidar kembali ke kamar mereka masing masing untuk bersiap siap. seperti Rafa dan Rafi yang berangkat sekolah, Haidar berangkat ke kantor dan Wiyah akan pergi kuliah karena hari ini tidak akan kerja.
Wiyah yang sedang bersiap siap di dalam kamar, menyiapkan beberapa tugas yang dia kerjakan semalam akibat dosennya memberikan mereka tugas dadakan.
Sukur otak Wiyah yang memang pintar jadi Wiyah begitu sangat mudahnya mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen dadakan itu.
Tok.
Tok.
" Dek, apa Kakak boleh masuk." Tanya Windi di seberang pintu. sedangkan Wiyah yang mendengar ketukan pintu, melihat kearah pintu.
" Iya kak, masuk saja pintunya ngga di kunci." Jawab Wiyah. Wiyah mengambil laptop di atas meja belajarnya yang kecil.
Mungkin seperti itu ya.
Cklek.
Mendengar jawaban dari Wiyah, Windi masuk ke dalam kamar Wiyah.
" Dek sudah siap." Tanya Windi yang melihat ke arah Wiyah yang sedang membereskan barang-barang kedalam tas.
" Sudah kak Windi." Jawab Wiyah. Windi melangkah mendekati kasur lalu duduk di pinggiran kasur sambil menatap adiknya itu." Dek kesini sebentar." Panggil Windi sambil menepuk pinggiran kasur yang bersebelahan dengannya.
Wiyah yang mendengar panggilan Windi berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati Windi.
" Kenapa kak Windi." Tanya Wiyah yang sudah duduk di sebelah Windi.
" Kakak mau ngomong sama kamu." Jawab Windi.
__ADS_1
" Mau bicarakan apa kak." Tanya Wiyah kembali membuat Windi tersenyum." Kak Windi hanya ingin memberitahu kamu soal perkataan Fadil semalam." Ucap Windi. Membuat Wiyah mengerti apa yang ingin Windi bicarakan oleh Windi.
" Kakak hanya ingin membicarakan soal lamaran semalam yang membuat adiknya Kakak ini sampai kepikiran dan membuatnya melamun. Karena bingung mau menjawab apa dan memberikan keputusan yang tepat." Ucap Windi membuat Wiyah terkejut, Karena Wiyah tidak menyangka kalau Windi tahu kalau dia sedang bingung mau mengambil jawaban apa dan keputusan yang tepat.
" Ngga usah kaget kenapa kak Windi bisa tahu.'' Ucap Windi yang seperti tahu di dalam pikiran Wiyah sekarang." Kamu bisa cerita sama kakak dari pada kamu bingung sendiri. Mungkin kakak bisa membantu untuk mendapatkan solusi yang tepat untuk kamu." Saran Windi membuat Wiyah menatap kearah Windi, memikirkan apa yang dikatakan Windi itu ada benarnya. Mungkin dengan ia bercerita bisa mengurangi beban pikirannya sekarang.
" Sebenarnya aku bingung kak Windi." Ucap Wiyah yang mulai memberanikan diri untuk bercerita ke Windi.'' Aku bingung mau menjawab apa sama kak Fadil dan aku juga pusing mau mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tidak akan membuat kak Fadil sampai sedih."
" Aku takut, saat aku menolak kak Fadil. Kak Fadil nanti akan membuatnya marah yang membuat Kak Fadil kecewa sama aku karena sudah telah menolaknya kak. Tapi jika Wiyah menerima Kaka Fadil, Wiyah ngga bisa soalnya wiyah ngga memiliki perasaan ke kak Fadil.
Wiyah hanya menganggap kak Fadil seperti teman dan tidak lebih dari itu." Jelas Wiyah memberitahukan perasaan yang sekarang ia rasakan. Windi yang mendengar penjelasan dari Wiyah membuat Windi hanya mengangguk mengerti apa yang Wiyah rasakan sekarang." Apa kak Windi punya solusi dalam masalah ini." Tanya Wiyah yang dari tadi diam berpikir untuk memberikan jawaban yang tepat untuk Fadil.
Windi tahu kebimbangan Wiyah. Apalagi mengambil keputusan yang tidak akan membuat orang sakit hati dan berakhir menjadi dendam. Apalagi Windi tahu kalau Wiyah yang belum pernah pacaran, pasti masalah hati seperti ini dia masih bingung untuk menyelesaikannya.
Karena adiknya yang satu ini belum pernah mengenal yang namanya cinta,
Jangankan cinta, berteman dengan pria saja dia takut, mungkin Fadil teman laki-laki pertama untuk Wiyah. Yang lain itu mungkin seperti, sepupu, anak keponakan, paman atau mungkin saudara sahabatnya yang Wiyah kenal selain itu tidak ada.
" Apa yang kak Windi ucapkan itu benar, seharusnya aku berkata jujur dari pada menggantung harapan Kak Fadil." Ucap Wiyah.
" Makasih Kak Windi sudah mau menjelaskan ke Wiyah. Membuat Wiyah sekarang mengerti berkat penjelasan dari Kak Windi. Insyaallah Wiyah akan memberitahukan itu ke kak Fadil apa keputusan yang Wiyah ambil." Ucap Wiyah. Membuat Windi tersenyum, Windi senang karena bisa mengurangi setengah beban dari pikiran Wiyah.
" Iya Sama sama dik." Jawab Windi." Lain kali jika ada masalah seperti ini jangan di pendam sendiri, Tapi bercerita lah ke orang orang yang bisa memberikan mu solusi seperti kak Windi atau kak Haidar. Jangan di pendam sendiri yang akan membuatmu pusing karena memikirkan solusi yang tepat untuk masalahmu." Nasehat Windi membuat Wiyah hanya mengangguk mengerti sambil tersenyum." Baik kak Windi." Jawab Wiyah lalu memeluk tubuh Windi. Pelukan yang langsung di sambut oleh Windi dengan pelukan hangatnya.
" Sekali lagi terimakasih kak Windi yang sudah maj mengerti aku padahal aku belum bercerita " Ucap Wiyah tulus didalam pelukan Windi.
" Iya sama sama Wiyah, itu sudah tugas Kak Windi sebagai seorang kakak yang harus menjaga, mendidik dan menasehati adiknya agar tidak terjerumus ke jalan yang salah." Jawab Windi sambil membalas memeluk dari Wiyah.
Ruangan itu menjadi ruangan yang sangat hangat karena kedua adik Kakak yang saling berpelukan mengutarakan bagaimana rasa sayang mereka satu sama lain.
Sedangkan diluar kamar, tepatnya di depan pintu kamar, Haidar mendengarkan apa saja yang di bicarakan oleh Windi dan Wiyah.
__ADS_1
Haidar yang mendengar semua obrolan mereka jadi ikut terharu.
" Makasih sayang telah membantu mendidik adikku, sampai dia bertumbuh menjadi gadis yang sangat lembut dan mudah mengerti." Gumam Haidar sambil tersenyum yang membuatnya mengusap air matanya.
Bukan karena Haidar menangis karena kesedihan, hanya saja Haidar menangis karena haru.
🍂🍂🍂🍂
Sedangkan di sisi lain.
Pria paruh baya, yang sedang duduk di kursi tunggu bandara sambil membawa kopernya.
" Tempat yang selama tiga tahu yang lalu aku tinggalkan, kini membuatku kembali ke sini hanya karena ada alasan nya." Ucap pria baru paya itu sambil melihat ke sekeliling bandara." Aku akan kembali membawa luka lama yang akan sulit untuk di obati." Ucap pria baru baya itu kembali.
Pria paruh baya itu berdiri dari duduknya sambil menarik kopernya Melangkah keluar dari bandara.
.
.
Bersambung.
...Author mau kasih tau sama temen temen untuk bab kedepannya mungkin ngga akan nyambung 🤭 jadi mohon di maklumi....
...Ayo tebak siapa pria paruh baya itu 😁...
...aduh author malah main tebak tebakan, mohon di maafkan....
...Sebelum author kasih jawabannya tolong kasih link, komen dan vote nya. biar author kasih jawaban nya....
...Sekian terimakasih. Salam manis dari author 🤗😉...
__ADS_1