
Fazar membuka matanya, melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan waktu subuh akan segera tiba.
Fazar bangun dari tidurnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan juga mengambil air berwudhu untuk melaksanakan shalat subuh.
Setelah itu Fazar melaksanakan solat subuh, Tidak lupa Fazar akan mengaji untuk menenangkan hatinya dan pikiran yang sedang kacau dengan membaca Alquran hati Fazar agak tenang karena telah mencurahkan semua keluh kesah nya kepada sang pencipta.
Jam 07:00
Fazar sudah rapi dengan pakaian formal nya
bersiap siap untuk pergi ke kantor.
Walaupun dia bosnya tapi Fazar akan selalu datang cepat karena dia bisa meluangkan waktu dengan berkas berkas yang menumpuk.
Fazar keluar dari kamarnya. Fazar bisa melihat kalau sekertaris nya sudah berdiri menunggunya.
" Selamat pagi tuan." Sapa Zain.
" Pagi Zain." Jawab Fazar." Apa ada meeting hari ini." Tanya Fazar melihat ke arah Zain.
" Tidak tuan, tidak ada meeting hari ini." Jawab Zain.
" Pagi bang." Sala Fadil yang baru keluar dari kamar yang Zain tempati. Mendengar sapaan dari Fadil, Fazar hanya menangapi nya dengan berdehem karena fokus dengan ponselnya.
" Huu, sabar Fadil." Gumam Fadil sambil membuang nafasnya karena melihat kalau Abangnya itu tidak menghiraukannya. Fadil Kembali mengikuti langkah Fazar yang mengarah ke pintu lift.
Skip
Fazar dan Zain sudah sampai di kantor sedangkan Fadil entah kemana perginya hingga tidak bersamaan dengan mereka berdua padahal tadi mereka berangkat nya sama sama.
" Pagi pak." Sapa para karyawan, Tapi Fazar hanya diam tidak menjawab sapaan dari karyawan. Melangkah turus ke arah life.
" Berubah banget ya pak Fazar setelah putus dari tunangannya." Ucap karyawan A setelah melihat Fazar dan sekertaris nya memasuk ke dalam pintu lift.
" Iya berubah menjadi dingin, beda dengan yang dulu kalau di sapa pasti tersenyum." Jawab karyawan B.
" Sekarang berlalu pergi, Tanpa menjawab sapaan kita atau pun tersenyum." sambung karyawan A.
" Udah udah ngga usah ngomongin bos. Entar kalau ketahuan bisa di pecat kalian kalau kalian gibahin bos." Potong karyawan C yang tidak sengaja mendengar obrolan kedua karyawan yang sedang menggosipkan bos mereka
" Dari pada gibahin bos lebih baik kalian lanjut kerja sana." Ucap karyawan C menyuruh keduanya untuk kembali berkerja.
Kedua karyawan itu hanya mengangguk dan kembali berkerja dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Sedangkan di lantai atas tepatnya di ruangan Fazar.
Fazar yang baru saja masuk ke ruangan kerjanya. Duduk di kursi ke besarnya
yang sudah di hadapkan oleh tumpukan berkas berkas yang harus di baca dan di tandatangani.
__ADS_1
" Apa Fadil sudah datang." Tanya Fazar sambil membaca dokumen.
" Sepertinya belum tuan, karena saya belum melihat dia masuk ke ruangannya." Jawab Zain.
" Kemana sebenarnya Fadil, udah jam segini belum datang padahal tadi berangkat nya sama sama walaupun bukan satu mobil." Gumam Fazar tapi masih bisa di dengar oleh Zain.
" Zain telfon sekertaris Rido, tanyakan di mana Fadil sekarang." Suruh Fazar melihat ke arah Zain
" Baik tuan." Jawab Zain sambil mengambil ponselnya untuk menelfon Rido. Sedangkan Fazar kembali membaca dokumen.
" ini tuan." Zain menyerahkan ponselnya kepada Fazar.
" halo Tuan." Ucap Rido di seberang sana.
" Rido, apakah Fadil bersamamu." Tanya Fazar langsung ke intinya karena dia tidak mau banyak basa-basi.
" Tidak tuan, Fadil tidak bersama ku." Jawab Rido. Fazar yang mendengar jawaban dari Rido langsung mematikan ponsel yang berbeda di tangan nya tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
Fazar kembali memberikan ponsel Zain.
" Apa tuan Fadil bersama sekertaris Rido tuan." Tanya Zain mengambil ponselnya.
" Fadil tidak bersama dengan Rido." Jawab Fazar." Kemana kamu Fadil. Banyak dokumen yang harus di baca, kamu nya malah hilang." Gumam Fazar kesal sambil membaca beberapa dokumen.
Sedangkan Zain mengundurkan dirinya untuk keluar karena ada kerjaan yang harus dia lakukan, meninggalkan Fazar yang sedang bergulat dengan dokumen yang menumpuk di atas mejanya.
...----------------...
yang sedang menatap jalan. Menuggu kapan sang bidadari hati muncul dari jalan yang sering dia lewati.
Orang yang di tunggu Fadil yang tidak lain adalah Wiyah. Setelah mengetahui semua informasi tentang Wiyah, Fadil memutuskan untuk menunggu di jalan yang biasa di lewati oleh Wiyah. Walaupun baru kemarin bertemu tapi Fadil sudah menempatkan hatinya untuk Wiyah. Terkesan seperti cinta dalam pandangan pertama.
" Apa mungkin dia sudah di antar oleh Kaka nya." Gumam Fadil yang masih memerhatikan jalan yang kadang di lewati satu atau dua mobil atau para pejalan kaki yang melewati jalan itu.
Fadil kembali menyenderkan punggungnya di kursi mobil karena capek dari tadi menunggu sambil memperhatikan jalan.
" Apa mungkin dia sudah di antar oleh kakaknya." Gumam Fadil kembali." Tapi tidak mungkin aku sudah membuat Haidar turun lebih awal agar dia tidak bisa mengantarkan Wiyah untuk turun kerja karena Haidar sendiri turun lebih awal dari Wiyah." Gumam Fadil kembali sambil sesekali melihat ke arah jendela mobil untuk memastikan kalau orang yang dia tunggu sudah lewat.
Fadil sudah mengetahui siapa Kaka sepupu Wiyah yang tidak lain adalah Haidar. Haidar yang bekerja di kantor nya.
Setelah mengetahui kalau Kaka sepupu Wiyah kerja di kantor nya. Hal itu membuat Fadil untuk menyuruh Haidar untuk turun lebih awal dari biasanya. Gaji Haidar Juga dinaikkan agar Haidar turun lebih awal. Fadil Berfikir dengan menyuruh Haidar turun Pagi, Haidar tidak bisa akan mengantar Wiyah untuk turun kerja karena dia harus turun lebih awal dari biasanya. mungkin Wiyah akan turun kerja sambil berjalan kaki tanpa ada yang antar.
Tidak ingin menyia-nyiakan itu Fadil bersedia menunggu Wiyah di dalam mobil walaupun orang yang dia tunggu belum tentu melewati jalan tempat di mana Fadil menunggunya. Hanya karena ingin bisa melihat Wiyah dan mengenalnya lebih jauh membuat Fadil meninggalkan kerajaan nya yang super menumpuk dan mungkin jika dia ke kantor dia akan mendapatkan amukan dari Fazar karena meninggalkan nya dengan tumpukan berkas dan dokumen.
...----------------...
Sedangkan di sisi lain.
Gadis yang sudah rapi dengan baju syar'i bewarna navy dan juga jilbab yang senada
__ADS_1
membuat Gadis itu terlihat cantik. Gadis yang tidak lain adalah Wiyah semakin cantik apa lagi dengan makeup yang natural membuat Wiyah semakin kelihatan lebih cantik.
" Kakak." Panggil Wiyah setelah ke luar dari kamarnya. Wiyah mencari Windi yang entah kemana perginya.
" Iya dek." Jawab Windi yang baru masuk kedalam, Karena tadi dia keluar untuk mengantarkan Haidar dan juga 2R keluar.
" Dari mana kaka." Tanya Wiyah yang sedang memakai kaus kakinya
" Habis ngantar mas, sama 2R keluar tadi." Jawab Windi sedangkan Wiyah hanya mengangguk mengerti.
" Dek." Panggil Windi mendekati Wiyah.
" Iya kaka." Jawab Wiyah melihat ke arah Windi.
" Maaf, mas Haidar Ng bisa ngantar kamu dek." Ucap Windi yang sudah berdiri di samping Wiyah.
Wiyah tersenyum mendengar Ucapan dari sang Kaka." Ngga apa-apa Kaka, Wiyah juga bisa jalan kaki." Jawab Wiyah tersenyum.
" Apa Kaka antar aja." Tanya Windi membuat Wiyah menggeleng.
" Ngga usah Kaka Wiyah bisa jalan kaki. Anggap aja Wiyah lagi olahraga jalan pagi." Jawab Wiyah. Sedangkan Windi hanya tersenyum mendengar jawaban dari Wiyah.
" Apa ini kaka." Tanya Wiyah bingung melihat Windi mengeluarkan uang merah sebesar lima ratus ribu dari dompetnya.
" Uang jajan untuk adek, sekalian harga ongkos adek kalau adek mau pergi kuliah." Jawab Windi sambil mengulurkan uang sebesar lima puluh ribu.
" Ngga usah kaka Wiyah ada uang sendiri. Kemarin juga Kaka idar udah ngasih uang jajan ke Wiyah selama satu bulan. Kalau masalah ongkos Wiyah ngga perlu itu karena Wiyah pergi kuliah biasanya sama Fina jadi Wiyah ngga perlu naik taksi atau ojek karena Wiyah selalu barang Fina." Tolak Wiyah halus.
" Ambi aja dek, Anggap ini tambahan uang jajan yang di kasih sama mas Haidar." Paksa Windi.
" Tapi Kaka ini terlalu banyak." Wiyah masih menolak uang yang di berikan Windi.
" Ambil aja." Paksa Windi kembali sambil memberikan di tangan Wiyah.
Wiyah tidak bisa menolak lagi setelah uang berada di tangan nya." Ya udah deh Wiyah ambil " Ucap Wiyah pasrah, Walaupun dia menolak pun pasti tidak akan berhasil.
" Padahal Wiyah kerja. Tapi Kak Windi sama Kak Idar selalu aja kasih uang ke Wiyah, terus nanti gaji Wiyah untuk apa kalau enggak di pakai." Tanya Wiyah.
Walaupun Wiyah bekerja tapi dia tidak pernah menggunakan uang nya, Karena Haidar selalu melarang Wiyah untuk mengunakannya uang hasil dari kerjanya Karena setiap bulan Haidar akan memberikan uang jaja untuk Wiyah dan sedangkan gaji Wiyah akan di tabung.
Walaupun Wiyah selalu merasa menjadi beban untuk Haidar dan juga Windi, tapi tidak untuk Haidar dan Windi, mereka tidak menganggap Wiyah adalah beban untuk mereka.
Mereka merasa senang karena telah menjaga dan mendidik Wiyah agar menjadi wanita yang baik suatu saat nanti.
" Uang Wiyah di simpan aja untuk nanti kalau Wiyah lagi membutuhkannya." Jawab Windi." Anggap aja Wiyah lagi nabung." Ucap Windi kembali sambil mengusap lembut kepala Wiyah yang tertutup oleh Hijab. Wiyah hanya mengangguk karena kalau pun di tolak itu tidak akan mungkin.
" Kalau gitu Wiyah kerja dulu ya Kaka assalamualaikum." Pamit Wiyah mencium tangan Windi.
" Waalaikumsalam, hati hati ya." Jawab Windi melihat Wiyah yang sudah pergi dan hilang dari pandangannya.
__ADS_1
bersambung
Maaf ya author belum bisa up untuk beberapa hari ini karena author lagi sakit.