Cinta Untuk Wisyah

Cinta Untuk Wisyah
eps 73


__ADS_3

Setiap kebenaran pasti sakit untuk di katakan.


Tapi berusahalah untuk berkata jujur walaupun akan ada hati yang akan terluka Karena kebenaran itu. Jujur sangat sakit tapi tapi berbohong jauh lebih sakti dari kebenaran sendiri ( Jambri )


Haidar Jambri begitu sangat terkejut melihat Wiyah yang sudah Berdiri dan bersandar Diding. Sedangkan pandangannya mengarah ke arah mereka. Perlahan lahan tubuh Wiyah Juga terduduk dan bersandar Diding.


Haidar yakin kalau Wiyah sudah mendengar apa yang Jambri ucapkan barusan. Karena Haidar bisa melihat dari barang belanjaan Wiyah yang terhambur di lantai menandakan kalau Wiyah pasti terkejut mendengar ucapan dari Jambri barusan.


Sedangkan Jambri yang melihat Putrinya yang berada tepat di depan Pintu cukup terkejut. Apakah perkataan nya tadi sudah di dengar oleh Wiyah. Jika itu benar Jambri begitu sangat bersalah karena dia belum mengatakan semua rahasianya tapi Wiyah sudah mendengarnya dan itu secara tidak sengaja.


Sama halnya dengan Jambri dan Haidar. Windi sama terkejutnya saat melihat ke arah luar, melihat Wiyah yang sudah terduduk di dekat pintu.


Padahal tadi Windi sedang mengantar air minum untuk Haidar Dan juga Jambri. Tapi Windi harus di kejutkan oleh Wiyah yang tiba-tiba menjatuhkan barang belanjaannya dan terduduk di lantai yang membuat Windi bingung. Apakah mungkin Wiyah begitu sangat terkejut melihat ayahnya yang sudah pulang atau ada hal yang lain.


Kedua pria itu langkah mendekati ke arah Wiyah yang terduduk di atas lantai teras.


Sama halnya dengan Windi yang melangkah ke arah ruang tamu lalu menyimpan Minuman yang dia bawa tadi di atas meja kecil.


Windi juga ikut melangkah mendekati Wiyah.


Jambri berjongkok ke hadapan Wiyah yang terdiam dengan pandangan kosong nya lurus ke depan." Sayang putri ayah." Panggil Jambri dengan suara lembutnya mengusap lembut kepala Nya itu dengan sangat lembut.


Jambri bisa melihat kalau putri kecilnya kini sudah berubah menjadi gadis yang cantik saat Jambri melihat Wiyah yang terdiam. apalagi Jambri begitu sangat merindukan putrinya itu yang selama tiga tahun iya tinggalkan.


Haidar Juga ikut berjongkok di samping Wiyah mengusap lembut kepala Wiyah yang tertutup oleh Hijab nya." Dek, ada apa dengan mu." Tanya Haidar sambil menepuk pelan pipi Wiyah, Tapi Wiyah masih saja terdiam tidak merespon sama sekali Panggilan Haidar.


" Dek apa yang terjadi dengan mu dek. Kenapa kamu diam kaya gini, Sadar dek. Jangan diam kaya gini." Panggil Windi yang mencoba menyadarkan Wiyah yang masih saja terdiam. Windi bingung apa yang terjadi kepada Wiyah sebenarnya, kenapa Wiyah mendadak terdiam seperti itu.


Sedangkan Wiyah yang di panggil sama sekali tidak merespon panggilan dari ketiganya, Karena Wiyah masih mengingat jelas apa yang Jambri katakan tadi, Ucapan Jambri begitu sangat membekas di ingatan Wiyah, yang membuat Wiyah terdiam memikirkan apakah perkataan dari ayahnya itu benar adanya atau tidak.


kalau sebenarnya dia bukan anak kandung paman yang sebenarnya.


Ucapan dari Jambri seakan sembuh kaset yang terpasang berulang ulang kali di pendengaran Wiyah dan ingatannya.

__ADS_1


Ya Allah jika itu benar itu artinya, karena dirinyalah orang tua mereka berpisah. Pikir Wiyah yang masih bingung mencoba mencerna ucapan Dari ayahnya.


Windi begitu sangat kasian melihat Adik iparnya yang hanya diam, tidak merespon apapun panggilan dari mereka padahal sekarang mereka sedang mengelilingi nya.


Windi melihat ke arah suaminya." Mas kalau Wiyah ngga merespon panggilan kita lebih baik mas gendong saja, Antar kedalam kamarnya." Saran Windi, karena Windi yang melihat Wiyah yang tidak merespon sama sekali Panggilan dari mereka. Sedangkan Haidar hanya mengangguk menyetujui saran dari Istrinya itu.


Haidar mulai mengendong tubuh Wiyah. mengangkatnya mengarah kearah kamar Wiyah. Windi yang berada di samping Haidar yang mengikuti langkah dari suaminya itu dengan sigap membukakan pintu kamar Wiyah agar suaminya itu tidak kesusahan untuk memasukkan Wiyah kedalam kamarnya.


Bagaimana dengan Jambri yang hanya diam melihat Haidar mengendong Putri nya itu tanpa melakukan apapun selain memandanginya. Jambri seperti tidak berguna karena hanya bisa melihat tanpa bisa membatu apapun.


Jambri merasa seperti ayah yang tidak becus menjaga putrinya. Dia seperti ayah yang begitu sangat kejam yang membiarkan putrinya terluka untuk yang kesekian kalinya. Luka yang susah untuk di sembuhkan.


Jambri sadar Wiyah bukanlah putri kandungnya tapi Wiyah sudah iya jaga seperti putri nya sendiri. Menjaganya menyayangi nya seperti anaknya sendiri walaupun dirinya sendiri tahu kalau Wiyah bukanlah anaknya.


Seharusnya tiga tahun yang lalu dirinya tidak memikirkan egonya, mungkin putri nya tidak akan terluka dan mereka tetap bersama. Tapi karena dirinya begitu sangat egois mementingkan dirinya sendiri membuat anak yang selama ini dia jaga hatinya harus terluka.


Jambri yang tadi terdiam kembali mengikuti langkah Dari Haidar dan Windi untuk masuk ke dalam kamar Wiyah.


Di dalam kamar Wiyah. Wiyah yang sudah di dudukan di atas kasur, Wiyah masih terdiam tanpa berbicara sama sekali, Wiyah seperti orang yang tidak bernyawa setelah mendengar apa yang Jambri katakan tadi. Wiyah begitu sangat syok mendengar apa yang Jambri katakan itu.


Haidar Melihat ke arah istrinya." Mungkin saat paman mengatakan sesuatu, Wiyah mendengar apa yang paman ucapkan tadi, Kalau Wiyah bukanlah anak dari paman." Jawab Jambri bukan Haidar yang sudah masuk di kamar Wiyah dan berdiri di samping Haidar.


Windi yang mendengar jawaban dari pamannya itu cukup terkejut, apalagi mendengar kalau Wiyah sudah mendengar semuanya. Yang artinya Wiyah sudah mengetahui apa yang ayahnya rahasiakan selama ini.


Sampai sampai Windi menutup mulutnya dengan kedua tangan nya karena begitu sangat kaget. Windi memutar pandangannya melihat kearah Wiyah yang masih saja terdiam.


Windi mengangkat tangannya untuk mengusap lembut kepala Wiyah yang masih terbungkus dengan hijabnya." Dek, jangan kaya gini, Sadar dek. Kakak tahu kamu begitu sangat terkejut mendengar Ucapan dari ayah mu, Tapi jangan menyakiti dirimu dengan cara terdiam." Ucap Windi yang berusaha menyadarkan Wiyah yang masih saja terdiam.


Wiyah yang mendengar ucapan dari Windi memang sudah sadar dari ke terdiam nya dari tadi, Hanya saja Wiyah begitu sangat sulit untuk membuka suaranya untuk mengatakan sesuatu yang membuat dia bisa berbicara. bibirnya seakan lumpuh untuk mengatakan sesuatu.


Wiyah melihat kearah Windi, dengan mata yang sudah berkaca-kaca membuat Wiyah ingin segera menangis melupakan rasa sakitnya dan rasa kecewa yang dirasakan sekarang." Kak Windi, Wiyah bukan anak ayah. Wiyah bukan anak ayah, Apakah kakak dengar apa yang ayah katakan Wiyah bukanlah anak ayah." Ucap Wiyah begitu sangat lirih yang membuat ketiganya yang mendengar ucapan dari Wiyah seakan tertusuk ribuan panah. Mereka tidak bisa melihat gadis yang selama tiga tahun tersakiti kini kembali tersakiti." Kak Windi. Pantas semala tiga tahun Wiyah menunggu ayah untuk pulang, ayah sama sekali tidak pulang, ternyata itu alasannya karena Wiyah bukanlah anak dari ayah." Lirih Wiyah dengan air mata yang sudah menetes membasahi pipinya." Wiyah bukanlah anak dari ayah. hiks...hiks.." Tangis Wiyah pecah membuat Windi dengan sigap membawa tubuh Wiyah di pelukannya.


" Jangan ngomong gitu dek. Wiyah adalah anak ayah. anak kesayangan ayah." Ucap Windi mencoba menenangkan Wiyah yang sedang menangis di pelukannya.

__ADS_1


Wiyah menggeleng di pelukan Windi." Tidak kak, Wiyah bukanlah anak ayah. Wiyah hanya anak, yang ayah jaga kak dengan keikhlasan hati untuk menyayangi Wiyah. Hiks... hiks... Tapi karena itu Wiyah juga yang membuat keluarga Wiyah berpisah. Itu semua karena Wiyah. Hiks... Hiks.." Tangis Wiyah semakin membuat ketiganya terluka. Wiyah terus menangis di dalam pelukan Windi.


" Wiyah jangan ngomong gitu. Wiyah tetap anak ayah dan Wiyah bukan penyebab perpisahan orang tua Wiyah." Ucap Haidar mencoba menenangkan tangisan Wiyah yang begitu sangat menyakiti hatinya sebagai seorang Kakak.


Jambri semakin merasa bersalah mendengar tangisan Wiyah. Jambri mencoba untuk mendekati Wiyah yang masih saja menangis. rasa bersalah Jambri semakin menjadi setelah mengetahui berapa terlukanya Wiyah saat mengetahui satu kebenaran kalau dia bukanlah anak dari Jambri. Tapi bagaimana jika Wiyah mengetahui kebenaran lainnya kalau dia adalah anak dari selingkuhan matan istrinya itu.


Mengetahui kalau ayahnya adalah penyebab kerekatan rumahtangga nya yang terjadi dua puluh tiga tahun yang lalu dan juga tiga tahun yang lalu. Jambri tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi ke Wiyah setelah mendengar kebenaran itu.


Haidar yang melihat kalau Jambri ingin mendekati Wiyah segera mencegah nya. Bukan karena Haidar melarang Jambri untuk mendekati putri nya, Hanya saja waktu nya yang tidak tempat membuat Haidar melarang Jambri.


" Maaf paman bukan maksud Haidar untuk mencegah paman untuk mendekati Wiyah, Tapi Paman biarkan Wiyah berhenti menangis terlebih dahulu barulah paman mengajak Wiyah untuk berbicara dan ceritakan yang sebenarnya." Ucap Haidar membuat Jambri menghentikan langkahnya. Jambri melihat ke arah Haidar.


" Paman akan keluar, nanti setelah Wiyah tenang sedikit barulah Paman masuk kembali." Ucap Jambri membuat Haidar merasa tidak enak.


" Maaf paman bukan maksud Haidar untuk mengusir paman ta_" Ucap Haidar di potong Jambri.


" Paman tahu Haidar, maka dari itu paman ingin keluar." potong Jambri." Paman akan tunggu di ruang keluarga, nanti jika Wiyah sudah mendingan paman akan masuk kembali." Ucap Jambri kembali sambil melangkah keluar dari kamar Wiyah.


kini tinggallah Haidar, Windi dan Wiyah yang berada di dalam kamar itu.


Wiyah masih saja menangis di pelukan Windi yang dari tadi memeluk nya sambil menenangkannya.


" Kak. pantesan ayah atau ibu tidak mengajak Wiyah untuk tinggal barang mereka, Ternyata Wiyah bukanlah anak dari mereka. Hiks..hiks." Ucap Wiyah yang masih mengingat tiga tahun yang lalu saat kedua orang tuanya menolaknya untuk ikut di salah satu dari mereka." Wiyah sekarang baru sadar kenapa mereka tidak pernah menanyakan kabar Wiyah atau menjenguk Wiyah, Ternyata ini alasannya. alsannya itu karena Wiyah bukanlah anak dari ayah." Curhat Wiyah di sela sela tangisannya.


Windi dan Haidar saling memandang karena mereka sama sama terluka melihat Wiyah yang menangis.


Bersambung.


Jangan nangis Wiyah, Author ngga tega bacanya.


Banyak typo yang bertebaran.


harap bijak dalam membaca

__ADS_1


Sebelum lanjut, kasih Vote, Like, Komen dan Hadiahnya, biar author makin semangat buat up.


__ADS_2